Burn Out
„How well I know with what burning intensity you live. You have experienced many lives already, including several you have shared with me-full rich lives from birth to death, and you just have to have these rest periods in between“ [Anais Nin]
Contents
Apa itu Burn Out?
Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann
Pernahkah kamu mengatakan, „aku nggak kuat lagi, kerja keras tapi nggak dihargai, sudah berusaha tapi nggak ada hasilnya, stres, tenagaku habis, badan dan mentalku capek!“
Pada tahun 1974 Herbert Freudenberger, seorang psychoanalitiker dari New York memperkenalkan definisi Burn Out setelah menganalisa beberapa pasien yang mengalami kelelahan yang berlebihan hingga mempengaruhi kesehatan fisik dan mental mereka. Secara teori, Maslach mengasumsikan kelelahan emosional, depersionalisasi dan penurunan kinerja sebagai dimensi sentral Burn Out [Maslach et al., 1996; Maslach und Leiter, 2005, 2006, 2021].
Burn Out terjadi akibat tekanan berat di tempat lingkungan bekerja yang sudah menjadi kronis dan tidak bisa ditangani oleh penderita. Beban kerja yang berlebihan karena memiliki terlalu banyak tanggung jawab. Kurangnya dukungan atau apresiasi dalam artian merasa tidak diakui dan dihargai serta tidak tertantang karena kurangnya keterlibatan atau karena ketidakpuasan akan pencapaian yang diraihnya. Ketidakseimbangan kehidupan karena mengorbankan kehidupan pribadi untuk bekerja yang pada akhirnya menimbulkan kekecewaan, gejala psikomatik dan depresi. Agresivitas dan peningkatan risiko kecanduan juga muncul, terutama pada penderita laki-laki. Menurut sebuah penelitian tahun 2012 yang dilakukan oleh Robert Koch Institut di Jerman, wanita yang menderita Burn Out sebanyak 5,2% dan pria sebanyak 3,3%. Para wanita yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka juga mengalami gangguan tidur, gangguan siklus dan peningkatan rasa sakit selama menstruasi. Lalu berapa banyak penderita Burn Out di tahun ini? Berkurangkah atau semakin bertambah? Dan tanpa disadari apakah kita juga sedang mengalami krisis Burn Out?
Diagnosa
Karakteristik yang diperlihatkan pada penderita Burn Out adalah kelelahan total secara fisik, mental dan emosional. Kelelahan fisik hingga muncul gangguan tidur walaupun penderita sudah menggunakan banyak waktu untuk tidur namun perasaan lelah tidak hilang dan energi tidak bertambah. Adanya masalah konsentrasi, berpikir dan memori serta ketidakmampuan untuk membuat keputusan dan berkurangnya inisiatif, kreativitas dan imajinasi. Keluhan fisik yang lain adalah meningkatnya tekanan darah, sakit kepala, sakit leher bagian belakang, punggung dan pinggul, masalah pencernaan, sesak dada atau sulit bernafas, tinitus dan gangguan seksual serta melemahnya imun tubuh sehingga rentan terhadap penyakit menular.
Secara mental penderita menjadi acuh dengan tugas dan pekerjaan (profesinya), memiliki perasaan negatif dan sinisme yang terkait dengan profesi yang ditekuni, adanya perasaan tidak efektif, kurangnya penghargaan dan menurunnya energi dan kinerja pencapaian. Kelelahan yang sudah kronis ini hanya mengacu pada konteks pekerjaan selama beberapa periode waktu bekerja dan bukan pengalaman di bidang kehidupan lainnya serta tidak terkait dengan gangguan stress, anxiety (kecemasan dan ketakutan) atau gangguan suasana hati seperti depresi atau bipolar.
Namun demikian secara emosional penderita Burn Out merasa lemah, sering menangis dan mengisolasi diri. Rasa empati yang hilang menyebabkan konflik dalam bersosialisasi baik di lingkungan kerja, keluarga dan lingkungan sekitarnya. Penderita mengalami kegelisahan yang terus menerus, ketidakpedulian total dan sinisme yang berlebihan (kepahitan).
[Referensi sindrom burn out diambil dari website ICD-11 WHO]
Jika kelelahan yang kita rasakan tidak hilang, bahkan mulai terlihat adanya gangguan kesehatan fisik dan mental maka langkah terbaik yang bisa diambil sebelum semua menjadi parah adalah menemui konselor untuk meminta bimbingan dalam penjelasan permasalahan, mengunjungi dokter untuk pemeriksaan selanjutnya dan mendapatkan rujukan ke klinik psikologis, menemui psikolog atau psikiatri agar memperoleh psikoterapi dan farmakoterapi jika kondisi sudah parah.
