Bipolar
"If I can't feel, if I can't move, if I can't think, and I can't care, then what conceivable point is there in living?" [Kay Redfield Jamison]
Apa itu Bipolar?
Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann
Sebelum kita bicara tentang bipolar perlu dimengerti bahwa unipolar adalah episode depresi yang muncul tanpa fase “Mania”. Dengan munculnya fase mania ini maka ada dua tipe fase episode yang dihadapi oleh penderita. Uni, berarti satu dan Bi berarti, dua. Gangguan bipolar adalah gangguan suasana hati episodik yang ditentukan oleh adanya episode Mania, Mixed atau Hypomania dalam waktu yang bersamaan atau bergantian selama periode episode depresi terjadi.
Tanda-tanda fase Mania yang diperlihatkan adalah mood bahagia yang berlebihan (Euphoria), bingung dan labil, meningkatnya energi dan aktifitas. Penderita menjadi lebih banyak bicara, ide pikirannya mengalir cepat tetapi tidak logis dan melompat dari topik satu ke topik yang lain. Tumbuhnya rasa percaya diri yang berlebihan dan munculnya delusi atau halusinasi dalam bentuk auditiv (mendengar suara), somatis atau taktil dan percaya akan adanya konspirasi yang kadang membuat penderita agresif dan melakukan tindakan penganiayaan. Dalam bentuk visual jarang ditemukan. Adanya gangguan tidur (insomnia), kesulitan untuk konsentrasi, impulsif dalam membuat keputusan, melakukan tindakan tanpa rencana dan tidak melihat dampak negatifnya. Demikian juga dengan meningkatnya dorongan seksual, kemampuan bersosialisasi dan aktivitas yang diarahkan langsung ke tujuan.
Yang perlu diperhatikan di sini adalah gejala mania yang diperlihatkan bukan akibat dari penggunaan obat-obat medis atau zat stimulan yang berhubungan dengan penyakit saraf seperti stroke, tumor otak atau yang lain dan Euphoria yang diperlihatkan tidak sesuai dengan konteks (mood setelah juara lomba, dapat hadiah, pekerjaan baru atau yang lainnya?)
Gangguan bipolar episodik mixed disebutkan bila dalam satu periode terlihat adanya gabungan antara fase mania yang sudah aku sebutkan di atas dengan fase depresi yang tanda-tandanya bisa dilihat di artikel > “Depression” yang sudah aku tulis ya. Gejala depresi dan mania yang datang bergantian dalam satu periode ini bisa diamati pada mood penderita yang naik turun (labil) seperti euphoria dan sedih terpuruk (disphoria), sulitnya mengontrol reaksi emosional (agresif), ekspresi verbal (banyak bicara atau diam), kurang atau tingginya hasrat dan nafsu (seksual dan makan), cepat atau lambatnya fungsi kognitif (konsentrasi dan ingatan) dan muncul atau tidaknya delusi atau halusinasi.
Pada gangguan bipolar episode hypomania gejala yang diperlihatkan sama dengan episode mania namun tidak dengan ukuran yang berlebihan. Penderita hanya membutuhkan waktu sedikit untuk tidur tetapi tidak terlihat lelah. Mood yang labil tidak menyebabkan gangguan yang nyata, tidak membuat kesulitan dalam membina hubungan dengan orang lain dan tidak mengakibatkan disfungsi di segala bidang atau dalam kegiatan sosial biasa serta tidak disertai delusi atau halusinasi. Episode Hypomania seringkali sulit dibedakan dari periode normal, terutama jika melihat tidak adanya disfungsi. Agar dapat dikategorikan sebagai episode hipomania, gejala yang diperlihatkan harus benar-benar berbeda dengan tipe asli mood dan perilaku individu tersebut. Jika hanya ada satu atau lebih episode Hipomanik tanpa riwayat tambahan jenis episode lainnya seperti Mania, depresi atau mixed episodik maka ini tidak bisa dikategorikan sebagai mood disorder.
Gangguan bipolar yang dimiliki akan menyulitkan individu untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri, keluarga dan lingkungan sosial mengakibatkan disfungsi di segala bidang, baik pendidikan, pekerjaan dan bidang lain. Bila sudah akut, permanen, membahayakan diri sendiri (menyakiti diri sendiri dan munculnya keinginan untuk bunuh diri) serta membahayakan orang-orang disekitarnya, berdampak sosial dan menjadi masalah maka dibutuhkan adanya intervensi dan terapi.
[Referensi sindrom bipolar diambil dari website ICD-11 WHO]
Diagnosa
Gangguan bipolar agak sulit dipastikan pada masa kanak-kanak dan puber karena tantrum, imaginasi permainan, tingkah laku yang berlebihan dan pencarian identitas sangat rancu dengan fase mania yang disebutkan di atas. Aktivitas yang berlebihan dan tidak bisa konsentrasi pada satu hal, banyak bicara, impulsif bisa juga diasosiasikan sebagai ADHD (Attenttion Deficit Hyperactivity Disorder). Namun pada ADHD, tanda-tanda dimulai sebelum usia 12 tahun, permanen (bukan episodik) dan tidak temporal dengan gangguan mood atau energi yang intens. Secara substans jumlah penderita ADHD pada anak-anak dan remaja lebih tinggi dibandingkan dengan penderita gangguan bipolar, oleh sebab itu diagnosa yang tepat harus dilakukan untuk mengetahui apakah penderita memiliki gangguan biporal atau hanya ADHD saja. Tentang ADHD akan aku bahas tersendiri ya.
