Zum Hauptinhalt springen

Iknidimi Oases

Lake Como, Italia

Vanlife

​"The purpose of life is to live it, to taste experience to the utmost, to reach out eagerly and without fear for newer and richer experience" [Eleanor Roosevelt]



Mengapa Vanlife?

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Aku dilahirkan di keluarga katholik yang sangat konservatif. Keluarga besar papaku berusaha menanamkan nilai-nilai dan norma yang menurut mereka juga harus ditanamkan pada kami anak-anaknya. Salah satu contoh yang bisa aku berikan di sini bahwa perempuan tidak perlu memiliki pendidikan tinggi karena pada akhirnya tugas perempuan adalah mengurus dapur, keluarga dan “tempat tidur”. Aku juga bisa merasakan perbedaan perlakuan mereka pada saudara laki-laki dan perempuan di keluarga besar kami termasuk perlakuan istimewa yang diterima oleh dua adik laki-lakiku. Dulu aku sering bertanya pada diriku sendiri, “Ada yang salah pada diriku? Apa kekuranganku sehingga aku seperti tidak berarti bagi mereka dan mengapa dianggap rendah, selalu dibanding-bandingkan dengan saudara laki-laki, bukan seperti seorang individu?”. Sejak kecil aku juga merasakan ketidakadilan perlakuan mereka terhadap mamaku yang tumbuh tanpa orang tua. Mengapa? Karena bukan menantu perempuan yang sesuai dengan keinginan mereka? Tidak ada bibit, bebet dan bobot?

Aku berterimakasih pada mama-papaku, terlebih pada mamaku yang memberikan kesempatan padaku untuk bisa menimba ilmu lebih tinggi, walaupun sebagai anak perempuan aku tetap tidak pernah punya kesempatan untuk bisa memiliki kegiatan atau aktivitas di luar rumah. Namun itu tidak membuatku menjadi kecil karena bersama dua adik laki-lakiku aku bisa membuat rumah kami menjadi tempat bermain. Dengan imajinasi aku bisa menciptakan hutan, pantai, laut dan gunung. Dengan imajinasi aku bisa menjadi siapa saja dan berada dimana saja, di alam luas, dimana aku merasakan kebebasan yang hakiki. 

Memasuki masa remaja dan usia dewasa aku semakin merasakan keinginan untuk menjadi individu yang bebas, yang bisa mengekspresikan perasaanku dan mewujudkan keinginanku sebagai mahluk perempuan. Aku sangat berterimakasih kepada Tuhan pernah merasakan sakit hati berulang kali dikecewakan teman laki-laki karena ternyata Tuhan ingin menunjukkan bahwa memang bukan merekalah teman hidupku yang sejati. Tuhan memberikan sosok teman hidup yang aku dambakan sejak kecil, yang mencintai aku apa adanya dengan segala kekuranganku. Dirk menunjukkan kelebihan-kelebihan yang aku miliki, memberikan kesempatan padaku untuk berkembang menjadi lebih baik lagi, membimbing dan mendukung semua langkah yang aku ambil agar tidak berhenti di jalan dan sampai ke titik tujuan yang aku mau. Aku menemukan laki-laki yang menghargaiku, menghormatiku, memperlakukan aku sebagai individu yang bernilai. Dengannya aku merasa sempurna. 

Puji Tuhan kami diberkati dan dikaruniai dua putri yang cantik dan lembut. Mereka kami didik agar mandiri dan kreatif, mengenali bakat dan kemampuan mereka supaya nantinya mampu menyelesaikan tugas-tugas dan masalah-masalah yang mereka hadapi. Kami minta mereka bertanggung jawab atas semua perbuatan, keputusan dan jalan yang mereka ambil. Beberapa life quotes yang setia menjadi pendamping selama mengarungi perjalanan hidupku ini sudah aku perkenalkan pada putri-putriku dengan harapan agar mereka juga ikut termotivasi dan terbantu jika memiliki masalah-masalah kecil atau besar. Kalimat seperti misalnya “Ada seribu jalan menuju ke Roma” aku pilih dengan tujuan agar aku tidak menyerah dan jika pada akhirnya gagalpun harus berani mencari jalan lain karena jalan tidak pernah hanya ada satu arah. Aku juga yakin dimanapun dan dalam situasi apapun kita bisa memulai dari awal lagi. “Jika kamu melihat pintu, jangan hanya pandangi pintu itu, tapi ketuklah dan masuklah”. Kalimat inilah yang mendorong keinginanku untuk mencari tahu apa yang ada dibalik pintu. Mungkin saja ada sesuatu yang menarik yang bisa memberikan kesempatan bagiku untuk lebih berkembang ke arah yang lebih baik dan jika tidak, masih ada pintu-pintu lain yang bisa aku lihat. Demikian juga dengan kalimat “Jika kamu memiliki masalah, bicarakanlah karena dengan berbicara kamu bisa mengurangi bebanmu sebesar 50%” dan yang terakhir yang bisa aku bagikan di paragraf ini adalah “Jika kamu tidak bisa menyelesaikan masalahmu sendiri maka mintalah bantuan pada ahlinya”. Kalimat yang terakhir ini menurutku sebenarnya sangat penting untuk berjaga-jaga jika aku merasa “down” dan merasa tidak bisa melangkah lagi karena dari mataku tidak ada jalan lain. Lalu apa yang bisa aku lakukan selanjutnya adalah mencari informasi, membiarkan para ahli membantu aku untuk membuka jalanku. Mungkin ada beberapa ide dan persepsi baru yang bisa aku pelajari dan pakai untuk merubah jalan buntu menjadi jalan baru. 

