Zum Hauptinhalt springen

Iknidimi Oases

schuhe

Antara Kaviar Dan Psycho

Chapter 1

Selamat tinggal...

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Lia menatap awan putih yang terlihat dibalik jendela pesawat. Sinar matahari yang hangat membelai wajahnya yang cantik dan pucat. Lia enggan sekali menutup matanya walaupun sudah sangat mengantuk. Setiap kali, setiap ia menutup kedua pelupuk matanya, bayangan Aryo menari-nari di sana. Rasa sakit yang menyayat hatinya sejak dua bulan yang lalu masih belum memudar dan ia sudah merasa sangat lelah. 

Aryo Permana adalah seorang bintang film yang tampan dan terkenal di seluruh pelosok Indonesia. Tiga tahun lamanya Lia menjalin hubungan kasih dengannya. Ketika ia membaca judul berita di majalah Bintang Selebriti “ARYO PUNYA KEKASIH BARU?” ia tidak percaya. Sudah terlalu sering berita gosip menyerang hubungan mereka tapi semua itu tidak ada yang benar. Ia percaya pada kesetiaan Aryo, terlalu percaya. 

Ketika suatu hari Lia memergoki Aryo sedang bercumbu dengan Maharani, sahabat Lia yang juga pemain film, tanah yang ia injak seperti terbelah dua. Ia terpuruk di dalamnya. Berita gosip terakhir itu ternyata benar. Setelah mereka berdua juga mengakui bahwa sudah enam bulan lamanya menjalin hubungan kasih tersebut, Lia memutuskan hubungan cintanya dengan Aryo dan persahabatannya dengan Maharani seketika itu juga. Berita-berita yang ia dengar, lihat dan baca di media masa selanjutnya hanyalah tentang dirinya yang ditinggalkan Aryo dengan bumbu yang bermacam-macam dan tentang hubungan panas antara Aryo dan Maharani. Sejak itu Lia muak dan tidak tahan lagi menghadapi suasana tersebut. Ia ingin menghilang dan lenyap ditelan bumi supaya orang tidak lagi membicarakan tentang dirinya. Ia tidak ingin membaca dan mendengar berita tentang Aryo atau Maharani serta tidak ingin melihat wajah mereka lagi. 

Dua bulan yang lalu, sehari setelah berita tentang putusnya hubungan mereka berdua tersebar di seluruh pelosok Indonesia, Lia menerima telpon dari Berlin. Tante Yuli, adik papanya yang menikah dengan pria berwarganegara Jerman dan tinggal di Berlin menawarkan Lia untuk tinggal di sana. Lia yang pernah dua kali berkunjung ke sana langsung menerima tawaran tersebut. 

“Di sini kamu lebih bisa melupakan Aryo” kata tantenya waktu itu.

Ia memang berniat untuk melupakan Aryo. Satu-satunya cara untuk melupakan laki-laki itu mungkin memang dengan pergi jauh, meninggalkan negara kelahirannya. Di Berlin tidak ada berita tentang Aryo. Di sana ia bisa membuka lembaran hidup baru. Keinginan untuk menjadi psikiater anak, yang sebenarnya sudah terbenam sejak ia bertemu dengan Aryo, tiba-tiba muncul kembali. Ia berniat untuk mewujudkan cita-citanya yang terputus itu. Mama, papa dan Beni, kakak laki-lakinya tentu saja sangat menyetujui keinginan Lia tersebut. 

Dua bulan terakhir itu Lia hanya sibuk mengurus surat-surat yang diperlukan untuk tinggal dan studi di Jerman. Bersama papanya, ia pergi ke kantor Deutsche Bank untuk membuka konto sebanyak 6000 Euro sebagai jaminan hidupnya di Jerman, seperti yang diminta oleh pemerintah Jerman. Sepersepuluh dari uang itu adalah kumpulan gaji dari hasil kerjanya sebagai psikolog di praktek Dr. Sundoko dan sisanya adalah uang dari papa dan kakaknya. Ijasah Sarjana Psikologi yang ia terima dari Universitas Atmajaya Jakarta telah diakui di Jerman. Di sana ia hanya perlu menambah satu semester untuk mengikuti ujian pengakuan Diplom Psychologin dan setelah itu, ia bisa mengambil program Doktornya. Sambil menunggu visa studi dan surat panggilan dari Profesor Carsten Hegemann yang akan menjadi pembimbing disertasinya di Institut für Psychologie di Humboldt Universitaet, ia mengulang kembali bahasa Jerman yang pernah dipelajarinya di Goethe Institut Jakarta. Lia tidak mengalami kesulitan dalam menguasai bahasa itu karena Papa Lia adalah guru besar bahasa Jerman di Universitas Trisakti. Ia selalu memaksa putra-putrinya setiap hari Rabu untuk berbicara dalam bahasa Jerman. Beni, kakak pertamanya yang telah menikah dan memiliki seorang anak perempuan adalah lulusan Technik Universitaet Berlin. Kesibukan kecilnya itu membuat ia agak jarang memikirkan Aryo. Ketika akhirnya surat dan Visa yang ditunggu datang, Lia segera menyortir pakaiannya dan membakar semua barang-barang yang mengingatkannya pada Aryo. 

