Zum Hauptinhalt springen

Iknidimi Oases

Depression

"There are wounds that never show on the body that are deeper and more hurtfull than anything that bleeds" [Laurell K. Hamilton]



Penyakit Depresi di Indonesia masih belum umum dibicarakan sehingga jumlah penderita secara epidemiologi sulit untuk diketahui. Di negara Jerman jumlah penderita depresi yang membutuhkan pengobatan antara usia 18 hingga 79 tahun kira-kira 5,3 juta orang dan jumlah wanita lebih banyak dibanding pria [Jacobi F, Höfler M, et al. Erratum zu: Psychische Störungen in der Allgemeinbevölkerung. Studie zur Gesundheit Erwachsener in Deutschland und ihr Zusatsmodul “Psychische Gesudheit” (DEGS1-MH). Der Nervenarzt.2016;87881):88-90].

Depresi masuk ke dalam kategori gangguan suasana hati (mood disorders) dan definisinya tergantung pada tipe episode dan pola gangguan suasana hati yang dihadapi penderita setiap saat. Tipe episode inilah yang bisa membedakan antara depresi dengan gangguan bipolar. Gangguan < bipolar akan aku bahas di artikel terpisah ya.


Apa itu Depresi?

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Suasana hati (affek) yang menurun, sedih, merasa tertekan dan tidak bahagia yang bisa dilihat dari kondisi yang tidak terawat dan sering menangis hampir setiap hari dalam periode dua minggu lamanya atau lebih, disertai dengan hilangnya minat dan daya tarik terhadap hal yang biasanya disukai adalah gejala utama depresi. Gejala yang lain yaitu adanya kesulitan untuk berkonsentrasi dan menyelesaikan tugas, berkurangnya rasa percaya diri hingga tidak bisa menghargai diri sendiri lagi. Demikian juga munculnya rasa bersalah, kekosongan, ketidakadaan harapan, perspektif yang negatif tentang masa depan, timbulnya gangguan makan, tidur dan libido, lambatnya reaksi psikomotrik, berkurangnya energi dan cepat kelelahan hingga munculnya pikiran tentang bunuh diri dan kematian. Ganggunan ini bisa berdampak negatif bagi diri pribadi, keluarga dan hubungan sosial yang akan mengakibatkan terjadinya disfungsi di segala bidang, baik pendidikan, pekerjaan atau di bidang lainnya. Episode depresi kadang diasosiasikan dengan konsumsi alkohol atau stimulan yang lain dan dengan adanya simptom psikologis seperti misalnya gangguan fobia atau somatis lainnya. Yang perlu diperhatikan, penyakit depresi yang dimaksud di sini bukan karena akibat menggunakan zat, obat-obatan atau narkoba, namun demikian penderita harus berhati-hati karena bisa jatuh menjadi konsumen stimulan demi menghilangkan penderitaanya. 

Peristiwa dan masalah yang dialami sepanjang hidup bisa menyebabkan depresi, demikian juga saat usia masih muda. Episode depresi jarang ditemukan pada masa kanak-kanak dan puber, namun setelah melewati masa puber, jumlah wanita yang mengalami episode depresi dua kali lebih banyak dibanding pria. Selain munculnya gejala-gejala yang sudah disebutkan di atas, ada tanda-tanda lain yang ditemukan saat mengalami episode depresi di usia muda. Pada usia kanak-kanak gejala yang diperlihatkan biasanya berbentuk somatis seperti sakit perut dan kepala, rasa takut, mengeluh hingga menangis. Tanda-tanda ini akan tetapi rancu karena kondisi bisa diartikan sebagai reaksi saat frustasi atau bagian dari penyakit gangguan mental, perilaku atau perkembangan saraf lainnya, begitu pula kurangnya konsentrasi bisa diartikan ADHD atau gangguan makan yang diasosiasikan dengan keinginan mereka untuk menjaga berat badan. Menyakiti diri sendiri seperti misalnya memukul kepala dan mencakar di masa kanak-kanak, membakar atau menggores dengan pisau di bagian tubuh tertentu pada masa puber adalah tanda-tanda yang sering ditemui saat episode depresi di usia muda, dan sama seperti orang dewasa, keinginan untuk bunuh diri juga muncul dipikiran mereka. 

