Zum Hauptinhalt springen

Iknidimi Oases

geneva
Silver hair me waiting for the sunset at geneva lake, Switzerland

Aging

"Not until now, from the height of our years, have we been sure that one always reaps in the end what he has shown in the beginning" [Gemma d''Auria and Antonia Burgato, The Secrets of the Very Old]



Apa itu aging?

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

„Masa muda adalah masa yang paling indah“ pernah mendengar kalimat ini, bukan? Jika melihat dari sisi penampilan aku setuju, karena secara fisik belum ada perubahan yang terlihat di tubuh kita. Kulit masih kencang, tulang dan otot masih kuat, anggota, organ dan sel tubuh kitapun masih aktif dalam melakukan tugasnya masing-masing. Memasuki usia 40 kita mulai merasakan adanya proses yang mengacu ke arah penuaan. „Ageing“ atau „Penuaan“ adalah sebuah kata yang memiliki makna penting bagi setiap orang dan setiap individuum memperlihatkan reaksi yang berbeda-beda terhadap proses alami yang tidak bisa dihindari karena mempengaruhi semua organisme hidup. Sebagian besar dari kita bahkan sudah mulai kuatir ketika memasuki usia 30, semakin sering melihat ke cermin, mengamati wajah lebih intensif untuk mencari tanda-tanda penuaan dan jika menemukannya, mental kita belum siap menerima. 

Menurut Lopes-Otin „Ageing“ adalah proses penuaan seseorang yang ditandai dengan adanya penurunan kemampuan fisik secara bertahap serta peningkatan risiko penyakit yang berkaitan dengan usia hingga kematian. Pada titik tertentu dalam kehidupan seseorang, seringkali di usia 30-an, tanda-tanda penuaan mulai terlihat jelas seperti masalah vital tekanan darah, kulit, tulang, persendian, sistem kardiovaskular, pencernaan, otak, sistem saraf dan seterusnya [Carlos Lopez-Otin et al. Cell.2013]. David Melzer menambahkan bahwa beberapa perubahan penuaan bahkan ada yang sudah muncul lebih awal, seperti misalnya metabolisme tubuh yang menurun secara perlahan ketika menginjak umur 20 tahun, tapi disisi lain perubahan pendengaran biasanya tidak dimulai sampai usia 50 tahun atau lebih. Seberapa cepat proses penuaan berlangsung dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti genetik [Melzer et al. Nat Rev Genet, 2020 Feb], faktor yang lain adalah gaya hidup individu dan pengaruh lingkungan eksternal. Kita tahu jaringan dan organ tubuh kita terbentuk dari sel-sel yang menyatu. Pada awal pembuahan terjadi, sel-sel tersebut tumbuh dan berkembang, tetapi hei! Sel-sel tersebut juga mengalami proses penuaan dan karena proses tersebut berjalan perlahan-lahan maka kita tidak bisa melihatnya. Iya, setiap individu akan mengalami proses penuaan, termasuk aku dan kamu! 

Jika membaca penjelasan dari dua peneliti di atas maka „Aging“ bukanlah sebuah pilihan untuk siapapun. Lalu apa yang terjadi pada proses penuaan?


Proses Penuaan

Grey Hair

Mengutip dari BBC Science Focus, perhari rambut yang sehat bisa tumbuh sekitar 0,3 hingga 0,4 mm, jika dihitung perbulan mencapai 1 hingga 1,5 cm atau pertahun kira-kira 12 sampai 18 cm dan tidak pada saat yang bersamaan. Rambutku tumbuh lebih dari 1,5 cm perbulan. Selain mempengaruhi pigmen warna, Aging juga mempengaruhi kelebatan rambut, bahkan bisa menuju kebotakan bagi sebagian orang. StatPearls Journal menulis bahwa cepat dan lambatnya tumbuh atau berkurangnya rambut tergantung pada hormon, tingkat stress, penyakit atau kesehatan seseorang. Bagaimana caranya agar grey hair tetap sehat aku bahas di halaman “Over 50?” silahkan nanti lihat di sana ya.

Mengapa rambut bisa memutih? 