Diagnosis biasanya dilakukan dengan menggunakan kuesioner standar ERI (The Effort-Reward Imbalance) agar dapat menentukan apakah gejala-gejala yang ada menunjukan kelelahan murni atau penyakit mental lainnya. Kuesioner struktural dan model apresiasi kinerja (ERI) yang dikembangkan oleh Siegrist di tahun 1996 melihat kelelahan sebagai akibat dari stressor dan ketidakseimbangan antara kinerja dan apresiasi yang diterima. Fase awal ditandai dengan meningkatnya komitmen dan fase terakhir dengan mengabaikan kebutuhan dan penarikan diri (isolasi dan depresi) [Laura Manns, Claus Vögele, et al.: Effort-reward-imbalance, burnout, and physical pain mediate the relationship between overcommitment and depression in German Emergency Medical Technicians, Journal of Occupational Medicine and Toxicology 20, Article number: 15 (2025)].
Tiga perempat dari penderita yang mengalami Burn Out disertai dengan depresi dan gangguan kecemasan. Selain itu akan diklarifikasi apakah penyebab organik seperti penyakit tiroid berada di balik permasalahan ini.
Penyebab Burn Out
Walaupun faktor penentu penderita Burn Out terletak pada kinerja pencapaian di bidang pekerjaan, Burn Out sebenarnya tidak disebabkan karena satu permasalahan saja melainkan karena beberapa faktor. Selain adanya kebutuhan yang tinggi akan penghargaan dan pengakuan (apresiasi), penderita menyukai keharmonisan dan memiliki keinginan untuk menyenangkan semua orang yang berada di sekitarnya tanpa memperhatikan kondisi fisik dan psikis dirinya sendiri. Individu yang memiliki karakter perfeksionis biasanya selalu memberikan 150%! Individu yang tidak bisa menolak dan mengatakan „tidak“ suatu saat akan merasa seperti tikus hamster yang selalu berlari di atas roda yang berputar atau seperti boneka Marionette yang selalu melakukan apa yang orang lain kehendaki sehingga secara permanen selalu berada di bawah tekanan (stres). Dalam beberapa kasus, komitmen yang berlebihan ini biasanya meluas sampai ke aspek kehidupan yang lain. Jika sudah meluas dan tidak bisa terkendali karena ekspetasi terlalu tinggi, tidak sesuai dan tidak realistis sehingga tujuan yang diinginkan tidak tercapai maka akan muncul perasaan kecewa. Kekecewaan akan menimbulkan perasaan negatif, tidak suka, sinis, anti, menjadi agresif dan lelah karena apa yang dikejar tidak bisa diraih. Tujuan hidup yang tidak realistis dan tidak bisa diwujudkan akan membuat rasa percaya diri berkurang, membuat individu merasa tidak berarti, down, merasa kosong hingga depresi.
Cara mengatasi kelelahan
Burn Out tidak diakui sebagai penyakit. Dalam katalog diagnostik ICD-11 Burn Out hanya didefinisikan sebagai sindrom, yaitu kombinasi dari berbagai gejala karena stres kronis di tempat kerja yang tidak bisa ditangani oleh penderita. Sampai hari ini, Burn Out belum diteliti secara memadai dan karena selalu berakhir dengan kondisi depresi berat maka perawatannya sering kali didasarkan pada pengobatan depresi. Ada beberapa langkah yang dapat membantu dalam mengatasi kelelahan yang berlebihan akibat tekanan di tempat kerja, salah satunya adalah dengan mengenali dan mengidentifikasi pemicu stres dan tuntutan yang berlebihan pada diri sendiri. Mencari bantuan atau dukungan emosional untuk mencari solusi alternatif dan melihat perspektif ke depan, membicarakannya dengan teman, keluarga, rekan kerja dan pimpinan. Menciptakan batasan antara waktu untuk bekerja dan urusan pribadi serta meminimalkan multi tasking. Jika sudah kronis dan mengganggu kesehatan fisik dan mental maka langkah terakhir yang di ambil adalah mencari intervensi bantuan profesional melalui prosedur konseling dan psikoterapi serta pengobatan (farmakoterapi) jika diperlukan.
