Zum Hauptinhalt springen

Iknidimi Oases

Addicted

“Sometimes the smallest step in the right direction ends up being the biggest step of your life. Tip toe if you must, but take step” [Naeem Callaway]



Fenomena ketergantungan akan zat atau aktivitas tertentu semakin marak saat ini. Banyaknya kasus pengguna Narkoba yang ditangani di beberapa tahun terakhir ini, demikian juga masalah perjudian off/online, bermain game secara off atau online serta persoalan pengguna aktivitas internet yang berlebihan di Indonesia sungguh sangat menguatirkan. Konsekuensi yang merugikan kadang tidak disadari karena bersifat bertahap, kompulsif (di luar kendali) dan mempengaruhi orang secara psikologis, emosional, fisik dan perilaku.


Apa itu Adiksi?

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann 

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah dengan sengaja menggunakan zat tertentu seperti alkohol, narkoba atau nikotin, atau melakukan aktivitas berulang kali seperti bermain game, menggunakan media sosial, berbelanja atau aktivitas lainnya secara berlebihan hingga menyebabkan ketagihan, kehilangan kendali, tidak bisa mengontrol emosi, menelantarkan tugas dan kewajiban, bahkan sampai mengurangi kesadaran kita untuk menjalani kehidupan yang nyata? Bisakah kita menghentikannya? Jika berhenti, berapa lama? Apakah selalu ada perasaan tidak enak badan, gelisah, resah dan ada dorongan yang tak tertahankan untuk kembali menggunakannya atau melakukannya lagi? Apakah kita sampai berbohong, bahkan membuat tindakan negatif atau kriminal agar kita bisa tetap menggunakannya atau melakukannya?


Definisi Kecanduan atau Ketergantungan

Dalam ICD-11 kecanduan dikategorikan sebagai gangguan akibat penggunaan zat dan perilaku adiktif. Gangguan akibat penggunaan zat dan adiksi perilaku ini adalah gangguan mental dan perilaku yang berkembang sebagai akibat dari penggunaan zat psikoaktif yang dominan, termasuk obat-obatan, atau perilaku spesifik yang berulang. 

Gangguan akibat penggunaan Zat merupakan gangguan yang dihasilkan dari adanya satu kesempatan atau penggunaan berulang dari zat yang memiliki sifat psikoaktif, termasuk obat-obatan tertentu, demikian juga kafein (kopi, minuman energi) dan nikotin (rokok, elektrik, patch). Yang membuat adiktif adalah zat yang dapat mengubah fungsi otak dan sistem saraf, menyebabkan perubahan pada persepsi, suasana hati, kesadaran dan perilaku, serta memiliki potensi untuk menimbulkan kecanduan karena efeknya yang dapat memperkuat perilaku atau perasaan tertentu. Biasanya penggunaan awal dari zat-zat ini menghasilkan efek psikoaktif yang menyenangkan (euforia atau relaksasi), mendapatkan efek yang diharapkan dan diperkuat dengan penggunaan berulang sehingga memiliki kapasitas untuk mengakibatkan ketergantungan karena tubuh menjadi terbiasa dan sulit untuk berhenti, memiliki potensi berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental. Gangguan akibat penggunaan non medis yang berbahaya dari zat non-psikoaktif seperti misalnya obat pencahar, hormon pertumbuhan, eritropoietin (EPO, yang sering digunakan oleh para athlet ) dan obat anti-inflamasi non-steroid juga termasuk dalam kategori ini.

Gangguan karena perilaku Adiksi adalah sindrom yang dapat dikenali dan signifikan secara klinis terkait dengan kesulitan atau gangguan fungsi pribadi yang berkembang sebagai akibat dari perilaku berulang sehingga menyebabkan ketergantungan. Kondisi di mana seseorang mengalami kecanduan terhadap aktivitas tertentu yang memberikan kesenangan atau pelarian dari sesuatu, meskipun aktivitas tersebut berdampak negatif pada kehidupannya. Adiksi perilaku yang dimaksud seperti, perjudian dan bermain game secara online maupun offline, gadget, penggunaan internet dan media sosial, pornografi, shopaholic (berbelanja), workaholic (bekerja tanpa peduli waktu dan kesehatan), olah raga atau aktivitas lainnya.