Seiring dengan bertambahnya umur pernikahan kami, aku bersyukur karena banyak menemukan kesamaan nilai dan pandangan hidup pada Dirk, suamiku. Aktivitas dan kegiatan yang kami lakukan selain bekerja adalah berkebun dan camping. Beberapa tahun terakhir ini kami berdua juga memilki hobby baru yang sama yaitu bouldering, climbing dan fitness. Berawal dari melihat kegiatan panjat tebing Dirk dengan teman-temannya, aku yang sebenarnya hanya menyukai Yoga dan takut akan ketinggian, akhirnya tertarik untuk mendalami olah raga jenis ini dan berhasil mengatasi ketakutan itu melalui kegiatan bouldering dan top rope climbing. Agar memiliki kekuatan otot tangan dan kaki untuk memanjat, kami menambah kegiatan olah raga gym dan mengikuti kelas-kelas cardio di sebuah klub fitness. Kegiatan ini menurutku sangat penting agar tubuh yang mulai menua ini bisa tetap aktif dan menjalankan fungsinya dengan baik.

Aktivitas Camping di alam bebas yang sering kami lakukan sejak kedua putri kami masih sangat kecil hingga dewasa adalah kegiatan favorit kami. Hampir setiap liburan semester kami gunakan untuk camping di luar kota Berlin. Dengan hanya mengendarai mobil keluarga, Volkswagen Touran, yang penuh dengan tenda dan alat-alat camping di bagasi, kami bermalam di alam bebas dekat pantai, pinggir danau dan pegunungan di Jerman. Danau Balaton di negara Hungaria adalah lokasi camping terjauh yang pernah kami kunjungi. Memasang tenda dan merakit semua alat camping yang digunakan merupakan kegiatan yang cukup melelahkan dan lumayan stress apalagi setelah mengendarai mobil berjam-jam dan ini harus dilakukan sebelum gelap. Tanpa bantuan ke dua putri kami pekerjaan tersebut akan memakan waktu lebih lama. Mereka berdua sudah terlatih sejak kecil sehingga semuanya menjadi lebih ringan dan cepat. Jika tenda telah berdiri, sleeping pad dan sleeping bag serta semua barang dan peralatan camping berada ditempatnya perasaan menjadi lega dan bahagia, rasa lelah dan stress terobati, keinginan untuk duduk santai sambil minum teh atau kopi dan menikmati betapa indahnya berada di alam terbukapun menjadi moment yang tidak bisa dilupakan.


Upload: 8 Maret 2025


Pensiun Dini?

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Sore ini aku duduk sendiri di kebun belakang setelah pulang kerja. Dirk masih dalam perjalanan pulang. Layar laptop dipangkuanku memperlihatkan Kanal YouTube tentang tempat-tempat camping di berbagai negara di Eropa. Usiaku sudah mendekati lima puluh tahun sedangkan Dirk beberapa tahun di atasku. Ke dua putri kami yang kini sudah dewasa dan mandiri memiliki kesibukan dan aktivitas masing-masing sehingga aku dan Dirk lebih sering berdua. Dulu kami berkeinginan untuk pensiun dini, keinginan ini sudah menjadi duri dalam daging sehingga kami merencanakan semuanya dengan baik.

“Kapan ini akan terwujud?”, bisikku.