Terapi
Gejala ringan dapat dibantu dengan memasukkan waktu istirahat untuk pemulihan di antara jadwal-jadwal kesibukan. Mempelajari manajemen waktu untuk meningkatkan keseimbangan hidup kita. Work-Life Balance merupakan istilah yang digunakan untuk menyeimbangkan waktu bekerja dengan waktu pemulihan. Kegiatan yang bisa dilakukan seperti olah raga, bertemu dengan teman (bukan rekan kerja), sahabat dan sanak saudara atau melakukan perjalanan ke alam (traveling sendiri, dengan keluarga atau teman/sahabat) agar terjadi perubahan suasana. Istirahat, tanpa melakukan sesuatu agar dapat melakukan self reflection, meditasi atau yoga, mempelajari teknik relaksasi (Training autogenik atau relaksasi otot menurut Jacobson) yang mengurangi stres.
Jika gejala tidak lagi ringan dan kita sudah kewalahan, maka dukungan dari konselor dan dokter dapat dicari. Mengatasi Burn Out dapat dilakukan secara rawat jalan atau di klinik psikosomatik, di mana rehabilitasi akan diberikan. Terapi Burn Out memakan waktu antara tiga dan enam minggu. Keuntungan jika saat terapi tinggal di klinik adalah kita keluar dari lingkungan hidup sehari-hari dan lingkungan kerja. Psikoterapi yang diberikan adalah terapi perilaku yang bertujuan untuk mengidentifikasi pola perilaku yang telah menyebabkan kelelahan kronis dan untuk mengubahnya. Mengidentifikasi stres kita sendiri dan mempelajari manajemen stres untuk melindungi diri dari hal-hal yang membuat kita stres. Dalam beberapa kasus berat terapi obat (farmakoterapi) seperti misalnya obat antidepresan akan diberikan.
Kapan Burn Out berakhir? Durasi terapi dapat berlangsung selama beberapa minggu, beberapa bulan hingga satu tahun, tergantung pada tingkat gejala, pada kemungkinan penyakit psikologis lain yang muncul bersamaan dan pada kondisi dan kebutuhan individu.
Jika tidak ada apresiasi, dukungan dan perubahan dari lingkungan kerja (pimpinan, rekan kerja atau anak buah) maka terkadang perubahan mendasar yang harus kita lakukan adalah mengundurkan diri, mencari profesi pekerjaan yang sama di lingkungan kerja yang baru atau mengganti profesi pekerjaan dengan menambah pendidikan dan pelatihan baru.
Preventif
Mengenal pemicu stres dan menyadari akan adanya perubahan situasi dan kondisi kehidupan sejak awal adalah sangat penting untuk mencegah keparahan. Satu yang perlu kita perhatikan kelelahan kronis tidak saja terjadi di lingkungan pekerjaan tetapi bisa juga terjadi saat masih di masa pendidikan, di sekolah dan di kampus.
Aku memiliki beberapa pertanyaan untuk refleksi diri dan menyebutnya „Tool of Burn Out awareness!“
Apakah kita merasa seperti dibutuhkan di mana-mana dan harus siap sedia? Apakah ada perasaan tidak pernah memiliki cukup waktu? Apakah kita tidak bisa mengatakan „TIDAK“? Apakah konsentrasi kita terganggu? Adakah kesulitan dalam melakukan tugas yang kompleks? Apakah tidak puas dengan kinerja kita dan kinerja orang lain? Apakah mulai ada masalah-masalah dan konflik di tempat kerja, di sekolah atau di kampus, lingkungan keluarga dan lingkungan sosial lainnya? Apakah kita merasa tidak diakui dan dihargai? Apakah ada peningkatan konsumsi obat-obatan atau zat substansi lain? Apakah ada perubahan dalam kebiasaan makan dan tidur? Apakah kita mulai sakit-sakitan? Apakah selalu merasa tetap lelah walaupun sudah tidur dalam waktu yang lama? Apakah kita semakin tidak ramah? Apakah kita tidak lagi memiliki rasa humor? Apakah kita mulai mengasihani diri sendiri? Apakah kita mulai tidak percaya diri? Apakah kita mulai menarik diri dari lingkungan di sekitar kita (mengisolasi diri)?
Tanda-tanda peringatan sering diabaikan dan dianggap tidak serius oleh penderita Burn Out. Jika kita memperhatikan salah satu atau bahkan beberapa tanda di atas, kita harus menganggapnya serius dan mengamati perkembangannya dengan baik karena cepat atau lambat dapat menyebabkan kelelahan kronis.
Upload: 28 Agustus 2025