Diagnosa

Pada ketergantungan Zat, diagnosis dapat dibuat jika dua atau lebih dari gejala berikut muncul setidaknya selama 12 bulan, atau jika penggunaan harian terus menerus telah terjadi selama setidaknya tiga bulan. Penderita kehilangan kendali atas jumlah zat yang dikonsumsi. Meningkatnya prioritas yang diberikan pada penggunaan zat di atas aktivitas lainnya. Adanya fitur fisiologis seperti toleransi pada penggunaan zat jika tidak menggunakannya, dalam hal ini penderita membutuhkan jumlah zat yang lebih banyak untuk mendapatkan efek yang diharapkan dan munculnya episode ketagihan putus zat, di mana ada perasaan dan sensasi yang tidak nyaman saat tidak mengkonsumsi zat. Pola berbahaya dari penggunaan zat psikoaktif adalah adanya ketergantungan dan keracunan, adanya beberapa kondisi yang diinduksi zat seperti delirium (bingung, tidak sadar, disorientasi dan mundurnya ingatan, konsentrasi, kemampuan kognitif, hyperaktif atau lethargic), gangguan psikotik (halusinasi), gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, gangguan obsesif kompulsif dan gangguan kontrol impuls. Gangguan tambahan yang disebabkan oleh zat psikoaktif adalah adanya gangguan mental, perilaku dan perkembangan saraf yang berkaitan dengan katatonia (yaitu gangguan kompleks yang ditandai dengan berbagai gejala yang mempengaruhi gerakan, ucapan dan perilaku penyebab seseorang terjaga tetapi tidak responsif terhadap lingkungannya), gangguan amnestik (hilangnya sebagian dari ingatan, lupa) dan demensia (berkurangnya kemampuan kognitif dan adanya perubahan kepribadian) yang diinduksi zat. 

Pada gangguan akibat adiksi perilaku, gejala primer yang ditunjukkan adalah pola perilaku adiksi yang dilakukan terus menerus, di mana individu menunjukkan gangguan kontrol atas perilaku (misalnya onset, frekuensi, intensitas, durasi, penghentian, konteks). Penderita mengalami kesulitan mengontrol, mengurangi dan menghentikan perilaku adiksi, memiliki keinginan yang kuat untuk melakukannnya berulang kali sehingga mengabaikan aspek kehidupan lain hingga mengakibatkan eskalasi perilaku dan konsekuensi negatif (misalnya konflik keluarga, kinerja skolastik yang buruk dan dampak negatif pada kesehatan fisik seperti gangguan pola tidur dan pola makan, perubahan energi menjadi mudah lelah, demikian juga kesehatan mental seperti perubahan gangguan suasana hati yang ekstrim misalnya resah, mudah marah, sedih, sensitif, mood swing, cemas, takut, dll). 

Pola perilaku adiksi mungkin dilakukan oleh penderita terus menerus atau episodik, tetapi dimanifestasikan dalam jangka waktu yang lama (misalnya 12 bulan atau bahkan lebih) dan mengakibatkan kesulitan yang signifikan dalam menjalankan fungsi pribadi, keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan atau bidang fungsi penting lainnya.

[Referensi Addicted diambil dari website ICD-11 WHO]​​​


Intervensi bagi penderita Adiksi

Langkah pertama yang harus dilakukan jika melihat ada tanda-tanda ketergantungan pada hal apapun adalah mencari informasi dan konseling untuk mendapatkan psiko-edukasi tentang Adiksi berikut jenis, penyebab dan cara menanganinya. Untuk penyembuhan penggunaan zat dan perilaku adiktif perlu dilakukan detoksifikasi dengan cara rawat inap atau rawat jalan. Mengikuti komunitas terapi di fasilitas kesehatan atau tempat rehabilitasi yang telah disediakan. Pemberian terapi Psikofarma hanya jika penderita memiliki masalah psikologis yang memerlukan obat. Psikoterapi diberikan untuk menguatkan mental, merubah pola pikir dan perilaku serta pemulihan trauma. Transcranial Magnetic Stimulation atau stimulasi gelombang elektromagnetik di otak dan Neurofeedback juga diberikan untuk melatih gelombang otak yang tidak seimbang. Demikian juga terapi psikomotrik, ergo dan fisio untuk membangun tubuh agar menjadi aktif kembali. Selain dilakukan tindakan intervensi di atas, support system yang merupakan jaringan orang-orang yang mendukung secara mental atau emosional seperti keluarga, teman, mentor, atau profesional lain juga sangat dibutuhkan. Jaringan ini sangat penting untuk membantu kesejahteraan individu dalam menavigasi situasi sulit, mengurangi stres dan kecemasan, terlebih anggota keluarga agar merasa tidak sendirian. Perilaku adiksi selalu menimbulkan eskalasi dan konflik dalam keluarga oleh sebab itu tujuan dalam terapi keluarga adalah untuk memperbaiki komunikasi dan hubungan yang telah rusak agar bisa bersama-sama mencari solusi serta menyelesaikan konflik yang ada. Terapi ini memandang keluarga sebagai satu unit system, satu tim yang bisa saling memahami dan mempengaruhi satu sama lain.