“Apa yang akan terwujud?” tiba-tiba terdengar suara Dirk dari belakang. Aku menengok dan tersenyum.

“Pensiun dini” jawabku.

“Kalau kamu mau, kita bisa besok pensiun dini”, sahut Dirk sambil mengedipkan matanya.

“Ah kamu, senangnya bercanda”, kataku sambil memandang laptopku lagi.

“Kamu sedang lihat apa?”, tanyanya.

“Tempat-tempat camping di Eropa” jawabku sambil masih menatap layar laptop. “Aku rindu berada di alam terbuka, camping..., tapi kita semakin tua”, kataku dengan suara makin melemah.

“Ah tidak terlalu tua! Tapi seandainya sudah tuapun kita masih bisa camping”, jawabnya penuh semangat. “Kamu ingat waktu kita camping dengan keponakanmu, Ella yang datang dari Indonesia?”, katanya lagi. “Kita bertemu dengan dua orang tua yang camping di sana, mereka tidak tidur di tenda melainkan di mobil camper?”, lanjutnya.

Aku teringat lagi. Saat itu kami berkenalan dengan pasangan yang sudah berumur di Camp Bahra, di pegunungan Sächsische Schweiz. Mereka banyak bercerita tentang petualangan mereka menyusuri kota-kota tua di Eropa dengan mobil camper mereka. Usia dan badan yang tua tidak menjadi hambatan bagi mereka untuk berpetualangan. Bagi mereka mobil camper mempermudah segalanya karena mereka tidak harus membangun tenda, tidur tidak lagi di atas matras di atas tanah, tidak perlu membawa banyak barang dan peralatan camping kecuali pakaian, alat mandi dan bahan makanan karena semua sudah diinstalasi di mobil itu. Dulu aku pikir bahwa camping dengan mobil camper hanya untuk orang-orang yang manja saja dan menurut aku itu bukanlah “a real camp”. Kini setelah sadar bahwa dengan bertambahnya usia akan ada beberapa keterbatasan yang terjadi pada diriku dan keinginan untuk berada di alam terbuka masih menggebu maka pemikiranku terhadap mobil camper seketika berubah. 

“Pensiun dini dan beli camper?” kataku tiba-tiba. Hmm... Apakah yang baru saja keluar dari bibirku merupakan sebuah pertanyaan atau pernyataan?

“Willst Du wirklich ja?” tanya Dirk dengan mata berbinar-binar, menanyakan apakah aku benar-benar mau dan serius.

“Iya, ya aku mau”, jawabku penuh semangat. “Kita sudah siapkan jika waktunya datang kan? Sekaranglah waktunya! Sebelum terlambat!”, lanjutku sambil memegang lengannya dengan kedua tanganku. Mataku mencari jawaban kepastian di matanya.

“Na gut, dann machen wir!”, sahutnya, setuju untuk mewujudkan impian kami berdua secepatnya.

