Zum Hauptinhalt springen

Iknidimi Oases

yoga

Over 50?

"I'm embracing every inch of my lines because they're part of who I am now" [Michelle Pfeiffer]


Journaling

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Tubuh dan pikiran mengalami banyak perubahan seiring bertambahnya usia. Penuaan tidak dapat kita hindari dan bagiku ini adalah tentang bagaimana aku menjalani proses tersebut dengan tenang dan sebisa mungkin secara alami. Di halaman ini aku ingin berbagi pengalaman tentang proses agingku dalam bentuk jurnal. Journaling atau Jurnal adalah salah satu cara yang baik bagi kita untuk berkonfrontasi dengan perasaan dan pikiran yang bertujuan untuk refleksi diri, menghilangkan stress, menenangkan pikiran dan membuat suasana hati menjadi lebih baik. Dalam menulis jurnal mungkin ada yang lebih menyukai cara analog dengan menoreskannya di atas kertas atau secara digital dengan mengetik dan disimpan sebagai data komputer. Bagaimana dengan kamu? Aku lebih suka menulis secara digital karena dengan mengetik, jari dan tanganku tidak cepat lelah dan apa yang sedang aku pikirkan dan rasakan bisa saat itu juga aku ketik dengan cepat tanpa hambatan. Aku bisa menyimpannya sebagai file data, mengatur, mengarsipkan dan mencari catatan digital jika diperlukan, menggunakan data digital dengan lebih mudah dan tidak perlu menyalin ulang dari kertas ke laptop. 

Di Indonesia persepsi tentang “sudah tua” yang sering aku dengar adalah saat usia sudah mencapai 50 tahun. Hmm... benarkah? Jika usia 50 sudah dianggap tua lalu bagaimana dengan mereka yang berhasil mencapai usia 90? Masa tua yang panjang, 40 tahun lamanya! Bagaimana kualitas hidup mereka sejak usia 50 hingga 90 tahun dan apa yang mereka lakukan di masa tua mereka? Entahlah, mungkin karena sebagian dari perjalanan hidup kuhabiskan di Eropa dan mendengar serta menyaksikan sendiri bagaimana mereka masih sangat aktif di usia 50 tahun dan belum disebut “tua”, akupun turut merasakan bahwa dengan usia 50 “belum tua”. Belum tua bukan berarti menolak tua dan interpretasi ini berhubungan dengan kondisi mental serta pikiran dan pandangan kita tentang proses penuaan. Ada pepatah Jerman mengatakan “Man ist so alt wie man sich fühlt, denn das Alter ist nur eine Zahl”, yang memiliki arti, “Kita tua jika kita merasakannya karena umur hanyalah angka”. Lalu bagaimana pengalamanku dan rasanya memasuki usia 50? Yes, ask me… I’m over 50! And this is my journal being over 50... 


Bagaimana awal proses agingku?

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Hmm… aku bingung harus mulai dari mana, tapi baiklah kita mulai dari rambut karena tanda-tanda penuaan yang aku dapati pertama kali adalah „grey hair“. Aku tidak tahu, apakah ini sudah disebut sebagai proses penuaan ketika sepupuku menemukan beberapa helai rambut putih di kepalaku di saat aku masih duduk di bangku sekolah. “Wah, udah ubanan” begitulah reaksi orang yang melihatku sejak itu. Seperti yang diungkapkan David Mezel, faktor genetik memang mempengaruhi proses penuaan karena ketika aku memasuki usia 35 tahun sebagian warna rambutku sudah berubah abu-abu, seperti almarhum Papa. Menginjak usia 40 aku memutuskan untuk mewarnai rambutku dan sebulan sekali aku harus mencat bagian akarnya karena rambutku tumbuh lebih cepat. 

Awal mula pengecatan rambut selalu aku serahkan pada orang lain dengan biaya yang tidak murah di salon Jerman. Ketika suatu hari teman kerjaku menceritakan tentang besar anggaran bulanan perawatan rambutnya dan pada akhirnya memilih untuk mencat sendiri, aku menanyakan cat rambut apa yang dipakai. Hari itu juga, sepulang kerja dia mengajakku ke toko Rossmann dan menjelaskan semua produk yang ada di sana serta cara penggunaanya. Aku memilih produk cat rambut hitam yang alami, tidak permanen dan zat kimia pewarnanya tidak keras. Penggunaanyapun mudah karena hanya seperti menggunakan shampo. Setiap produk tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan dari produk yang aku pilih adalah setelah delapan kali mencuci rambut, cat warna rambutku memudar. Bagiku ini tidak menjadi masalah karena sebenarnya kulit kepalaku sangat sensitif terhadap produk cat rambut permanen yang digunakan di salon. 

Pemilihan warna cat rambut mulai menjadi pikiranku lagi saat hampir semua rambutku berubah menjadi abu-abu. Aku tahu bahwa rambut tumbuh dengan warna aslinya dan saat itu tentu saja tidak lagi hitam melainkan abu-abu. Seiring dengan pertumbuhan rambut setiap minggunya, perbedaan antara warna abu-abu yang tumbuh dengan rambut yang diwarnai terlihat sangat kontras sehingga akhirnya aku mengganti produk warna coklat terang. Kekurangannya? Ya, aku terlahir dengan warna kulit coklat eksotis dan hei! Aku bangga dengan warna kulitku, karena itu seumur hidup aku tidak pernah menggunakan suntik pemutih dan hanya merawatnya supaya tetap bersih, lembut dan tidak kering. Aku merasa warna coklat terang tidak sesuai dengan kulitku yang coklat karena tampilanku jadi terlihat aneh. Setiap delapan minggu berakhir, bila warna cat rambutku memudar, aku bereksperimen memilih warna coklat lain untuk mencari warna yang pas. Seiring dengan berjalannya waktu, terus terang ini membuatku stress, lelah dan berpikir sampai kapan harus kulakukan. 