Tujuan dari langkah intervensi di atas adalah mengendalikan perilaku yang menyebabkan adiksi, memperbaiki kualitas hidup agar dapat kembali berkontribusi di segala aspek kehidupan baik privat, sosial maupun profesional.


Upload: 25 Oktober 2025


game

Tidak Bisa Berhenti?

“Not feeling is no replacement for reality. Your problems today are still your problems tomorrow” [Larry Michael Dredla]


Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Oh lagi-lagi, apakah sudah sejam lebih asik di aplikasi permainan, menonton serial favorit sampai tengah malam, sibuk surfing di internet, kerap belanja online, berjam-jam scrolling di media sosial? Besok harus bangun pagi karena sekolah atau bekerja, namun tidak bisa berhenti dan pada akhirnya merasa seakan hidup ini tidak terkendali. Menikmatinya tetapi entah bagaimana ada perasaan tidak enak, merasa bersalah karena sebenarnya ingin menghabiskan waktu ini untuk hal yang berbeda. Mengapa kita tidak bisa berhenti? 

Ketergantungan ada di pikiran setiap orang. Jika ketergantungan diumpamakan sebagai mahluk, maka ia sedang duduk dan mengamati, menunggu kapan kita lemah. 

Salah satu orang tua dari client yang datang untuk berkonsultasi karena ketergantungan menggunakan internet pernah mengatakan bahwa, “ketergantungan rasanya seperti suatu dorongan yang datang dari dalam, mengambil alih pikiran dan tubuhnya, mengontrol dirinya dan menghancurkannya”. Client lain yang memiliki ketergantungan gadget menjelaskan, “ada sesuatu yang menarik di dalam benda-benda itu, memanggil namanya, memecah belah dirinya, mengambil jiwanya dan menertawakan kelemahannya. Ia seperti dikelilingi oleh dinding batu yang tinggi, menahan dirinya untuk bisa keluar dan menutup dirinya dari dunia yang nyata”. 

Kecanduan adalah aktivitas kompulsif dan berulang entah itu dalam artian mengkonsumsi zat tertentu atau dalam hal perilaku tertentu yang memiliki konsekuensi negatif bagi kita dan bagi orang lain yang terkait dengannya. Sementara ketergantungan adalah sindrom yang memanifestasikan individu dengan gejala-gejala yang diperlihatkan secara fisik dan psikis seperti hilangnya batasan dan kendali terhadap aktivitas tersebut. Istilah kecanduan tidak saja merujuk pada perilaku yang berhubungan dengan penggunaan internet dan gadget, tetapi juga zat tertentu misalnya alkohol dan narkoba atau perilaku yang lain seperti perjudian, sex, shopping, dst. 

 

Mengapa kita tidak bisa berhenti?

Kebiasaan yang adiktif seringkali sulit untuk dirubah, mengapa? Kebiasaan atau habit biasanya terjadi secara tidak sadar atau otomatis dan karena “kebiasaan” sebenarnya juga merupakan proses pembelajaran, maka bisa berakibat negatif atau positif bagi kita yang melakukannya. Proses pembelajaran yang dimaksud adalah adanya stimulus pemicu diikuti oleh tindakan atau gerakan tertentu yang menghasilkan suatu pencapaian, entah itu rasa kepuasan, perasaan bahagia atau yang lain. Setelah mengalami banyak pengulangan, prosesnya menjadi kebiasaan karena otak menyimpan pencapaian tersebut di dalam alam bawah sadar yang disebut sebagai memori tindakan dan dengan demikian akan berakhir secara otomatis. 

Di dalam sistem saraf otak kita ada perbedaan antara tindakan yang dilakukan secara sadar dengan kebiasaan. Kebiasaan yang sudah menetap akan disimpan di area striatum pusat yaitu di bagian otak dalam, dan pengendalian diri serta keputusan yang merupakan tindakan sadar ada di korteks prefrontal. Peneliti otak berasumsi bahwa manusia tidak bisa bertahan hidup tanpa kebiasaan karena otak akan kewalahan dengan semua tindakan dan keputusan kita sehari-hari. Otomatisasi mempermudah dan menghemat energi otak tatkala merencanakan dan membuat keputusan dalam situasi yang penuh tekanan dan ini dapat meminimalkan risiko. "Kebiasaan" memberikan kontrol dalam kehidupan sehari-hari dan ini berarti kebiasaan buruk juga akan mengontrol kehidupan sehari-hari kita.