Ia berdiri dan pergi menuju ke dalam bungalow. Aku menutup laptop, meletakkannya di atas meja dan berjalan menuju ke keran air untuk menyalakannya. Selang yang sudah terpasang di mulut keran mulai berdesis mengalirkan airnya, sedetik kemudian terdengar suara air membasahi bunga-bunga dan sayuran yang aku tanam di bedeng-bedeng. Aku berjalan ke arah tong air hujan, mengambil tempat penyiram dan mengisinya dengan air hujan yang tertampung di sana lalu berjalan menuju ke green house mini kami. Pintu green house aku geser ke samping, kaki kanan kuangkat lebih tinggi dari biasanya dan melangkah dengan perlahan supaya tidak tersandung reel aluminium. Sambil mengamati tanaman sayur hasil semaianku, melihat apakah ada serangga-serangga pengganggu disetiap daun-daun muda yang tumbuh di sana dan mencabut tanaman liar yang tumbuh disela-sela lalu aku menyiraminya dengan sangat hati-hati agar tidak terlalu basah dan becek. Hobi berkebun tumbuh ketika aku mulai merasakan kelelahan fisik dan psikis dengan pekerjaanku sebagai educator, counselor dan psychomotoric terapist. Aku butuh kegiatan yang bisa menghilangkan stress setelah bekerja fulltime di sana. Selain Bouldering, Yoga dan Workout, pilihan berkebun menurutku tepat karena aku suka sekali berada di alam luar yang bisa menghilangkan kepenatan dan mendapatkan kekuatan baru. Setelah aku selesai menyiram dan keluar dari green house, aku melihat Dirk sudah duduk di bangku dengan laptop dihadapannya. Aku meletakkan tempat penyiram di dekat tong air hujan dan berjalan menuju gudang mengambil ember berisi alat-alat serta kaos tangan ekstra untuk berkebun. Setelah mengenakan kaos tangan tersebut aku melangkah menuju ke bedeng-bedeng yang belum dibasahi oleh air. Bagian-bagian yang belum aku bersihkan kemarin akan aku lanjutkan hari ini. Aku berjongkok dan mulai mencabuti tanaman-tanaman liar yang tumbuh di sana dengan akar-akarnya dan meletakkannya di antara tanaman sayur supaya tanah tetap lembab dan berubah menjadi humus. Sebagian aku kumpulkan di ember karena nanti akan kujadikan kompos. Setelah selesai membersihkan tanaman liar aku memindahkan selang penyemprot air ke bedeng-bedeng yang baru saja aku bersihkan. Ember berisi alat-alat kebun yang tadi digunakan aku bersihkan dan kembalikan ke gudang lalu mengambil keranjang panen. Malam ini aku berencana akan memasak makanan ala itali. Kedua putri kami akan mengunjungi kami dan tidur di kebun malam ini, seperti biasanya jika mereka tidak ada acara di akhir pekan. Hari minggu petang mereka kembali ke apartemen karena Senin harus kembali bekerja dan kuliah. Bahan-bahan yang aku perlukan untuk memasak spirelli arabiata dan salat masih ada dan yang aku perlukan dari kebun hanyalah, tomat cherry, daun-daun salat dan herbs yang aku tanam sendiri. Bagiku ini merupakan kebahagiaan tersendiri bisa memetik sayur-sayuran dan buah-buahan dari kebun sendiri karena bebas dari pestisida dan bahan-bahan kimia lainnya. Aku selalu berusaha untuk mengurangi daging, fast food, makanan kaleng atau hasil produksi pabrik, sebisa mungkin mencari bahan-bahan makanan yang segar dan memasaknya sendiri karena ada beberapa bumbu seperti misalnya MSG atau bahan makanan lain yang tidak bisa aku makan berhubung aku adalah penderita migren dan arthrose. Beberapa bahan makanan yang baik bagiku antara lain adalah salat, terutama yang berwarna hijau karena mengandung Beta-Carotin, sayuran kol karena mengandung vitamin C, wortel yang dimasak atau dikukus, bawang-bawangan karena mengandung zat yang bisa mengurangi rasa nyeri di sendi-sendi tulang, jamur, buah beri-berian, herbs, gandum, kentang, produk susu tanpa laktose dan sedikit lemak, jenis ikan air dingin seperti misalnya, salmon, haring, kembung, sarden, trout, kod, pecak dan sup tulang atau tulang rawan. 


Upload: 16 Maret 2025


Mini Camper

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

“Halo November kelabu”, bisikku di balkon kamar tamu apartemen kami. Dirk dan aku tidak lagi tinggal di bungalow musim panas kami. Kami pindah ke apartemen jika sayuran dan buah-buahan sudah tidak bisa dipanen lagi karena cuaca mulai dingin. Kini garden season sudah berlalu, daun-daun sudah berguguran, matahari jarang menampakkan wajah riangnya lagi dan dinginnya udara terasa dikulitku. Tanaman-tanaman yang tumbuh di balkon sudah sebagian aku masukkan di kamar tamu, sebagian lagi masih aku biarkan tumbuh di balkon karena mereka tahan dingin. Aku melangkah masuk dan menutup pintu, disekelilingku terlihat banyak tanaman hias yang tersebar di setiap pojok kamar tamu. Tidak hanya di kamar tamu saja tapi hampir di setiap kamar, termasuk dapur yang khusus kuhiasi dengan tanaman herbs yang berguna untuk keperluan masak dan mengharumkan ruangan. 

“Du und deine Babies” terdengar suara Dirk dari belakang, mengejek bercanda mengatakan aku dan bayi-bayiku. Aku yang sedang memegang botol air penyemprot tanaman menengok ke arahnya, tersenyum dan melihat ia sedang membawa laptop. “Siap menentukan camper apa yang mau kita beli?” katanya lagi sambil menunjukkan jarinya ke laptop. Aku terkejut dan membuka mataku lebar-lebar,

“Iya” jawabku sambil meletakkan botol penyemprot di atas meja dan menghampirinya.