Beberapa jam yang lalu Lia berpisah dengan mama, papa dan kakaknya di bandara Soekarno-Hatta.

“Yang tabah disana ya, kalau ada apa-apa telpon” kata papanya sambil mencium kening Lia.

“Ya, dan dalam waktu 24 jam salah satu dari kita pasti langsung ke Berlin” sahut Beni sambil memeluk Lia.

“Kalau kamu sudah siap, pulang ke rumah ya, mama tunggu kamu” kata Mamanya berkaca-kaca sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi Lia. “Selesaikan studimu ya” sambung mamanya lagi sambil mencium putrinya. 

Dua orang sahabatnya yang lain juga datang ke bandara untuk mengucapkan selamat tinggal. Berita terakhir tentang dirinya yang tertulis di majalah dan koran murah adalah “KATHARINA LIA, BEKASA PACAR ARYO MENGUBURKAN DIRI DI JERMAN” Lia tersenyum pahit dan bersumpah dalam hati untuk tidak jatuh cinta lagi pada seorang bintang film. 

Lia terbangun dari lamunannya ketika mendengar suara kapten pilot mengatakan bahwa satu jam lagi mereka akan mendarat di Frankfurt. Ia bangun dan menuju ke Toilet untuk menyegarkan diri. Lia memandang wajahnya yang pucat di cermin dan mencoba untuk tersenyum. Ia mengambil sikat gigi, mengoleskan pasta gigi diatasnya dan mulai menyikat giginya. Setelah Lia mencuci wajah dan mengeringkannya dengan handuk, ia mengambil krim pelembab dari tas kosmetiknya yang kecil dan mengoleskan di kulitnya yang kuning dan halus. Bedak baby Johnson ia usapkan di wajahnya. Lipstik merah ia oleskan di bibirnya yang merah jambu. Lia hanya mengenakan make-up tipis karena tidak mau terlihat seperti memakai topeng. Ia memandangi rambutnya. Seumur hidupnya, Lia tidak pernah membiarkan rambutnya panjang. Ia selalu memotong dan mengeriting rambutnya di salon. Rambut hitamnya yang kini lurus dan panjang itu ia sisir dan ikat kebelakang, poninya yang agak panjang ia biarkan jatuh ke pipi. Lia menatap ke cermin lagi dan tersenyum puas. Lipstik merahnya membuat ia tidak terlihat pucat. Setelah mengoleskan parfum dileher dan mengenakan syal ia keluar dari toilet dan duduk kembali. Beberapa pria menengok ke arahnya tapi Lia tidak memperdulikan mereka. Lia melihat jamnya dan mengubah waktu Indonesia ke waktu Jerman. 

“Selamat tinggal Indonesia” bisiknya lembut.

Sampai di Frankfurt, seperti biasa, ia harus melalui beberapa pemeriksaan. Double Security Checking untuk Lia karena Indonesia masuk ke dalam daftar negara yang dicurigai memiliki jaringan teroris. Setelah melewati bagian imigrasi ia segera mencari gate penerbangan pesawat Lufthansa ke Berlin. Karena waktu untuk Chek in ke pesawat masih satu jam lagi, Lia memutuskan untuk mencari Cafe. Di pesawat menuju ke Frankfurt, ia hanya minum air mineral dan juice tomat. Di Cafe ia memesan secangkir Caramel Macchiato dan membayarnya dengan uang Euro yang sudah ditukar papanya di BII, Bank International Indonesia. Ia memilih tempat duduk dekat jendela. Tas Laptop dan koper kecilnya ia letakkan di samping. Lia duduk dengan santai dan menikmati kopi kesukaanya. Minum kopi sudah menjadi kebiasaanya sejak masa kuliah dulu. Jika ia sudah gemetar karena terlalu banyak kofein yang masuk ke dalam tubuhnya, maka minuman kopi untuk hari itu sudah cukup. Ia tahu kapan harus berhenti. 