Folikel rambut tidak langsung memproduksi warna rambut putih, kecuali jika kamu terlahir “Albino” karena adanya kelainan mutasi gen yang menangani produksi melanin di kulit, rambut atau mata [“What is Albinism?”, National Organization for Albinism and Hypopigmentation]. Ketika folikel rambut memproduksi rambut dengan warna yang telah ditentukan, apakah itu hitam, coklat, merah atau blond maka warna yang tumbuh tidak akan pernah berubah kecuali jika kita mewarnai rambut. Seiring dengan bertambahnya usia, ketika folikel rambut mengalami penuaan dan regenerasi alami maka folikel akan memproduksi warna lebih sedikit dan berubah menjadi abu-abu. Disinilah faktor genetik dan lain-lain mulai berperan dalam proses cepat atau lambatnya penuaan atau regenerasi, seperti yang diungkapkan StatPearls Journal di atas. Bagaimana kita menghadapinya tergantung dari pandangan kita masing-masing. 


Tulang, Sendi dan Otot

Ketika memasuki usia 30 tahun penurunan kepadatan tulang terjadi pada pria dan wanita dan pada wanita akan dipercepat setelah menopause. Tulang menjadi lebih tipis dan kurang kuat. Tulang rawan dan tulang di persendianpun mulai melemah (Osteoporosis). Sendi juga terpengaruh oleh proses penuaan, karena tulang rawan artikular menjadi lebih tipis dan komponen tulang rawan (proteoglikan – zat yang memberikan resistensi pada jaringan tulang rawan) berubah, membuat sendi kurang kuat dan lebih rentan terhadap cedera karena lebih kaku dan kurang flexibel sehingga membatasi mobilitas sendi (Arthrose). Kerusakan otot (Sarkopenia) juga dimulai pada usia 30 tahun dan berlangsung seumur hidup. Jaringan otot dan jumlah serat otot secara bertahap menurun, demikian juga massa otot dan kekuatan otot hilang yang menyebabkan peningkatan beban pada sendi-sendi tertentu, misalnya lutut dan dapat mengakibatkan radang sendi atau jatuh. Serat otot juga mengalami proses penuaan. Pada otot yang dapat berkontraksi lebih cepat terjadi kerusakan lebih cepat pula daripada otot yang hanya dapat berkontraksi lebih lambat sehingga otot tidak bisa lagi melakukan kontraksi dengan cepat di usia tua [Manolagas SC, Parfitt AM. What old means to bone. Trends Endocrinol Metab 2010; 21:369-374].


Kulit dan Kuku

Kulit adalah hal pertama yang muncul atau terlihat saat proses penuaan terjadi. Peran utama kulit adalah menyediakan barikade terhadap ancaman eksternal, mengatur fungsi tubuh seperti suhu dan hidrasi, dan berkontribusi pada pertahanan kekebalan tubuh dan sintesis vitamin D. Proses penuaan dapat mengganggu keseimbangan antara sintesis kolagen dan degradasi, menyebabkan berkurangnya kepadatan kulit dan mengakibatkan terjadinya kekeringan, kendur dan kerutan-kerutan. Kulit menjadi lebih tipis dan kurang elastis dan kelenjar keringat menghasilkan lebih sedikit keringat. Seiring dengan bertambahnya usia kuku juga berubah. Kuku kita tumbuh lebih lambat dan mungkin menjadi kusam dan rapuh, mungkin juga menguning dan buram, mengeras dan tebal serta mudah patah. Selain karena proses penuaan perubahan pada kuku juga bisa dikaitkan dengan kekurangan zat besi, penyakit ginjal dan kekurangan nutrisi. [Lai-Cheong JE, McGrath JA. Structure and function of skin, hair and nails. Medicine. 2017; 45 (6): 347-351].


Sel Organ dan Jaringan tubuh

Sel adalah bangunan dasar sebuah jaringan dan seiring bertambahnya usia, sel-sel juga mengalami penuaan karena “Telomer” – ujung kromosom yang ada di dalam setiap sel – secara bertahap menjadi lebih pendek hingga akhirnya terlalu pendek dan mati. Selain Sel menjadi lebih besar dan kurang mampu membelah atau berkembang biak, terjadi juga peningkatan pigmen dan zat lemak (lipid). Produk limbah tersebut menumpuk di jaringan dan jaringan ikat di antara sel menjadi lebih kaku dan kehilangan massa (Atrofi). 