Dirk meletakkan laptop di atas meja, menyalakan televisi lalu mencari pilihan kanal YouTube di sana dan mengetik kata “camper”. Di layar muncul beberapa video gambar tentang macam-macam model camper bus, tapi kami tidak begitu menyukainya karena kami masih ingin memiliki feeling tidur di dalam tenda. Setelah melihat beberapa video camper model pop-up roof, pilihan kami jatuh pada Toyota Crosscamp. Dirk menelpon perusahaan manufaktur Crosscamp yang ada di kota Wittlich daerah Rheinland-Pfalz Jerman dan memesan satu unit camper model tersebut dengan warna mobil dan aksesoris yang yang kami inginkan. Melalui email kami menerima Surat Pemesanan Kendaraan. 


Upload: 31 Maret 2025


Jemput “CC”

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Tahun berganti dan kami memasuki musim semi. 19 Maret 2021 itulah jadwal untuk menjemput “CC”, camper kami. Iya, saat aku upload jurnal petualangan ini kami sebenarnya sudah menikmati kehidupan Vanlife. Mengapa harus diberi nama dan mengapa “CC”? Kedua putri kami memberikan nama tersebut karena “CC” akan mendampingi petualangan hidup kami selanjutnya dan menjadi bagian dari keluarga, “adik perempuan” kata mereka. Jadi panggil saja “Sissy” atau “CC”! Pas dengan singkatan dari Crosscamp, bukan? Bagi kebanyakan orang mungkin mobil camper hanyalah sebuah benda mati tapi bagi kami? “CC” hidup dengan mesin motornya. Dengan memberikan nama, kami merasa seperti memiliki hubungan timbal balik. Kami akan merawatnya dan “CC” akan berterimakasih dengan cara mengantar kami ke manapun dengan aman, atau sebaliknya “CC” mengantar ke manapun kami mau dan sebagai rasa terimakasih kami akan merawatnya dengan baik. 

Aku dan Dirk mengambil cuti satu hari sebelum weekend datang, tepatnya pada hari Jumat karena rencana kami adalah selain menjemput “CC”, akan bermalam di beberapa kota yang belum pernah kami kunjungi sambil menuju perjalanan pulang ke Berlin. Dengan membawa dua tas backpack berisi pakaian dan alat-alat makan kami berangkat pagi-pagi sekali dengan kereta cepat ICE dari Berlin dan transit di kota Cologne, Koblenz hingga ke tujuan akhir di Wittlich. 

Perjalanan panjang yang menyenangkan karena kami akan bertemu dengan “CC”, berkenalan dan membawanya pulang. Setelah sampai di kota Wittlich kami dijemput oleh pegawai Manufaktur dan langsung menuju ke pabrik tersebut. Setelah pegawai itu menunjukkan di mana “CC” berada. Aku tersenyum mendekati “CC” yang berdiri dengan anggun di sana dan menyapanya dengan usapan lembut dibagian hidungnya,

“Hei... CC, salam kenal” bisikku.

Tipe Crosscamp yang kami beli memiliki satu lemari pakaian dengan dua rak, lemari penyimpan peralatan masak dan makan, lemari penyimpan bahan makanan kering, kulkas mini, basin untuk mencuci piring dengan tempat penyimpan air bersih dan kotor dan kompor gas dengan dua tungku. Di bagian bagasi kursi-kursinya bisa dirubah menjadi tempat tidur jika cuaca atau kondisi tidak memungkinkan untuk tidur di pop-up roof dan dibawah kursi-kursi tersebut masih ada tempat untuk menyimpan toilet portable dan box penyimpan barang lainnya. Kami menyaksikan bagaimana mereka mendemonstrasikan kemampuan “CC” persis seperti yang kami lihat di video YouTube. Dirk dan aku memperhatikan dengan cermat dan mencoba semua yang baru saja didemonstrasikan. Ada perasaan puas dan bahagia terselubung di hati ketika melihat Dirk menandatangani Surat Penerimaan Unit, menerima kunci mobil dan Surat Tanda Nomor Kendaraan serta mendapat buku tebal pedoman Crosscamp. 

Ketika suamiku mengisi air di tempat penyimpanan air yang sudah diinstalasi di sana, aku membuka tas backpack yang kami bawa dan mulai mengatur pakaian ke dalam lemari pakaian serta meletakkan peralatan masak dan makan di tempatnya. Dirk mengajakku untuk melihat dan membeli beberapa peralatan tambahan camping di Crosscamp shop seperti misalnya ember untuk mencuci baju, tempat untuk meletakkan peralatan masak atau makan yang basah setelah dicuci dan toilet camping portable, lalu kami kembali menuju ke tempat “CC” berada. Aku melihat Dirk mengusap daun pintu mobil,

“Hei CC, das hier wird unser erstes Abenteuer mit dir sein. Lass uns beginnen, sei immer nett und lieb zu uns, bringt uns sicher wohin wir auch wollen”.