“Willkommen in Deutschland” tertulis dimana-mana. Ya, selamat datang di Jerman kata Lia pada dirinya sendiri. Di sini ia bisa hidup tenang, di sini ia tidak menemukan nama Aryo Permana, disini ia bisa melupakannya. Di negara ini ia akan kembali menjadi dirinya sendiri dan mulai detik ini pula ia akan merajut identitasnya yang hilang. 


Upload: 8 Maret 2025


Willkommen in Berlin

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Yuli duduk tidak sabar menunggu, sebentar-sebentar ia melihat ke jam tangannya. Hari ini ia tidak bekerja dan tidak mengantarkan Erik ke Kindergarten. Andreas, suaminya sudah berjanji untuk mengantarkan Erik ke sana karena Yuli ingin menjemput keponakan kesayangannya. Yuli melihat jadwal pesawat yang tertulis di monitor pengumuman. Pesawat yang ditumpangi keponakannya sudah mendarat. ‘lima belas menit lagi pasti dia muncul’ katanya dalam hati. Ia melihat beberapa wanita asia yang keluar dari gate penumpang. Ketika seorang gadis asia cantik melenggang dengan anggun melewati pintu itu juga, Yuli segera memanggil namanya. Yuli mengamati Lia dari jauh dan tidak habis berpikir mengapa Aryo bisa meniggalkan keponakannya. Jika dibandingkan dengan wanita asia yang lain, sebenarnya putri dari kakak satu-satunya ini sangat cantik. Lia memiliki kulit yang kuning bersih dan mata yang indah. Ia lembut, baik, rendah hati, intelek dan modis. Yuli menghembuskan nafas dan mengamati Lia lagi. Celana panjang jeans biru ketatnya memperlihatkan tungkai kaki Lia yang panjang dan t´shirt biru ketat yang dikenakannya memperlihatkan bahwa sang empunya memiliki buah dada yang penuh dan berisi. Syalnya yang bergaris-garis biru putih melambai dilehernya yang jenjang. Ia tidak habis mengerti, apa sebenarnya yang kurang dari Lia sehingga Aryo bisa memalingkan wajahnya ke Maharani, sahabat keponakannya itu. ‘Manusia memang tidak pernah ada yang puas dengan apa yang sudah dimilikinya’ desisnya.

Lia melambaikan tangan sambil mendorong kereta berisi dua koper besar dan satu koper kecil dan berjalan menuju ke arah Tantenya.

“Na, modis seperti biasa dan .... oranye?” kata Yuli sambil melirik ke koper-koper yang dibawa keponakannya.

“Ya tante, biar gampang ketemunya. Jarang lo, ada orang yang mau punya koper oranye” Jawab Lia. Mereka tertawa dan saling berpelukan. 

“Kamu pasti ngantuk dan capek sekali, nanti kita mampir ke toko roti dulu ya, beli broetchen, supaya kita bisa sarapan sama-sama” kata Yuli. “atau kamu sudah kenyang dari makanan Lufthansa?” tanya Yuli karena tidak yakin apakah keponakannya mau atau tidak. 

Sebenarnya Lia ingin sekali langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur karena sudah dua bulan lamanya kurang tidur. Sekarang ini ia sangat lelah dan mengantuk. Tapi karena ia tidak mau mengecewakan tantenya, ia menganggukan kepalanya. “Untuk saya, satu roti croissant aja tante, supaya nggak kekenyangan kalau tidur”.

“Udara di luar masih agak dingin, jadi lebih baik kamu pakai baju hangat, biar nggak masuk angin” kata Yuli sambil menunjuk jaket coklat Lia yang terhampar di atas koper.

Bersama-sama mereka segera menuju ke tempat parkir dan membiarkan tantenya menyetir mobil.

“Udara disini lebih bersih kan?” kata Yuli disambut dengan anggukan Lia.

“Ya... tapi kota ini nggak memiliki penduduk sebanyak Jakarta dan karena itu juga nggak terlalu banyak kendaraan yang dikendarai” sahut Lia sambil menghirup nafas dalam-dalam dan menikmati sejuknya udara kota Berlin. “Lagipula penduduk di kota ini lebih suka naik sepeda daripada mobil”. Lia diam sejenak “tapi... pengendara sepedanya nggak sebanyak di Belanda” lanjut Lia yang teringat akan liburannya di Belanda dua tahun yang lalu.