[Referensi sindrom depresi diambil dari website ICD-11 WHO]


Diagnosa

Untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar menderita gangguan depresi dan bukan gangguan mental, perilaku atau gangguan perkembangan saraf yang lain, diperlukan adanya diagnosa yang tepat. Screening-Questionary seperti PHQ-9 digunakan saat pemeriksaan pertama oleh dokter jika penderita merasa ada tanda-tanda yang tidak normal pada kondisi mental atau perilakunya. Bila hasil screening positif maka diagnosa klinis adalah langkah selanjutnya yang akan diambil. Rincian eksplorasi yang diperoleh dari penderita sendiri dan dari orang kedua atau ketiga tentang episode depresi akan sangat berguna untuk membuat diagnosa yang tepat. 

Sebelum melakukan diagnosa hal yang perlu diperhatikan juga adalah tentang komponen penggunaan obat-obatan dan penyebab yang berhubungan dengan somatis dan saraf. Untuk itu pemeriksaan yang dilakukan tidak hanya secara psikis saja tetapi juga fisik seperti metabolisme tubuh, endokrin (hypo-/Hyperthyreaose, dll), hormon, rheuma dan saraf otak (Parkinson, MS, dll). Pemeriksaan labor diminta untuk mengetahui kondisi somatis, diagnosa cMRT diperlukan untuk melihat apakah penderita memiliki gangguan saraf otak, EKG untuk mengetahui adanya gangguan ritme jantung dan pemeriksaan QTc-time yang teratur jika nanti memperoleh farmakoterapi seperti misalnya obat antidepresan.


Bunuh Diri

Risiko bunuh diri pada penderita depresi berat sangat tinggi. Statistik di Jerman menunjukkan hingga 15% pasien meninggal karena bunuh diri dan 70% muncul pemikiran untuk bunuh diri saat mengalami episode depresi. Oleh karena itu tema bunuh diri dan kematian sangat penting dibicarakan dengan penderita (secara hati-hati dan dengan empathy yang tinggi), idealnya saat eksplorasi terakhir jika kepercayaan yang diberikan penderita sudah tumbuh. Tujuan pembicaraan yang aktif ini adalah agar penderita terbuka dan mau bekerja sama untuk merubah pikiran dan menjauhi tindakan bunuh diri. Jika indikasi risiko bunuh diri sudah akut dan tidak bisa dihindari lagi maka perawatan di klinik psikiater yang siap siaga mengatasi pasien risiko adalah pilihan yang tepat [Harris EC, Barraclough B. Suicide as an outcome for mental disorders. A meta-analysis. British journal of psychiatry. 1997;170(3):205-28].


Terapi

Terapi yang diberikan tergantung pada stadium penyakit yang diderita. Tujuan utama dari terapi akut adalah full remission, dalam artian meminimalisir atau bahkan menghilangkan gejala depresi agar penderita bisa kembali berfungsi normal di segala bidang. Terapi perawatan ditujukan untuk pencegahan kembalinya episode depresi selama masa perawatan. Terapi profilaksis diberikan untuk menghindari datangnya episode depresi yang baru (kambuh). Keinginan untuk diterapi harus datang dari penderita sendiri, dibantu oleh anggota keluarganya. Proses pengambilan keputusan untuk memperoleh edukasi-psiko tentang gejala, perkembangan, penyebab, intervensi dan terapi serta faktor risiko penyakit depresi dilakukan bersama dengan penderita dan anggota keluarganya. Informasi yang didapat dari self-help group therapy juga akan sangat berguna agar penderita dan keluarga tahu bahwa mereka tidak berjuang sendiri. Jika gejala dan kondisi penderita semakin parah biasanya akan dilanjutkan dengan pemberian psikoterapi dan farmakoterapi. Model Psikoterapi apa yang akan diberikan harus dibicarakan dengan penderita pada saat proses pengambilan keputusan dengan memperhatikan profil manfaat dan risiko individu, preferensi, pengalaman sebelumnya dan faktor lainnya. 


Farmakoterapi

Di jerman pemberian farmakoterapi hanya bisa dilakukan oleh psikiater atau dokter ahli jiwa. Psikolog dan terapis tidak diijinkan untuk memberikan terapi medikasi! Hormon serotonin dan Melatonin merupakan neurotransmitter penting dalam tubuh yang mengatur mood, nafsu makan, tidur dan perilaku sosial. Kurangnya serotonin dan Melatonin bisa menyebabkan antara lain depressi, kesedihan dan gangguan tidur. Medikasi yang bertujuan untuk membantu tubuh memproduksi hormon serotonin, Melatonin dan Antidepressan seperti Venlafaxin, Amitriptylin, Doxepin, atau yang lainnya diberikan saat perawatan dan dosis serta waktu penggunaannya dimonitor dengan teratur. Selain itu pemeriksaan hati, ginjal, darah, kimia otak, EKG dan berat badan juga dilakukan selama menerima farmakoterapi.


