Chapter 2
Adlershof
Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann
“Erwin Schroeder” adalah nama sebuah salah satu gedung milik Humboldt universitaet di Adlershof, tempat Lia mengikuti kuliah selama satu semester ini. Sudah dua kali ia mengunjungi gedung itu. Di kantin yang terletak di dalam gedung itu pula kini Lia duduk. Sambil meneguk kopi ia mengenang semua peristiwa yang terjadi selama tiga minggu terakhir ini. Sudah tiga minggu lamanya ia tinggal di Berlin. Rasa sedih yang biasa menggeluti hatinya sudah mulai memudar. Ia telah menyelesaikan semua urusan keperluan studi dan menerima kartu mahasiswa yang dikirim oleh tukang pos dua hari yang lalu. Ia kini bisa bebas menggunakan bis, tram atau kereta di sekitar Berlin selama satu semester, oleh sebab itu kartu itu juga dinamakan ‘semesterticket’. Dengan kartu itu ia juga bebas meminjam buku-buku perpustakaan di kampusnya dan bahkan mendapat potongan harga jika pergi ke bioskop atau ke museum.
Lia sudah berkenalan dengan Profesor Carsten Hegemann dan membicarakan tentang tema disertasi yang akan ditulis. Lia mengutarakan keinginannya untuk meneliti perilaku anak-anak cacat mental dan apakah psikoterapi bisa diterapkan pada anak-anak yang memiliki daya pikir rendah. Profesor Hegemann mengatakan bahwa ia memiliki partner kerja yang juga sedang berkecimpung di bidang penelitian tersebut. Lia mendapat kartu nama partner kerja profesornya. Ia diminta untuk menulis proposal penelitiannya serta menyerahkan proporsal tersebut dalam jangka waktu dua bulan. Bersama dengan profesornya ia juga akan mengunjungi kantor Psychologie Forschungsinstitut dan bertemu dengan partner kerja profesor tersebut.
Lia tersenyum sambil memandangi HPnya. Ia baru saja menulis SMS dengan mamanya, mengabarkan bahwa setengah jam lagi kuliah pertamanya akan dimulai. Setelah menghabiskan Caramel Macchiatonya, ia bangun dan menuju ke ruang kuliahnya. Ruang kuliahnya cukup besar. Ia berjalan menuju ke barisan depan dan berhenti melangkah ketika sampai ke deretan tiga. Itu juga sudah menjadi kebiasaannya ketika ia masih kuliah di Jakarta. Ia tidak suka duduk di belakang. Beberapa mahasiswa sudah ada yang duduk di sana. Sebagian pria melongokkan kepalanya ketika ia melewati mereka. Lia duduk disebelah gadis berambut pirang. Mereka belum pernah melihat gadis asia yang memikat tersebut sebelumnya. Gadis pirang yang duduk disebelahnya juga tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
“Halo, Kamu baru disini? Aku belum pernah melihat kamu sebelumnya? Kamu bukan mahasiswi semester pertama bukan? Kamu datang dari Thailand?” tanya gadis itu penasaran.
“Ya, aku baru di sini” Lia menjawab pertanyaan gadis berambut pirang itu. “Hai, namaku Lia, dari Jakarta, Indonesia” Lia menyalami gadis itu. “Aku sebenarnya hanya ingin mengikuti beberapa kuliah untuk mencari tema yang akan diujikan dalam rangka penyetaraan diplom psychologie, sebelum aku mengambil program doktor” Lia tersenyum mendengar rentetan pertanyaan gadis pirang itu.
Karena gadis itu tidak mengerti apa yang dimaksud Lia dengan penyetaraan diplom psychologie maka Lia menjelaskannya lebih lengkap.
“O begitu, ah ya namaku Beate, Beate Bergemann, selamat datang di Berlin ya” katanya tersenyum. “Kita bisa ngobrol nanti di Cafe kalau kamu ada waktu?” kata Beate ketika ia melihat Profesor Hegemann memasuki ruangan tersebut. Profesor Hegemann menatap mahasiswa yang hadir di kuliahnya satu persatu dan ketika mendapati Lia duduk di sana, ia tersenyum. Lia juga mengangguk tersenyum.
“Beliau adalah calon Doktorvaterku” kata Lia menjelaskan, ketika melihat mata Beate seperti bertanya.
Di Cafe, Beate dan Lia saling memperkenalkan diri dan mengobrol seperti teman yang sudah lama kenal. Ketika mereka asik mengobrol terdengar bunyi suara Handy Beate. Beate mencari HPnya.
“Hai, sedang di Berlin?... ya, baik, seperti biasa... aku baru saja kenalan dengan teman kuliah dari Indonesia. Ya ok, nanti aku ceritakan dirumah, Tschuss” Kata Beate sambil menutup HPnya.
“Pacar?” tanya Lia tersenyum.