Selama perjalanan menuju ke apartemen, Yuli bertanya apakah Lia masih ingat dengan tempat-tempat yang pernah dikunjugi Lia. Cerita-cerita lucu sewaktu Lia mengunjungi kota Berlin mereka kenang kembali. Saat itu Lia lupa akan kesedihannya. Di tikungan Oranienburgerstrasse Yuli membelokkan mobil mereka. Setelah melewati beberapa blok apartemen, ia memarkir mobilnya di samping jalan Chausseestrasse. Di daerah tempat Yuli tinggal memang ramai sekali. Cafe-cafe, Restoran besar dan kecil, Toko roti, toko komputer elektronik, Supermarket dan sebagainya ada di sana. Setiap sepuluh menit bis dan tram lewat bergantian di depan gedung apartemen Yuli. Di sini orang bisa pergi kemana-mana tanpa menggunakan mobil pribadi. Bis, tram dan kereta membawa mereka sampai ketempat tujuan. Sebagaian dari mereka bahkan banyak yang mengendarai sepeda. Beruntung sekali bahwa apartemen Yuli terletak di belakang jalan umum sehingga ramainya kendaraan tidak terlalu terdengar. 

Lia menunggu tantenya yang sedang membeli roti dan berdiri menyender di samping mobil. Ia ingat, dari sini ia bisa berjalan kaki atau naik tram ke kampus Humboldt Universitaet zu Berlin. Di Gedung utama kampus yang terletak di jalan Unter den Linden Lia harus melaporkan kedatangannya dan mengisi beberapa formulir yang pasti sudah dipersiapkan untuknya. Menurut keterangan yang dibacanya di Website HU beberapa minggu lalu, ia harus pergi ke kampus Institut für Psychologie yang terletak di Adlershof untuk mengikuti kuliah tambahan yang akan ia jalani selama satu semester ini.

Lia melihat tantenya keluar dari toko roti. Mereka berdua mengambil koper Lia dari bagasi mobil dan berjalan menuju ke apartemen. Lia mengagumi keindahan apartemen tua tersebut yang pernah hancur akibat perang dunia ke dua. Apartemen itu hanya direnovasi satu kali dan hingga saat ini masih tetap kuat dan terawat. Tanaman Efoy yang tumbuh menjalar di tembok memberikan kesan kesejukan dan kenyamanan bagi yang melihatnya. Beberapa pohon yang rindang atau yang tumbuh tinggi di sana serta aneka ragam bunga mawar di sekitarnya mengingatkan Lia pada cerita “Sleeping Beauty” yang pernah dibacanya sewaktu masih kecil. 

Yuli menunjukkan kamar yang sudah dipersiapkan untuk Lia dan memberikan handuk pada Lia. “Tante siapin sarapan dan kamu bisa pergi mandi, sampo dan sebagainya ada di kamar mandi.”, kata Yuli sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah kamar mandi. “Kalau sudah selesai kita bisa sarapan bersama”, lanjutnya lagi.

“Saya juga bawa dua handuk dan alat mandi, Tante” sahut Lia sambil senyum dan memperlihatkan tas kosmetiknya. Yuli tersenyum dan menghilang dibalik pintu. 

Lia membuka kedua kopernya. Satu koper berisi pakaian musim panas dan koper yang lain berisi pakaian musim dingin. Di antara pakaiannya terselip juga buku-buku psikologi yang sudah menjadi sahabatnya bertahun-tahun. Lia memutuskan untuk membereskan kopernya setelah sarapan. Ia mengambil T-shirt coklat muda yang bersih, alat mandi dan handuk lalu menuju ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambut serta menyisirnya ia berjalan menuju ke balkon dan menjemur handuknya di sana.

“Nah, kelihatan segar sekarang” kata Yuli ketika melihat Lia masuk ke ruang makan. “Kita sarapan sekarang? tanya Yuli.

Lia mengangguk tersenyum. Di atas meja telah tersedia teh, telur setengah matang, madu, jely, margarine dan roti yang dibeli tantenya. Setelah sarapan Yuli menghilang sebentar dikamarnya dan kembali lagi dengan membawa tiket dan kunci apartemen.

“Ini tiket untuk kendaraan umum bulan ini” kata Yuli sambil menunjukkan tiket yang bisa digunakan untuk naik kendaraan umum apapun selama satu bulan. “Bulan depan mungkin kamu sudah dapat Tiket semester dari Universitasmu dan ini... ” Yuli menunjukkan kunci ketiga apartemen miliknya. “kunci apartemen, dengan kunci ini kamu bisa lebih bebas keluar masuk apartemen” lanjut tantenya sambil menyerahkan kedua benda tersebut.