Psikoterapi

Prosedur psikoterapi yang diberikan kepada penderita depresi bisa bermacam-macam dari terapi perilaku, psikoanalisa hingga system terapi. Perbedaan ketiga terapi itu akan aku bahas lebih dalam di artikel khusus tentang psikoterapi ya. Dari semua prosedur, terapi perilaku memiliki bukti hasil yang kuat dalam menangani penyakit depresi. 

Semakin berat penyakit depresi yang diderita maka bantuan dalam bentuk medikasi harus dipadukan. Dengan memadukan Psikoterapi dan Farmakoterapi ketika menangani penyakit depresi maka hasil positif penyembuhan akan didapatkan.

[Referensi diambil dari Kupfe DJ. Long-term treatment of depression. J Clin Psychiatry. 1991]


Saat ini inovasi perawatan penderita penyakit depresi baik diagnosa maupun terapi sangat dibutuhkan dan ditunggu. Bila ada informasi terbaru dari Eropa tentang tema ini, akan aku update ya. 


Upload: 7 April 2025

 

lock

Stress

“I am not a product of my circumstances. I am a product of my decisions” [Stephen R. Covey]

 

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Mengapa situasi atau kondisi kita seperti ini? Mengapa kita bisa stres? Siapa yang kita salahkan jika kehidupan kita tidak seperti yang kita inginkan? Bahkan sampai merasa kehilangan “identitas” dan menanyakan siapakah diri kita sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan ini pasti pernah muncul di kepala kita, terutama sejak kita mampu berpikir dan sadar akan keberadaan kita di dunia ini. Mungkin sudah sejak SMA kita bergelut dengan pertanyaan tersebut di atas, saat kita mencari identitas diri dan karena kemudian banyak hal telah terjadi di dalam kehidupan kita. Tekanan yang berat saat sekolah, kuliah dan kerja, adanya kekuatiran dan ketakutan akan sesuatu, tidak memiliki kontrol terhadap situasi yang dihadapi atau diinginkan karena memiliki tanggung jawab yang luar biasa dan menghadapi perubahan yang besar dalam hidup. Atau kondisi buruk karena tidak ada pekerjaan, aktivitas atau tidak adanya perubahan dalam hidup, adanya pengalaman diskriminasi, kekerasan dan pelecehan atau sedang melalui periode ketidakpastian. Beberapa situasi tersebut mungkin bisa menyebabkan kita stres tetapi tidak pada orang lain, atau sebaliknya bisa menyebabkan orang lain stres tetapi tidak pada diri kita. Mengapa bisa berbeda-beda?

 

Pengertian stres menurut Psikologi

Stres merupakan proses yang kompleks yang diaktifkan oleh ancaman fisik atau mental terhadap respon psikologis, fisiologis dan perilaku yang beragam. Tahukah kamu bahwa untuk menghadapi stres kita perlu mengetahui siapa diri kita dan bagaimana diri kita berfungsi? Mengetahui sejarah dan pengalaman hidup kita seperti di mana kita tinggal (lingkungan sekitar), bersama siapa (keluarga inti, patchwork family atau orang lain?), bagaimana kita dididik dan diajarkan oleh orang terdekat (orang tua) untuk mengontrol emosi, cara berkomunikasi dan bertukarpikiran, memahami permasalahan, mencari alternatif penyelesaian dan mengatasi masalah, sebenarnya adalah dasar pengetahuan bagaimana kita berfungsi saat kita menghadapi situasi dan kondisi tertentu [Jung, C.G.: Die Psychologie der Übertragung, in: Praxis der Psychotherapie, GW 16, Walter, Olte 1971].

Faktor-faktor tersebut diataslah yang mempengaruhi perbedaan pola pikir, pengalaman dan pembelajaran, demikian juga tingkat/level bantuan dan cara untuk mengatasi masalah atau krisis baik ringan maupun berat. Ada yang bisa menghadapi situasi atau kondisi tertentu tanpa stres, ada yang bisa mengatasi stres dengan cepat dan ada yang sulit sekali mengatasi stres. Setiap individu pada umumnya mencoba menyelesaikan masalah berdasarkan pengalaman atau kebiasaan yang diajarkan dan kadang masalah yang baru atau lebih berat muncul akibat kita selalu menggunakan strategi yang sama saat menyelesaikan masalah (strategi lama), entah itu tentang masalah pertumbuhan atau perkembangan, masalah permintaan orang tua atau lingkungan sosial dan masalah kehilangan pekerjaan atau orang yang dikasihi. 

