Zum Hauptinhalt springen

Iknidimi Oases

Anxiety

“Please forgive me if I don’t talk much at times. It sometimes gets loud in my head” [Unknown]



Gangguan Kecemasan (Anxiety)?

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Ketakutan atau kecemasan merupakan fenomena yang terkait erat. Menurut WHO ketakutan merupakan reaksi terhadap ancaman yang dirasakan pada situasi yang sedang dihadapi, sedangkan kecemasan lebih berorientasi pada apa yang akan terjadi (masa depan), mengacu pada ancaman yang diantisipasi. Fokus bahaya yang diantisipasi mungkin internal atau eksternal sehingga menyebabkan ketegangan somatik. Perbedaan antara kecemasan dan ketakutan secara klinis dan spesifik berfokus pada kognisi, stimulus dan situasi yang memicu ketakutan seperti fobia saat berhadapan dengan situasi khusus (selective mutism, sosial, laba-laba, ketinggian, panik, dll) atau situasi stres umum lainnya. 

Diagnosa ketakutan yang dimaksud bukanlah manifestasi dari kondisi medis, bukan efek dari penggunaan zat stimulan atau pengobatan sistem saraf pusat melainkan gangguan ketakutan yang bisa mengakibatkan disfungsi di semua aspek kehidupan baik pribadi, keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan atau aspek penting lainnya. 

[Referensi Anxiety diambil dari website ICD-11 WHO]


Saat rasa takut berubah menjadi cemas dan panik

Perasaan takut sebenarnya adalah mekanisme pelindung alami yang mengingatkan kita akan adanya situasi bahaya yang sedang mengancam. Reaksi kita saat berada di situasi tersebut biasanya adalah menilai dan melakukan tindakan seperti lari, menunggu atau melawan. Apa yang terjadi pada tubuh saat rasa takut berubah menjadi cemas dan panik? Perasaan takut dan cemas menyebabkan tubuh melepas hormon stres kortisol, adrenalin, noradrenalin dan merubah kondisi menjadi panik di mana tanda-tanda fisiologis seperti jantung yang berdebar keras, sulit untuk bernafas, terasa sesak, sakit dada, pening, keringat dingin dan gemetar mucul. Kadang hingga penderita kehilangan kontrol (histeris) dan kesadaran (pingsan). Jika situasi bahaya telah berlalu maka rasa takutpun akan hilang. Bila rasa takut atau cemas sering datang, kita sadar bahwa rasa takut itu sebenarnya tidak beralasan dan tanpa sebab tetapi tidak bisa dikontrol dan dimanifestasikan dalam jangka waktu yang panjang maka kita adalah penderita gangguan kecemasan. Apabila dibiarkan dan terjadi di mana saja atau kapan saja, maka kondisi ini dapat menimbulkan perasaan takut pada “rasa takut”, menyebabkan penderita menghindari banyak hal bahkan semua situasi atau tempat, mengisolasi diri hingga tidak bisa lagi berkontribusi di segala aspek kehidupan. Jika demikian maka kita sudah menjadi penderita agorafobia.

Instrumen tes yang divalidasi versi Jerman untuk mengukur gangguan kecemasan adalah Inventory of Depression and Anxiety Symptoms [IDAS-II), German Test Anxiety Inventory [TAI-G), Spence Children's Anxiety Scale (SCAS), Adult Separation Anxiety Questionnaire (ASA-27), Depression-Anxiety-Stress Scales (DASS), Revised Children's Anxiety and Depression Scale (RCADS) dan Gaze Anxiety Rating Scale (GARS). Tes ini disediakan untuk self-report atau penilaian klinis yang dirancang khusus bagi kelompok usia dan jenis kecemasan tertentu. 


Terapi 

Sebelum terapi diberikan, dokter dan psikiater biasanya akan melakukan cek kesehatan fisik pada penderita untuk memastikan apakah ada faktor biologi lain yang menyebabkan rasa kecemasan seperti misalnya gangguan keseimbangan hormon, masalah tiroid, jantung atau penyakit pernafasan dan penggunaan obat-obatan tertentu yang dapat memberikan efek samping. 

Langkah-langkah terapi yang kemudian diberikan pada penderita ketakutan atau kecemasan bertujuan untuk meredakan gejala kecemasan, memastikan bahwa penderita lepas dari perilaku penghindaran dan tidak mengisolasi diri, membangun dan mendukung penderita agar melakukan aktivitas yang disukai dan pada akhirnya dapat berkontribusi kembali di segala bidang kehidupan. 

Terapi bisa diberikan dalam bentuk psikoterapi. Jenis terapi perilaku kognitif (Cognitiv behavior therapy) diberikan kepada penderita untuk membantu mengenali dan mengubah pola pikir dan perilaku yang berkaitan dengan rasa cemas. Durasi terapi ini bisa berlangsung selama 2 minggu hingga 20 minggu tergantung pada tingkat keparahan penyakit, penyakit yang menyertainya dan kondisi kehidupan yang spesifik.

Exposure therapy (terapi pemaparan) merupakan bagian dari terapi perilaku kognitif yang komprehensif. Eksposur yang berarti secara sadar mengekspos diri penderita pada situasi yang memicu kecemasan, disertai atau dibimbing secara terapeutik. Langkah pertama adalah melihat kemungkinan latar belakang, peristiwa atau trauma yang selama ini tersembunyi (atau disembunyikan) dan menyebabkan gangguan kecemasan. Pola perilaku yang berkontribusi pada munculnya gangguan kecemasan yang terus berlanjut akan diungkap. Dan jika sudah siap maka penderita akan melakukan konfrontasi (secara langsung dan sadar) dengan situasi yang akan menimbulkan rasa takut. Terapi ini diberikan untuk menghadapi situasi yang penderita takuti secara bertahap sambil mempelajari cara mengelola kecemasan sehingga perilaku penghindaran berkurang selangkah demi selangkah. 

Farmakoterapi juga diberikan oleh psikiater untuk membantu penderita mengontrol gejala kecemasan seperti escitalopram, fluoxetine atau sertraline.

Penting untuk diingat bahwa diagnosis dan penanganan agorafobia harus dilakukan oleh ahli profesional kesehatan mental. 


Upload: 26 November 2025