Ya benar, petualangan pertama dengan “CC” akan dimulai dan memintanya agar selalu “baik dan sayang” pada kami, mengantar ke tempat tujuan yang kami inginkan dengan aman, ke manapun juga. Aku tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari bibir suamiku. Sambil membuka pintu bagasi dan meletakkan barang-barang yang baru saja kami beli aku menyahut,

“Okay CC, dengar kata-kata papa ya”.

Dirk tertawa mendengar ucapanku. Setelah selesai menata barang dan kami berdua masuk ke mobil, suamiku memegang kunci camper di tangan kanannya dan tangan kiri memegang setir lalu menyalakan mesinnya. “CC” memperdengarkan suaranya yang lembut dan lampu dashboard menyala seakan-akan ia membuka matanya, 

“Hei CC” kataku sambil melihat meteran bertuliskan 0 “nol” di display.

Dirk mengambil foto display dashboard dengan handphonenya untuk kenangan. Petualangan kami dengan “CC” berawal dengan angka “0” jadi mari kita lihat sejauh mana ia akan berhasil membawa kami pergi. Suamiku menginjakkan kaki kirinya di atas pedal kopling dan tangan kanannya mengoper gigi satu. Kaki kirinya melepas pedal kopling dan kaki kanannya menginjak pedal gas, dengan perlahan “CC” keluar dari pabrik manufaktur menuju ke gerbang lalu ke jalan raya. Aku dan suamiku sepakat untuk membeli bahan makan yang akan kami masak dan makan selama tiga hari ini. Kami menuju ke Supermarket terdekat dan mencari bahan-bahan makanan dan bumbu dapur yang mudah untuk dimasak di dalam camper kami. 


Upload: 7 April 2025


mosel


Mosel, Germany

Perjalanan pertama “CC”

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Tujuan utama kami adalah membawa “CC” pulang ke Berlin melalui beberapa kota dan bermalam di sana. Dengan menggunakan aplikasi “Park for Night” yang kami download sejak sebulan yang lalu, kami mendapat kemudahan dalam memilih tempat bermalam sesuai dengan route perjalanan kami. Di aplikasi tersebut terdapat pilihan bermalam di taman, perkebunan, perkemahan atau tempat parkir lainnya, informasi tentang situasi, kondisi dan keamanan lokasi, biaya dan akomodasi seperti toilet, kamar mandi dan tempat cuci, demikian juga restoran, toko dan supermarket terdekat tertulis di sana. Semua pengguna aplikasi tersebut bisa menambahkan gambar, informasi dan keterangan serta pengalaman terbaru mereka selama bermalam di sana. 

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore lebih ketika kami selesai belanja dan memulai perjalanan. Karena hari sudah mulai gelap suamiku ingin bermalam di pinggir sungai Mosel dan membuka app “Park for Night” lalu mengetik tujuan “Mosel” di sana. Beberapa lokasi terlihat di layar dash board dan kami memilih untuk spontan berhenti di lokasi yang kami temukan di kota Minheim nanti. Dari kota Wittlich kami masuk ke jalan tol, setengah jam kemudian lalu keluar menuju kota Klausen, Piesport dan lanjut menyusuri sungai Mosel. Ketika hari semakin gelap dan memasuki kota Minheim, tidak jauh dari sungai Mosel kami menemukan tempat yang dituju, sayangnya di lokasi tersebut sudah ada dua camper yang bermalam di sana. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan mencari lokasi bermalam yang lebih sepi tapi tidak jauh dari sana. Ketika kami melihat lokasi park for night yang kosong, suamiku menyetir “CC” keluar dari jalan raya dan memastikan bahwa ke empat rodanya berada di dataran yang rata agar posisi tidur kami nanti tidak terlalu miring ke satu arah. Ia mematikan mesin dan aku melepas sabuk pengaman, membuka pintu lalu turun. “Gelap gulita”, kataku sambil memandang langit dan berjalan ke arah cahaya yang terpancar dari kota kecil yang terletak beberapa kilometer dibawah sana. Ya, di sekitar kami tidak ada lampu yang menyala kecuali lampu dari camper kami. Aku menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara sejuk yang ditawarkan alam, membalikkan badan dan melihat atap “CC” sudah terbuka. Dalam jarak beberapa meter dari “CC” aku bisa melihat suamiku sedang memutar kursi yang aku duduki tadi dan kini berhadapan dengan kursi-kursi yang lain. Saat berdiri dua kakinya yang panjang hanya terlihat dari pinggang sampai ke lutut. Aku tersenyum dan mengambil handphone dari dalam saku lalu menekan gambar film. Aku mulai menyimpan moment ini dalam bentuk video sambil berjalan ke arah “CC”. 