Membran sel berubah sehingga banyak jaringan mengalami lebih banyak kesulitan mendapatkan oksigen dan nutrisi dan menghilangkan karbon dioksian dan limbahnya. Hal ini membuat organ, pembuluh darah dan saluran udara menjadi lebih kaku dan perlahan-lahan kehilangan fungsi [Wallston JD. Common clinical sequelae of aging. In: Goldman L, Schafe Al, eds. Goldman-Cecil Medicine. 26Th ed. Philadelphia, PA: Elsevier; 2020:chap 22].


Jantung dan Pembuluh Darah

Setiap kita mendengar jantung berdetak, saat itulah jantung sedang memompa darah yang mengalir melalui arteri dan vena kita, membawa oksigen dan nutrisi melalui tubuh kita. Seiring dengan bertambahnya usia, dinding jantung menjadi lebih tebal, otot jantung menjadi kurang efisien dan bekerja lebih keras untuk memompa jumlah darah yang sama. Demikian juga Aorta (arteri utama tubuh) menjadi lebih tebal, kaku dan kurang fleksibel sehingga banyak arteri tubuh, termasuk arteri yang memasok darah ke jantung dan otak, perlahan-lahan mengembangkan aterosklerosis, meskipun kondisinya tidak pernah menjadi parah pada beberapa orang. Pembuluh darah yang mengeras, penyumbatan yang menumpuk mebuat sistem menjadi rentan terhadap peradangan dan meningkatkan risiko disfungsi organ. [Kucharska-Newton AM, Stoner L, Meyer ML. Determinants of vascular age: an epidemiological perspective. Clin Chem. (2019) 65 (1):108-118. doi: 10.1373/clinchem.2018.287623]


Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan memiliki banyak cadangan yang dibangun di dalamnya sehingga proses penuaan memberikan efek kecil pada fungsi sistem pencernaan. Pergerakan makanan melalui sistem pencernaan menjadi lebih lambat. Perut, hati, pankreas dan usus kecil menghasilkan cairan pencernaan dalam jumlah yang lebih kecil. Obat-obatan yang dikonsumsi pada masa penuaan atau sebelumnya juga akan berpengaruh pada sistem pencernaan di masa tua. Seiring bertambahnya usia, perut kita menghasilkan lebih sedikit asam dan tanpa perlindungan asam, obat-obatan yang keras pada perut, seperti ibuprofen, mungkin menjadi lebih sulit untuk ditanggung. Otot-otot disaluran pencernaan, termasuk kerongkongan dan usus akan melemah, menyebabkan peningkatan gejala seperti refluks asam atau sembelit [Didier Remond, et al. Understanding the dastrointestianl tract of the elderly to develop dietary solutions that prevent manutrition. PMCID: PMC4546438 PMID: 26091351. Oncotarget. 2015 May 27;6(16):13858 - 13898. doi:10.18632/oncotarget,4030].


Otak dan Sistem Saraf

Penuaan mempengaruhi semua bagian dari sistem saraf seperti otak, sum-sum tulang belakang, dan saraf perifer. Fungsi otak berkembang ketika melewati masa kanak-kanak, dewasa hingga usia tua. Saat penuaan, pada usia tertentu beberapa area otak berkurang ukurannya hingga 1% per tahun pada sebagian dari kita tetapi tanpa kehilangan fungsi. Seiring bertambahnya usia, jumlah sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang menurun. Jumlah koneksi antara sel-sel saraf menurun dan struktur abnormal, yang dikenal sebagai plak dan kusut, dapat terbentuk di otak. Dengan demikian penurunan fungsi otak saat penuaan dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang mencakup perubahan bahan kimia otak (neurotransmitter), perubahan sel saraf itu sendiri, zat beracun yang menumpuk di otak dari waktu ke waktu, perubahan aliran darah ke otak, dan faktor genetik. [Martin J, Li C. Normal cognitive aging. In: Fillit HM, Rockwood K, Young J, eds. Brocklehurt’s Textbook of Geriatri medicine and Gerontology. 8Th ed. Philadelpia, PA; Elsevier; 2017:chap 28].