Secara psikis proses Aging bukanlah hal mudah untuk dihadapi karena dilingkunganku tidak ada yang memiliki rambut putih saat usia masih muda dan jika ada, mungkin mereka juga “menyembunyikannya” sehingga aku tidak tahu. Selain teori yang aku dapat dari jaman kuliah dulu, aku juga mencari informasi lebih banyak lewat pengalaman orang lain yang juga sedang menghadapi proses yang sama denganku. Banyak informasi yang aku dapatkan dari buku, majalah dan internet. “Silver Sisters ” adalah salah satu komunitas yang aku temukan saat survey di dunia internet, sebuah komunitas wanita yang memilih untuk menjadi tua dengan alami dan elegan, berawal dengan menampilkan rambut abu-abu tumbuh dengan alami dan tidak mewarnainya lagi. Entah mengapa sejak menemukan rambut putih di masa SMA kata “Uban” begitu negatif di pikiranku padahal arti “Uban” sama persis seperti “Grey hair” atau “Silver hair”! Motoku, “Jika aku ingin mewujudkan sesuatu yang positif maka hal pertama yang harus aku lakukan adalah menjauhi pikiran negatif” dan untuk merubah pikiran negatifku dalam hal ini, aku memilih untuk menyebut rambut abu-abuku “silver hair”, sama seperti para wanita di komunitas Internasional Silver Sisters. Lewat komunitas ini aku menemukan inspirasi dan dukungan dalam perjalananku di fase proses Aging. Caroline Labouchere, satu-satunya wanita yang mendorong aku untuk menerima perubahan awal ini. Wanita inggris yang saat itu berusia 54 tahun dan tinggal di Dubai tampak sangat anggun dengan silver hair yang lurus tergerai panjang. Wajahnya yang cantik mengingatkan aku pada almarhum nenekku, ibu dari almarhum Papa. Artikel tentang Caroline Labouchere yang dikenal sebagai first “grey” model di negara itu menjabarkan tentang perjuangan dan keberhasilan beliau dalam merubah persepsi orang tentang wanita berusia dengan rambut abu-abu. Kalimat “Feel empowered by your grey hair” yang ditujukan untuk fans-nya, menjadi pijakan pertamaku untuk memulai.. So here i am!

Masa Covid di awal tahun 2020 merupakan awal tahun perjuanganku untuk “back to nature”. Ketika di Jerman salon-salon ditutup, supermarket besar yang diijinkan buka hanya menjual produk cat rambut dalam jumlah sedikit dan silver hair sudah tumbuh hingga mencapai pundak, aku memberanikan diri untuk memotong bagian rambut yang berwarna. Ah, setelah beberapa bulan berlalu rambutku tentu saja tumbuh panjang lagi dan yang menjadi pikiranku selanjutnya hanyalah bagaimana merawat silver hair dengan baik. 

Saat memutuskan untuk tidak lagi mewarnai rambut, aku juga mencari informasi tentang perawatan silver hair. Silver hair tidak memiliki mekanisme perlindungan alami sehingga lebih sensitif terhadap sinar matahari yang mengakibatkan oksidasi protein rambut dan lebih cepat membuat rambut menguning, terlihat kusam dan kering. Berhubung rambutku yang panjang ini aslinya keriting bergelombang dan terlihat tidak terawat jika tidak diwarnai, aku memilih untuk meluruskannya di salon agar terlihat rapih. Walaupun ini tidak secara alami, “Smoothing” tetap aku lakukan dua tahun sekali agar rambut selalu terlihat rapih dan stylish. Tua secara alami bukan berarti tidak merawat diri. “Get Old and Sporty but not Exaggerate” adalah moto yang aku ambil untuk menjalani proses aging. Apakah kamu juga memiliki moto dalam menghadapi fase ini? Rambut abu-abu, perak atau putih adalah warna netral yang luxus dan memerlukan perawatan yang intensif. Setelah mencoba beberapa produk shampoo, aku menemukan produk cuci rambut dan creambath yang berhasil menetralkan warna kuning atau oranye di rambut akibat sinar matahari. Produk Purple Shampoo & Mask Anti Brassiness ini cocok untukku karena tidak menyebabkan alergi gatal dan membuat warna perak rambutku menjadi semakin jelas bersih berkilau. Jika sudah menemukan satu produk yang cocok, biasanya aku tidak akan bereksperimen lagi.

Bagaimana rasanya setelah beberapa tahun ini memiliki long straight silver hairstyle? Perfect and i feel good! Ada rasa penyesalan juga mengapa tidak dari dulu menampilkan rambut silverku. Inspirasi yang aku dapat jika nanti semua rambutku sudah putih semua dan tidak ada satupun rambut hitam yang tumbuh lagi adalah menambah dimensi highlight rambut dengan mengaplikasikan sedikit warna hitam sekitar 1,5 cm dari akar rambut sampai ke ujung rambut, membentuk stripes atau garis-garis memanjang yang tipis ke arah bawah. Semakin tipis, maka hasil highlight akan kelihatan semakin alami karena membaur dengan rambut putih dan hasilnya akan tetap terlihat silver. Ya, menjadi tua bukan berarti menelantarkan diri.

 

Upload: 7 April 2025