“Bukan, sepupuku, super sibuk. Dia sedang berada di Berlin” jawab Beate sambil mengeluarkan buku yang berisi daftar mata kuliah semester ini.
Hari itu mereka berdua mencari beberapa mata kuliah yang bisa diikuti bersama selama satu semester ini. Kebetulan Beate juga sedang mencari tema untuk penulisan Diplomarbeitnya, semacam skripsi untuk sarjana. Ketika waktu sudah menunjukkan jam tiga sore mereka bersama-sama menuju ke stasiun kereta dan naik kereta bersama. Lia sudah berjanji untuk menjemput Erik, karena itu ia tidak bisa mampir ke apartemen Beate yang tidak jauh dari situ. Di stasiun Uranienbuergerstrasse mereka berpisah dan berjanji untuk bertemu besok.
Upload: 25 maret 2025
Christian Wolfgang
Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann
Dr. Christian Wolfgang adalah peneliti muda tampan yang sudah pernah mendapatkan dua penghargaan untuk penelitian yang pernah dilakukannya. Di Gedung Psychologie Forschungsinstitut ini ia mendapat kesempatan bekerja sama dengan Prof. Hegemann untuk meneliti tentang penerapan psikoterapi bagi anak-anak yang memiliki daya pikir rendah. Penelitian ini baru dalam tahap persiapan, karena itu ia masih memerlukan beberapa asisten dalam pelaksanaannya.
Hari ini Prof. Hegemann akan memperkenalkan calon mahasiswa doktornya, yang juga bermaksud untuk meneliti bidang yang sama. Christian berharap bahwa calon doktor tersebut memiliki kemampuan untuk bisa menjadi asisten penelitinya, walaupun ia berasal dari Indonesia. Ia belum pernah berurusan dengan negara berkembang yang satu ini. Christian pernah ke negara India, Hongkong, Jepang, Korea selatan dan Singapura tetapi belum pernah ke Indonesia. Seminggu yang lalu ia sibuk mencari Informasi tentang Indonesia dan baru tahu bahwa Bali terletak di Indonesia dan bukan di Thailand. ‘Negara yang indah’ pikirnya. Ia bangun dari tempat duduknya ketika mendengar ketukan di pintu. Christian membuka pintu dan terkejut melihat sosok seorang gadis asia cantik dihadapannya. Rambut hitam gadis itu terurai panjang dan poninya jatuh ke pipinya yang kuning bersih. Blaser putih itu terbuka sedikit dan memperlihatkan kemeja hijau tua ketat yang dikenakan gadis itu. Dengan rok yang berwarna sama dan sepasang sepatu putih berhak tinggi membuat sosok gadis itu semakin sempurna. Ketika Christian memandang mata gadis itu, jantungnya berdegup keras.
“A-Anda mahasiswa Prof. Hegemann?” tanya Christian gugup.
“Ya. Beliau harus ke toilet dulu. Saya ingin bertemu dengan Dr. Christian Wolfgang” jawab Lia lembut sambil tersenyum.
“Saya..eeem Christian, mari, silahkan masuk” kata Christian kaget mendengar suaranya sendiri yang tiba-tiba serak.
“Trimakasih, saya Lia, Katharina Lia” kata Lia.
“Belajar bahasa Jerman dimana? Bahasa Jerman anda sudah terdengar bagus” tanya Christian sambil menutup pintu.
“Papa saya adalah guru besar bahasa Jerman di Universitas di Indonesia. Saya belajar darinya dan pernah mengikuti kursus di Goethe Institut Jakarta” jelas Lia.
“Ah disana juga ada Goethe Institut?” tanya Christian lagi.
“Ya, Deutsche Internationale Schule, Siemens, Bayer Pharmasi juga ada di sana” Lia menjelaskan lebih lengkap sambil tersenyum.
“O ma’af, saya belum pernah kesana, jadi saya tidak tahu apa-apa” kata Christian malu.
“Tidak apa-apa, Indonesia memang tidak terlalu dikenal” kata Lia mengerti dan menengok ke belakang ketika pintu terbuka.
“Ah, kalian sudah berkenalan? Ya, Christian. Ini calon mahasiswa doktorku. Sekarang dia milikmu” kata Prof. Hegemann yang membuat pipi Christian merah.
“Ya, Proposal penelitian anda sudah ada ditangan saya. Saya ingin tahu bagaimana ide anda untuk melakukan penelitian tersebut” tanya Christian sambil memandang gadis itu dan ia berharap gadis itu bisa memberikan Ide yang bagus sehingga ia bisa menerima gadis itu menjadi asistennya.