Mata dan Telinga

Proses penuaan juga membuat penglihatan berkurang. Secara fisiologi jaringan mata tidak bisa beradaptasi lagi menerima kontrast dan cahaya yang berbeda. Retina menjadi lebih tipis, iris menjadi lebih kaku dan lensa menjadi kurang jelas. Penurunan akomodasi lensa di usia 45 tahun disebabkan oleh perubahan struktural lensa, serat zonularnya (alat gantung) dan tendon otot siliaris atau otot siliaris [Donaldson PJ, Grey AC, et al.: The physsiological optics of the lens. Prog Retin Eye Res 2017; 56: e1-24].

Menurut kriteria WHO gangguan pendengaran muncul di usia 60 hingga 69 tahun. Selain faktor gangguan lingkungan di sekitar, penyakit dan proses penuaan dapat berpengaruh juga terhadap berkurangnya kemampuan indra pendengaran seseorang [Fischer N, et al.: Presbyakusis- Altersschwerhörigkeit. Laryngo-Rhino-otol 2016; 95:497-510]. Prof. Dr. Med Timo Stoever, direktur Klinik HNO di Universtaetsmedizin Frankfurt am Main menambahkan adanya faktor genetik yang menentukan apakah seseorang akan mengalami gangguan pendengaran atau tidak. Beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa, mendengarkan volume suara setinggi 85 dezibel lebih dari 8 jam sehari dapat merusak sel-sel rambut yang berfungsi untuk mengubah energi mekanik gelombang suara menjadi impuls saraf dan seiring dengan waktu dan proses penuaan, sel-sel rambut tidak lagi mengalami regenerasi. Dinding saluran telinga menjadi lebih tipis dan gendang telingapun menjadi lebih tebal [Mylife Apothekenmagazin: 4/15. Februar 2025: p.30]. Selain itu gangguan pendengaran bisa menyebabkan rasa pusing dan mengurangi kemampuan tubuh untuk menjaga keseimbangan. Keterbatasan fungsi pendengaran juga berdampak negatif pada kehidupan seseorang karena mengalami isolasi sosial hingga depresi [Deal JA, Reed NS, Kravetz AD, et al.: Incident hearing loss and comorbidity: a longitudinal administrative claims study. JAMA Otolaryngol Head Neck Surg 2019, 145:36-43].


Tanda-tanda vital penuaan lainnya adalah lebih sulitnya bagi tubuh untuk mengontrol suhu. Detak jantungpun membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali normal setelah berolahraga. Bagi wanita gejala ini sangat terasa pada saat Menopause. Bagaimana wanita mengalami fase ini silahkan lihat di tema Menopause, di bawah ini ya. 


Upload: 8 Maret 2025


feuer

Menopause

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Apa itu Menopause?

Menurut WHO menopause ditandai dengan berakhirnya menstruasi bulanan juga dikenal sebagai periode menstruasi atau “lagi merah” karena hilangnya fungsi folikel ovarium. Ini berarti bahwa ovarium berhenti melepaskan telur untuk pembuahan.

Pada tahun-tahun sebelum dan sesudah periode menstruasi terakhir, wanita sedang dalam masa menopause. Menopause atau istilah teknisnya „Klimakterik“ adalah transisi dari fase kehidupan di mana wanita dapat memiliki anak ke fase kehidupan di mana kehamilan tidak lagi memungkinkan. Menopause biasanya dimulai antara usia 45 dan 55 tahun. Ovarium secara bertahap menghasilkan lebih sedikit hormon seks, ovulasi lebih sering tidak ada dan kesuburan menurun. Menstruasi sering datang lebih tidak teratur, siklusnya pun lebih pendek atau lebih panjang, kemudian periode menstruasi akan berakhir sepenuhnya. Periode menstruasi terakhir itu disebut Menopause. Beberapa wanita mengalami menopause lebih awal (sebelum usia 40 tahun). Menopause dini ini mungkin disebabkan oleh kelainan kromosom tertentu, gangguan autoimun atau penyebab lain yang tidak diketahui. Sampai perubahan hormon berakhir biasanya memakan waktu hingga beberapa tahun [ https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/menopause ].

 

Apa saja tanda-tanda Menopause? 