Masalah kehidupan tidak saja datang dari luar, masalah bisa menjadi sebuah krisis karena adanya keinginan dari dalam diri kita juga untuk mewujudkan semua kebutuhan dan permintaan (apapun itu) dengan sempurna tanpa melihat pertumbuhan dan perkembangan diri kita sendiri hingga akhirnya mengalami ketakutan akan kehilangan sesuatu atau banyak hal. Krisis terbentuk karena adanya pergolakan dalam diri kita, di mana persepsi (nilai, pandangan) lama yang kita anut dan persepsi baru yang kita dapat saling bertemu dan terjadi perubahan atau penggantian persepsi lama dengan persepsi baru. Proses pergantian atau perubahan nilai yang dianut menyebabkan rasa takut dan mengacu pada situasi yang sulit, menjadi sebuah krisis karena adanya ketidakpastian, ketidakstabilan, tidak adanya keputusan atau solusi yang diambil hingga berakibat membahayakan kesehatan mental dan fisik individu (psikosomatis) [Asper, K.: Verlassenheit und Selbstentfremdung, Walter, Olten 1987]. Untuk menyelesaikan masalah atau krisis kehidupan, kita harus memahami permasalahan dan sejarah perkembangan masalah tersebut.

Salah satu self-help quotes dari Stephen R. Covey yang menyebutkan “I am not a product of my circumstances. I am a product of my decisions” sering digunakan untuk memotivasi penderita gangguan mental sebagai panduan terapi humanistik. Kalimat ini ditujukan bagi kita yang ingin keluar dari krisis dan melakukan perubahan kecil atau besar. Mari kita tengok bersama! Benarkah bahwa kita sebenarnya bukanlah produk dari “keadaan yang membuat kita seperti saat ini” melainkan produk dari semua keputusan yang kita ambil? Pernahkan kita berfikir bahwa situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi saat ini sebenarnya akibat dari pola pikir yang kita miliki dan akibat dari keputusan atau tindakan yang kita ambil? Bila kita menyerahkan keputusan tentang hal apapun itu kepada orang lain, bukankah juga berarti kita telah memutuskan agar orang lain menentukan arah hidup dan masalah kita? Dengan demikian situasi dan kondisi yang kita terima pada akhirnya, sebenarnya adalah hasil keputusan kita juga! 

Lalu apa yang kita lakukan jika tidak puas dengan situasi atau kondisi hidup kita? Apakah hanya mengorek-ngorek sebab dan akibat (seperti yang dilakukan pada terapi psikoanalitik)? Apakah hanya menerima nasib, diam dan terkungkung di masa lalu sehingga mengganggu kesehatan? Apakah kita belajar dari pengalaman hidup? Apa yang kita dapat, negatif atau positif? Jika menurut kita positif, mengapa situasi dan kondisi kita tidak baik? Apa yang perlu diperbaiki? Apakah “pembelajaran” hanya didapat dari orang terdekat dan lingkungan sekitar saja? Life is a choice, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita fleksibel dan aktif untuk mencari pengetahuan dari sumber yang lain? Apakah kita mampu memutuskan untuk mengganti pola pikir kita, mengganti persepsi lama dengan yang baru? Apakah kita percaya diri, berani keluar dari situasi dan kondisi yang sedang dihadapi dan menciptakan situasi dan kondisi yang baru dan lebih baik? Hanya jika kita melihat masalah dengan jelas kita kemudian dapat mengganti pola pikiran, emosi atau perilaku masalah yang terlibat. Kita dapat memutuskan dan membuat instruksi untuk diri kita sendiri bagaimana mengubah reaksi kita terhadap situasi atau kondisi yang menantang jika kita melihat dengan jelas siapa diri kita dan dunia sekitar kita. Kita menerima apa yang telah terjadi, merubah pola pikiran, menciptakan situasi dan kondisi baru serta membangun kehidupan yang lebih baik. Namun, kehidupan yang lebih baik macam apa yang kita inginkan? Apakah perubahan yang diinginkan memiliki tujuan khusus seperti keluar dari toxic relationship, mobbing, trauma atau masalah lain? Apakah perubahan yang diinginkan lebih mengarah ke gaya hidup seperti Quiet Life & Slow living Lifestyle? Work-Life-Balance? 

Setiap individu memiliki prioritas, kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda. Stres atau krisis bisa datang spontan tetapi dapat menjadi kronis, menyebabkan gangguan kesehatan mental, fisik, perilaku dan mengakibatkan disfungsi di segala aspek baik privat maupun sosial. Apa yang dipilih dan bagaimana menjalaninya adalah keputusan kita karena pada akhirnya, hasil yang diperoleh akan kembali pada diri kita sendiri juga. 


Upload: 15 Mei 2025