“Seperti lihat ikan di dalam aquarium” kataku tertawa menatapnya dari luar jendela. Ia menatapku bingung. “Kalau jendela-jendela tidak ditutupi”, lanjutku lagi sambil mengedipkan mata. 

“Hm.. aku memang ikan”, sambut suamiku mengedipkan matanya juga dan mengingatkan aku pada zodiaknya. “Ok. Aku akan tutupi jendela-jendela dan kita siapkan makan malam? Aku lapar sekali”, katanya lagi sambil memegang perutnya. Ah ya! Sejak di Wittlich kami belum makan apapun dan karena sudah malam serta lelah aku memutuskan untuk hanya menyiapkan makan malam yang ringan dan cepat. 

“Kita makan roti saja malam ini ya. Bisa tolong pasang meja?,” kataku. Suamiku mengangguk dan keluar dari camper. Ketika ia membuka pintu belakang aku naik lalu berlutut di antara dua kursi dan memperhatikan suamiku mengeluarkan papan meja lipat dari bawah bagasi lalu aku membuka lemari penyimpan makanan kering dan mengambil plastik berisi roti gandum. Dari dalam kulkas aku mengeluarkan keju mozarella, butter, daging asap, keju dan dari dalam box plastik penyimpan sayur dan buah aku mengeluarkan dua buah tomat. Semua aku letakkan di atas kaca penutup kompor gas dan zink, sangat praktis karena bisa dijadikan meja kerja jika kami tidak sedang memasak atau mencuci piring. Setelah suamiku memasang meja makan, aku membuka lemari penyimpan peralatan masak dan makan lalu mengeluarkan dua piring kecil serta papan talenan. Dari laci kiri aku mengeluarkan sebuah pisau tajam untuk memotong keju mozarella dan tomat serta dua pisau makan untuk mengoles butter. Dari laci kanan aku mengeluarkan botol lada dan garam lalu mulai mengaturnya di atas meja. Laci-laci tersebut diinstalasi dibawah kompor gas dan zink atau basin. 

“Aku mau masak air dan membuat teh, kamu mau minum teh juga?”, tanya suamiku yang sedang menunggu di luar. Aluminum folie yang didesign khusus untuk menutupi jendela-jendela sudah terpasang kecuali jendela yang berada tepat di atas kompor gas. Aku mengangguk dan pindah duduk karena dari tempatku tadi lebih mudah untuk mengambil peralatan dan memasak jika meja makan sudah dipasang. Ketika suamiku membuat teh, aku mengiris tomat dan mozarella, mengaturnya di atas talenan dan menyebarkan lada dan garam halus di atasnya. Sambil mengobrol kami menyantap makanan dengan lahap karena sejak siang belum makan. Obrolan kami lebih berfokus pada ungkapan perasaan bahagia karena telah memiliki “CC” dan bagaimana rencana perjalanan crosscamp kami selanjutnya. Setelah selesai makan malam aku meletakkan alat-alat makan yang kotor di basin lalu mencucinya. Dirk mengambil lap yang sudah basah, membersihkan meja dengan lap itu, melipat dan mengembalikan meja ke bagasi lalu mengambil smartphone dan membuka route perjalanan menuju ke Berlin. Kota tua yang akan kami singgahi tidak boleh jauh dari route perjalanan pulang kami dan pilihan kami jatuh pada kota tua Trier. Berhubung sudah mengantuk dan besok ingin mengeksplor kota tua Trier maka kami memutuskan untuk pergi tidur. Setelah kami selesai menyikat gigi dan mencuci muka, Dirk mengambil sleeping bag dan bantal yang masih terlipat di dalam bagpack kami. Oh ya bantal camping kami bukanlah bantal yang biasa dipakai di tempat tidur. Untuk menggunakannya kami harus meniup, mengisi udara sesuai dengan keinginan. Dirk lebih menyukai bantal yang tinggi dan keras, sementara bantalku tidak boleh melebihi tinggi kepala supaya keesokan harinya tidak memilik masalah di bagian leher atau kepala. Iya sakit leher dan kepala bisa disebabkan karena “salah bantal”. Setelah atap tempat tidur diturunkan dan Dirk menata sleeping bag dan bantal di sana, aku mengoleskan krim retinol di bawah mata, wajah, leher dan menyusul Dirk ke tempat tidur. 