Mood Disorser Questionnaire (MDQ) adalah screening instrument yang umum digunakan di Jerman untuk mengidentifikasi apakah penderita memiliki gangguan bipolar secara klinis. Meningkatnya energi/aktivitas, gangguan tidur, cepat marah, affek negatif, dan kurangnya konsentrasi serta hal-hal yang berhubungan dengan disregulasi emosi dan perubahan kepribadian dapat dideteksi [Carpenter et al. (2020) Positive and Negative Activation in the Mood Disorder Questionnaire: Associations With Psychopathology and Emotion Dysregulation in a Clinical Sample. Assessment, 27(2),219-231]. Demikian juga Anxiety, PTSD, penyalahgunaan obat dan zat stimulan, gangguan makan dan gangguan kontrol impuls dapat ditemukan lebih dini, jika pemeriksaan dilakukan lebih awal [Paterni & Bisserbe, 2018; Zimmmerman et al., 2011].
Prosedur diagnosa penyakit bipolar tidak akan aku bahas di sini lagi karena langkah yang diambil hampir sama pada penderita gangguan unipolar, untuk hal ini silahkan lihat di artikel > “Depression” ya.
Terapi
Terapi yang diberikan tergantung pada stadium dan jenis penyakit yang diderita. Sama seperti pada penderita depresi (lihat > “depression”), pilihan psikoterapi dalam bentuk terapi perilaku, psikoanalisa atau system terapi ditentukan saat proses pengambilan keputusan dengan penderita gangguan bipolar dan anggota keluarganya. Jenis psikoterapi akan aku bahas lebih dalam di tema “Terapi” ya. Terapi tambahan seperti elektrokonvulsif, terapi cahaya, stimulasi magnetik transkranial biasanya juga diberikan pada penderita depresi berat (unipolar) yang bertujuan untuk merubah mood penderita ke arah yang lebih baik. Perubahan mood yang terjadi sayangnya kadang bisa diasosiakan dengan episodik mixed, jadi jika tanda-tanda gabungan episode depresi dan mania yang muncul selama pengobatan unipolar masih berlanjut walaupun pengobatan sudah dihentikan, maka hal ini harus tetap dikategorikan sebagai bipolar. Selain terapi di atas, intervensi lain yang juga menunjang penyembuhan bipolar adalah sport, yoga, metode relaksasi, meditasi, ergotherapy, psychomotoric therapy, terapi musik, konseling dan self-help group terapi. Semua jenis terapi yang aku sebutkan di atas tentu saja akan dibahas satu persatu di halaman > “Intervensi”.
Farmakoterapi
Hormon serotonin merupakan neurotransmitter penting dalam tubuh yang mengatur mood, nafsu makan, tidur dan perilaku sosial. Medikasi yang bertujuan untuk membantu tubuh memproduksi hormon serotonin dan Antidepressan bisa mengatasi kurangnya serotonin yang menyebabkan antara lain depressi, kesedihan dan gangguan tidur. Hormon Noradrenalin adalah neurotrasmitter yang mengatur komponen dorongan, keinginan atau hasrat. Kurangnya Noradrenalin bisa menyebabkan konsentrasi lemah, timbulnya rasa ketakutan dan hilangnya motivasi atau dorongan untuk melakukan aktivitas. Obat Profilaksis seperti Lithium, Antiepiliptika atau lainnya diberikan untuk membuat stabil mood penderita. Demikian juga Antipschychotika atau Neuroleptika yang berguna untuk mempengaruhi sistim saraf dan fungsi psikis pada penderita psikosis (psycho) yang mengalami delusi atau halusinasi. Dalam dosis rendah Antipsychotika dapat meredam mual, memiliki efek menenangkan dan menghilangkan ketakutan. Saat perawatan, pemberian obat dan dosis serta waktu penggunaannya dimonitor dengan teratur. Selain itu pemeriksaan hati, ginjal, darah, kimia otak, EKG dan berat badan juga dilakukan selama menerima farmakoterapi.
Semakin kompleks penyakit biporal yang diderita maka intervensi, terapi yang aktif dan dukungan dari keluarga/teman/lingkungan sekitar sangat dibutuhkan. Aku harap kita semua mulai terbuka dengan tema ini dan mau mengenal, menerima serta mendukung penderita gangguan bipolar agar lebih mudah untuk melakukan perawatan dan menjalani kehidupan mereka dengan normal, tanpa dipandang negatif. Jika ada inovasi baru dari Eropa tentang perawatan penderita gangguan bipolar tentu saja akan aku review ya.
Upload: 14 April 2025