Selama menopause, perubahan hormon terjadi pada tubuh wanita. Mereka dapat disertai dengan tanda-tanda tubuh yang berbeda sampai organisme secara bertahap menyesuaikan diri dengan situasi baru. Seringkali perubahan dalam siklus bulanan terjadi lebih dini. Interval antara periode menstruasi kadang singkat atau lebih lama. Pendarahan mungkin menjadi lebih banyak atau lebih sedikit. Namun fluktuasi siklus tidak terjadi pada semua wanita. Jika pendarahan terjadi lagi setelah menopause, ini selalu menjadi alasan untuk menemui dokter dan diperiksa.


Hot flashes, berkeringat dan keringat malam

Banyak wanita merasakan hot flashes berulang selama masa menopause. Bagaimana tepatnya kondisi ini muncul tidak jelas. Dalam banyak kasus, gelombang panas yang tiba-tiba menyebar ke leher, wajah dan tubuh bagian atas datang begitu saja. Wajah memerah dan ada keringat berlangsung selama beberapa menit. Beberapa wanita merasakan jantung berdebar, setelah itu sering menggigil kedinginan. Penelitian telah menunjukkan bahwa hot flashes bisa terjadi pada tahun-tahun sebelum periode menstruasi terakhir, saat periode menstruasi terakhir atau sesudah pasca menopause. Beberapa wanita juga berkeringat lebih banyak di malam hari selama masa menopause dan ini dapat mengganggu tidur. Hot flashes terkait menopause tidak berbahaya. Banyak wanita tidak menganggapnya sebagai hal yang tabu, tetapi menghadapinya secara terbuka dan santai. Tergantung pada situasi kehidupan, hot flashes bisa membuat stres jika sering terjadi dan parah, tetapi ada juga yang merasakan lebih banyak panas tubuh dengan menyenangkan.


Keluhan di area genital

Perubahan hormon dapat menyebabkan selaput lendir di area genital menjadi lebih tipis, lebih kering dan lebih rentan terhadap cedera sehingga membuat wanita mungkin merasa sakit saat berhubungan seks. Selaput lendir uretra juga dapat terpengaruh mengakibatkan infeksi saluran kemih. Perubahan ini biasanya terjadi setelah menopause dan tidak semua wanita mengalaminya. 


Insomnia

Masalah tidur sering dikaitkan dengan menopause. Peningkatan keringat di malam hari bisa menjadi penyebabnya. Tidur malam yang terganggu dapat mempengaruhi kinerja dan menyebabkan kelelahan di siang hari. 


Perubahan suasana hati (mood), kegelisahan dan ketakutan

Menopause banyak dibahas sebagai penyebab moody, depresi, kurangnya motivasi, gugup, kecemasan dan kegelisahan batin. Gejala-gejala ini dapat menjadi konsekuensi dari hot flashes yang parah, terutama jika terjadi pada malam hari dan kurang tidur. 


Peningkatan berat badan

Wanita sering menjadi lebih kenyang seiring bertambahnya usia. Lemak tubuh dapat didistribusikan secara berbeda, kelebihan berat badan menumpuk lebih banyak di perut. Ini terjadi baik pada wanita maupun pria baya.


Osteoporosis dan peningkatan risiko kardiovaskular

Sampai menopause, wanita jarang mengalami penyakit tulang osteoporosis dan penyakit kardiovaskular. Dengan bertambahnya usia dan perubahan hormon, risiko penyakit ini meningkat. 

[ https://www.gesundheit.gv.at/krankheiten/sexualorgane/weibliche-hormone-zyklus/wechseljahre-koerper-hormone.html ]


Penting untuk diketahui bahwa bagaimana wanita mengalami transisi menopause dapat bervariasi. Tingkat keparahan gejala berbeda pada ras dan etnis individu. Besarnya risiko penyakitpun tergantung pada riwayat penyakit individu dan gaya hidup individu. 

Jika ingin mengetahui mengapa keluhan di atas terjadi pada usia senja, silahkan lihat Artikel tema Aging yang aku tulis di atas. Di sana bisa kita lihat adanya hubungan antara proses penuaan dan menopause. 

Terimakasih atas perhatiannya...


Upload: 16 Maret 2025