Malam pertama bersama “CC” adalah pengalaman yang luar biasa. Aku tidak menyangka bisa tidur nyenyak tapi terbangun saat mendengar suara klakson mobil yang lewat di jalan. Beberapa detik lamanya klakson berbunyi nyaring cukup membuatku terkejut dan berpikir apakah ada masalah karena kami parkir dan tidur di pinggir jalan. Menurut peraturan lalu lintas di Jerman, bagi siapapun yang masih dalam perjalanan dan mengendarai mobil hingga malam, mereka berhak untuk beristirahat, berhenti dan menginap di tempat parkir. Jendela kubuka untuk melihat apa yang terjadi di luar, namun tidak terlihat siapa-siapa, tidak ada polisi atau mobil lain terlihat di sekitar, jadi mungkin hanya orang iseng saja. Apa kira-kira yang ada dikepalanya saat membunyikan klason selama beberapa detik itu? Apakah ada yang mengganggu kelancaran perjalanannya atau hanya iseng, melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas, hanya untuk mengisi waktu luang atau mencari sensasi ringan sehingga mengarah pada tindakan yang mengganggu? Lalu apa yang dirasakan oleh beliau setelah membunyikan klakson selama itu? Apakah ada rasa puas dan bahagia atau justru tumbuh rasa benci yang semakin dalam? Apapun itu, berkat beliau aku tidak kesiangan karena saat mengambil smartphone dan melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Wah, ternyata lama dan nyenyak juga tidurku. Dirk masih lelap tidur di sampingku. Ingin rasanya aku bisa tidur di manapun, kapanpun seperti suamiku, lelap tanpa terganggu oleh suara apapun. 

Aku turun dari tempat tidur dan membuka semua folie penutup jendela. Cahaya matahari masuk seketika dan membuat suasana di dalam camper menjadi lebih hangat. Morning routine aku jalani, sikat gigi, mencuci muka dan leher, menyisir rambut, mengoles krim vitamin c dan sunblock di area bawah mata, wajah dan leher. Lipstick nude aku pilih supaya terlihat alami dan yang terakhir membereskan garis-garis alis mata. Sunblock yang aku gunakan memiliki warna cairan seperti kulitku, sehingga tidak perlu menggunakan fondation, bedak atau lainnya karena aku tidak suka melihat wajahku seperti memakai topeng. Setelah selesai memasukkan pakaian kotor ke ember cucian, aku keluar dari camper. 

Oh bangun tidur dan langsung berada di alam luar, menghirup udara segar dan bersih, menerima kehadiran matahari yang masih malu-malu memberikan cahayanya di sebelah timur, melihat banyak pohon hijau di sekitar bukit, yang juga dipenuhi dengan pohon-pohon anggur yang tumbuh subur di area sungai Mosel yang berliku. Alam memperlihatkan keindahannya dan aku sangat bahagia bisa menikmatinya. Kesaksian ini tidak boleh aku lupakan dan harus menjadi kenangan. Aku kembali berjalan ke arah camper, ketika aku membuka sliding door “CC”, Dirk terbangun dan bertanya, 

“Ika, bist du das?, mungkin suamiku belum tahu kalau aku sudah keluar sejak tadi sehingga bertanya apakah aku yang baru saja masuk. 

“Iya, di luar indah sekali dan aku mau bikin video memories. Bangun dan sarapan?”, tanyaku sambil mengambil smartphoneku dan keluar lagi setelah mendengar jawaban suamiku. Aku menyalakan kamera dan menyimpan suasana dan keindahan sungai Mosel dan alam sekitarnya dalam bentuk video. Ketika aku kembali, suamiku sedang memasang meja dan kamipun mulai mempersiapkan minuman kopi, roti, butter, telur, madu, strawberry jam untuk sarapan kami.


Upload: 26 Juli 2025


Bersambung ke "Crosscamp Trier"


Oh ya... Jika tertarik untuk mengikuti perjalanan vanlife kami selama ini, silahkan lihat di Channel YouTube kami 

https://www.youtube.com/@iknidimi-oases​​​