“Saya sebenarnya belum tahu perilaku mana yang akan saya teliti. Langkah saya yang pertama adalah saya ingin melihat bagaimana tingkah laku anak-anak cacat mental di panti asuhan. Yang saya perlukan saat ini adalah sebuah panti asuhan, tempat dimana saya bisa bekerja dan meneliti. Jika saya sudah mengumpulkan data-data survey, maka saya akan mulai menentukan perilaku mana yang akan saya teliti. Lalu saya akan memilih anak-anak yang akan diberi psikoterapi dan yang tidak di beri psikoterapi secara acak. Bila sudah ditentukan maka terapi tersebut bisa anda mulai. Selanjutnya penerapan dan hasilnya bisa diteliti serta dievaluasi” kata Lia menjelaskan sambil menatap Christian dan profesornya bergantian. Profesor Hegemann memandang Christian sambil mengangguk dan berkedip.
“Ok, sekarang saya bisa tinggalkan kalian berdua. Mulai sekarang Christian akan berada disamping Anda. Bila anda memerlukan saya, anda punya nomor kantor saya dan tahu dimana anda bisa menemui saya” kata Prof. Hegemann berdiri dan menjabat tangan Lia.
“Christian” kata Prof. Hegemann sambil mengulurkan tangannya.
“Profesor” sahut Christian menyambut tangan Prof. Hegemann dan mengantarnya keluar pintu.
“Ok, kapan anda bisa mulai bekerja disini?” tanya Christian
“Bekerja?” tanya Lia tidak mengerti.
“Ya, saya sedang memerlukan seorang asisten dan ide anda sudah disetujui Profesor” jawab Christian. Lia kini mengerti apa maksud anggukan dan kedipan Profesornya tadi.
“Oh, saya baru mengikuti beberapa kuliah untuk mengikuti ujian pengakuan Diplom Psychologin saya, tapi semua itu tidak banyak” kata Lia sedikit ragu.
“Tidak apa-apa, anda bisa memilih bekerja 15 jam, 20, 25, 30 atau 35 jam dalam seminggu. Semua itu bisa diatur sesuai dengan waktu kuliah anda” kata Christian menjelaskan.
“Kalau begitu saya memilih 20 jam seminggu dulu. Setelah selesai ujian, saya akan menambah jam kerja” jawab Lia yakin.
“Baik, karena anda sudah di sini, saya bisa sekaligus menunjukkan ruangan-ruangan yang akan sering anda gunakan selama bekerja di sini” kata Christian berdiri sambil mempersilahkan Lia keluar dari ruangannya.
Lia berjalan disamping Christian dan melihat seluruh ruangan tersebut. Gedung penelitian tersebut memiliki banyak sekali ruangan. Christian hanya menunjukkan ruangan-ruangan yang digunakan dalam rangka penelitian mereka. Ruangan tersebut terdiri dari ruang untuk para peneliti dan asistennya, ruang scan untuk membaca (scaning) angket-angket yang sudah diisi oleh responden, ruang percobaan dan pengamatan, ruang meeting, ruang seminar dan konferensi, studio foto dan film untuk mengabadikan hasil pengamatan dan penelitian mereka, perpustakaan yang besar, dimana mereka bisa dengan nyaman mencari dan membaca literatur penelitian. Toilet dan bahkan kamar mandi bagi peneliti yang terpaksa harus tidur disana juga tersedia. Setelah seluruh ruangan ia jelajahi, mereka kembali ke ruang kerja Christian.
Di ruang kerjanya, Christian menjelaskan surat-surat apa saja yang diperlukan untuk bekerja di sana. Lia memutuskan untuk mulai bekerja di sana dua minggu yang akan datang karena ingin menyelesaikan surat-surat yang diminta Christian lebih dahulu tanpa stres.
“Kalau begitu sampai dua minggu yang akan datang” kata Christian.
“Ya, sampai dua minggu mendatang dan terimakasih untuk semuanya” jawab Lia tersenyum memandang Christian.
Mereka berjabatan tangan dan Lia keluar dari ruang kerja Christian. Christian berjalan menuju ke jendela, membuka tirai jendela dan tersenyum melihat Lia melenggang menuju ke halte bis. Selama ini ia tidak pernah memperdulikan wanita asia yang sering ia temui di jalan, di kampus, di tempat praktek dokternya ataupun di negara-negara asia yang pernah ia kunjungi. Tapi, kali ini ia tidak bisa menahan diri untuk memandang gadis itu dari kejauhan, hanya untuk melihat bagaimana gadis itu menggerakkan seluruh bagian tubuhnya. Christian pernah menjalin hubungan kasih dengan teman kuliahnya, tapi terputus karena tidak tahan menghadapi kehidupan borjuis gadis itu. Setelah memutuskan hubungan, ia tidak pernah jatuh cinta lagi karena terlalu sibuk dengan karirnya. Kehadiaran gadis asia itu telah membuat hidupnya kembali berseri.
Upload: 31 Maret 2025
Bersambung ke Chapter 3
Jika ingin mengetahui akhir cerita dari novel ini, hubungi aku lewat email dan novel "Kaviar Dan Psycho" berupa data PDF akan aku kirimkan padamu.