“Terimakasih tante” kata Lia sambil memeluk dan mencium tantenya. “Saya bantu bereskan meja dulu, baru saya pergi tidur” sambung Lia.

“Ya, nanti kalau kamu bangun dan tante nggak ada, berarti tante baru jemput Erik ya” kata tantenya lagi.

Setelah selesai membereskan meja makan dan menyikat giginya Lia masuk ke kamar. Ia membereskan pakaian dan memasukkanya ke dalam lemari. Buku-bukunya ia atur di atas lemari buku. Laptop dan alat-alat tulisnya ia letakkan di atas meja. Hadiah-hadiah yang Lia beli untuk Erik, tante dan omnya ia letakkan diatas kursi dan akan ia berikan pada saat makan malam nanti. Koper-kopernya ia taruh disamping lemari. Setelah bangun tidur ia akan menyimpannya di gudang. 

Lia memandang ke luar jendela dan melihat daun-daun, yang seakan-akan sedang melambaikan tangan mereka, mengundang Lia berjalan menuju ke jendela. Ia berhenti di sana, menatap daun-daun itu sejenak dan melihat ke bawah. Apartemen tantenya terletak di lantai tiga. Ia membuka jendela dan merasakan udara dingin yang masuk ke kamarnya. Lia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya keluar beberapa kali. Ia menjulurkan kepalanya ke bawah. Taman bermain yang tidak terlalu besar itu masih kosong. Lia sudah tidak tahan lagi untuk menutup matanya dan merasakan kelelahan tubuhnya. Ia menutup jendela dan menuju ke tempat tidur. Setelah membuka pakaiannya ia menghilang dibalik selimutnya yang tebal dan langsung jatuh tertidur.

Sayup-sayup terdengar suara seorang anak laki-laki berbicara bahasa Jerman.

“Lia, .... Lia.... bangun....” Lia terkejut dan membuka matanya lebar-lebar. Ia meloncat dari tempat tidurnya dan segera mengenakan pakaiannya setelah mengenali suara samar-samar tersebut.

“Erik?” kata Lia sambil berdiri mendekati pintu.

“Ya, ini Erik” sahut Erik dibalik pintu. Erik langsung menerjang Lia ketika Lia membuka pintu kamarnya.

“Hai Erik, apa kabar sayang? Kata Lia sambil memeluk dan mencium pipi Erik. Ia menggendong Erik.

“Kamu tinggal disini selamanya sekarang?” Kata Erik lagi sambil tidak mau melepaskan pelukkannya. Dua tahun yang lalu Erik menangis karena Lia harus kembali ke Indonesia. Lia senang sepupu kecilnya ini tidak melupakannya.

“Ya, Sayang” jawab Lia sambil menurunkan Erik dan bersama-sama menuju ke ruang tamu. Om dan tantenya sudah menunggu di sana.

“Halo om Andreas, sudah pulang kerja?” kata Lia

“Ya”. jawab Andreas. “Tidurmu diganggu ya? kata Andreas tersenyum dan melirik Erik. “Selamat datang di Berlin, semoga betah ya. Kali ini datang bukan untuk liburan kan?” kata Andreas lagi.

“Ya om, pasti, kan ada Erik” jawab Lia sambil mengelitiki Erik yang tertawa karena merasa geli.

“Malam ini kita makan di Restoran Itali ya, kita rayakan kedatanganmu disana. Tante kemarin sudah pesan tempat untuk makan jam setengah tujuh di sana” kata Yuli.

“Wah, koq repot sekali tante, seperti tamu  agung aja” Lia merasa tidak enak. 

“Sssst, kamu keponakan kesayanganku. Tante cuma pesan tempat koq, nggak repot kan? Sekarang ganti baju sana, sebentar lagi jam enam loh!” kata Yuli sambil mencubit pipi Lia, lupa kalau Lia bukan anak kecil lagi.

Lia menuju ke kamarnya, mengambil tas kosmetiknya dan berdiri di depan cermin yang terletak di pojok kamar. Ia mengenakan make-up di wajahnya tipis-tipis dan mengoleskan lipstik merah muda di bibirnya. Lia memutuskan untuk mengenakan syal tipis dan jaket berwarna coklat. Sekejap matanya memandang map yang tergeletak di atas meja. Map itu berisi surat-surat yang diperlukan untuk melaporkan diri ke polisi dan Universitas. Ia harus menceknya lagi jika mereka sudah kembali ke apartemen. Besok ia akan menyelesaikan urusan pendaftarannya. Lia tersenyum dan keluar dari kamarnya.


Upload: 16 Maret 2025