Perilaku kita dalam menghadapi situasi stres juga disimpan oleh otak sebagai kebiasaan, contohnya jika saat sedih atau depresi kita menggunakan zat stimulasi seperti narkoba, alkohol atau nikotin dan saat stres kita bermain gadget, scrolling media sosial, melakukan sex atau shopping agar dapat menghilangkan kebosanan atau merasakan bahagia maka pada saat menggunakan zat stimulasi, bermain gadget, saat scrolling, saat berbelanja, hormon yang mengatur perasaan senang, tenang dan bahagia seperti dopamin (yang bertanggung jawab atas rasa senang dan motivasi), serotonin (keseimbangan suasana hati), endorfin (peredam nyeri dan euforia), oksitosin (cinta dan ikatan sosial) sedang disebarluaskan. Otak saat itu menyadari bahwa suasana hati ditingkatkan oleh aktivitas tersebut. Semakin sering koneksi ini terbentuk, semakin kuat koneksi saraf dan semakin banyak otomatisme bergeser ke daerah otak bagian dalam sampai sepenuhnya dikendalikan oleh alam bawah sadar. Saat diri kita dalam situasi sedih atau stres tertentu, secepat itu pula alam bawah sadar melakukan kebiasaan, bermain gadget, scrolling, shopping atau perilaku lain. Inilah yang membuat kita tidak bisa berhenti atau melepas kebiasaan buruk dan negatif.

 

Merubah kebiasaan buruk menjadi baik?

Apakah kita ingin merubahnya? Kemauan saja biasanya tidak cukup untuk membangun kebiasaan baru. Untuk bisa merealisasikannya "kemauan" membutuhkan waktu jangka panjang. Menurut sebuah penelitian dari tahun 2009, untuk membangun kebiasaan dan rutinitas baru otak membutuhkan waktu antara 18 hingga 254 hari. Ini pun tergantung pada masalah dan kemampuan setiap individu serta kestabilan lingkungan dari mana perilaku otomatis dipicu [Lally P. Et al (2009) How are habits formed: Modelling habit formation in the real world, European Journal of Social Psychology/Volume 40, Issue 6/pp. 998-1009]. Situasi stres di mana hormon kortisol dan norepinefrin menyebar membuat implementasi menjadi lebih sulit, otak frontal akan mundur dan kebiasaan akan mengambil alih.

Kita membutuhkan waktu yang tenang dan dalam keadaan sadar (atas keinginan diri sendiri) untuk menyingkirkan kebiasaan yang buruk. Agar suatu aktivitas yang baru bisa menjadi kebiasaan, maka aktivitas tersebut harus menarik, sepositif mungkin, harus mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat mengaktifkan sistem pencapaian seperti perasaan bahagia dan puas. Jika hormon-hormon kebahagiaan yang sudah aku sebutkan di atas didapatkan dengan aktivitas yang baru seperti berolahraga, berenang, melukis, menulis, bermain musik instrumen, bermain di alam bebas atau traveling ke tempat yang belum pernah dikunjungi, maka aktivitas tersebut dengan senang hati akan diulang secara sadar dan menghasilkan kebiasaan yang baru, yang lebih baik, sehat dan positif.

 

Tips dan bantuan?

Menetapkan resolusi atau tujuan yang kecil dan positif agar lebih mudah untuk dicapai sehingga menimbulkan rasa bahagia dan puas. Apa yang ingin dirubah harus sesuai dengan realitas kehidupan sehari-hari. Apakah mungkin kita dapat memiliki berat tubuh ideal dalam satu hari? Ingin memiliki simpanan tanpa berhenti menghamburkan uang (berjudi, berbelanja) adalah hal yang sangat mustahil, mendapatkan nilai pelajaran yang bagus tanpa pernah belajar pun tidak akan mungkin, menyelesaikan pekerjaan atau tugas sambil scrolling media sosial berjam-jam akan sulit dilakukan. Jangan merubah terlalu banyak hal sekaligus karena ini akan membuat kita bertambah stres tetapi lakukan secara bertahap dan satu demi satu. Lari atau menghindar dari permasalahan yang ada biasanya akan memberikan konsekuensi negatif. Hadapi dan atasi krisis yang kita miliki karena masalah yang tidak kita selesaikan hari ini akan tetap menjadi masalah kita keesokan harinya. 

Menulis resolusi dalam jurnal atau diary agar dapat selalu diingat dan dievaluasi sejauh mana perubahan itu terjadi. Jangan langsung menyerah jika tidak berhasil tetapi ulangi lagi dan lagi, bukankah kita sedang berbicara tentang perilaku berulang? Hanya saja yang kita ulang bukan lagi perilaku negatif yang merugikan (bad habit), melainkan aktivitas yang positif (good habit), yang lebih sehat dan tidak berlebihan. Untuk beberapa tujuan yang tidak bisa dilakukan sendiri ada baiknya jika dibantu oleh orang-orang yang mendukung pencapaian kita seperti sahabat, orang terdekat, keluarga, grup terapi atau kelompok aktivitas pendukung lainnya. 

 

Upload: 15 Desember 2025