Post-traumatic Stress Disorder
“Anything that’s human is mentionable, and anything that is mentionable can be more manageable. When we can talk about our feelings, they become less overwehlming, less upsetting, and less scary” [Fred Rogers]
Contents
Trauma
Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann
Kegagalan, kehilangan pekerjaan, masalah keuangan, ketidaksetiaan atau peristiwa yang lain bisa terjadi pada siapapun. Gugup, tegang, cemas, marah adalah reaksi awal stres yang diperlihatkan. Namun sebuah kasus atau suatu kejadian yang berat bisa membuat kita stres dalam waktu lama yang dapat menyebabkan gangguan emosional dan perilaku karena sulit untuk beradaptasi dengan situasi dan kondisi tersebut. Kejahatan, tindakan kekerasan (KDRT), pelecehan seksual, kecelakaan dan bencana alam, keadaan darurat, penyakit berat, kehilangan dan kematian, perang, migrasi atau peristiwa pahit lain yang dialami di masa kecil, di masa remaja atau saat dewasa dapat menyebabkan trauma dan menimbulkan perasaan, pikiran dan ingatan yang negatif.
Gejala-gejala yang diperlihatkan jika mengalami trauma adalah timbulnya ingatan yang berulangkali tentang peristiwa yang dialami dan jika melihat lokasi yang hampir sama atau mendengar suara yang mirip saat peristiwa itu terjadi hingga munculnya mimpi buruk saat tidur. Selain adanya gangguan tidur, emosi tidak terkontrol, agresif, kesulitan untuk berkonsentrasi, waspada yang berlebihan, jantung berdebar cepat, berkeringat dan panik, juga ketidakmampuan untuk memiliki perasaan yang positif seperti rasa bahagia, puas dan rasa cinta. Adanya perubahan pengertian waktu dan realitas kehidupan sehingga rancu apakah situasi yang tampak sebenarnya nyata atau tidak. Ketidaknyamanan untuk mengingat kembali apa yang terjadi pada peristiwa traumatis dan berupaya untuk menghindari kenangan, pikiran atau perasaan yang menyakitkan tersebut sehingga menyalahkan diri sendiri atau orang lain, demikian juga menghindari ingatan tentang orang, lokasi, situasi, percakapan atau mungkin aktivitas dan tugas yang berhubungan dengan peristiwa tersebut hingga akhirnya terjadi disfungsi di segala aspek kehidupan baik privat maupun sosial [Referensi gejala PTSD diambil dari website ICD-11 WHO]
Gejala-gejala yang disebutkan di atas tidak harus dikategorikan sebagai PTSD jika hanya muncul pada minggu pertama atau kedua dan selanjutnya tidak datang lagi atau jika gejala yang lain bisa diatasi sendiri dan hanya gangguan kecemasan dan ketakutan saja yang diperlihatkan. Lalu kondisi seperti apa yang masuk ke dalam kategori Post-traumatic Stress Disorder?
Diagnosa
Gangguan yang bisa dikategorikan sebagai PTSD adalah gangguan stres yang dialami setelah terjadinya peristiwa yang mengakibatkan trauma selama lebih dari satu bulan. Semua gejala yang disebutkan di atas harus tampak, terutama dengan adanya flashbacks dan hilangnya pemahaman waktu dan realitas dunia yang dihadapi, termasuk terjadinya disfungsi dalam semua aspek kehidupan. Trauma dapat menyebabkan gangguan kognitif, affek, perilaku dan somatis sehingga kadang sulit didiagnosa apalagi jika disertai gangguan depresi, kecemasan dan ketakutan serta penggunaan zat stimulan. Diagnosa hanya bisa dilakukan jika penderita PTSD memiliki motivasi untuk keluar dari krisis yang dihadapi dan bersedia membuka tema yang sulit untuk dibicarakan.
Trauma bisa terjadi pada siapapun, termasuk anak-anak. PTSD pada anak-anak, khususnya balita lebih sulit diukur karena keterbatasan kemampuan kognitif dan verbal mereka, oleh sebab itu informasi dan pengamatan dari orang terdekat (orang tua, guru, pengasuh atau pihak lain) tentang perubahan mental dan perilaku anak setelah mengalami kejadian traumatis sangat penting. Gejala tambahan yang bisa ditemukan pada perilaku anak yang mengalami trauma bisa dilihat pada permainan atau gambar yang dilukis dan mimpi yang menakutkan tanpa konten yang jelas, teror di malam hari atau perilaku impulsif yang tidak biasa. Frekuensi menangis dan intensitas amarah (tantrum), kecemasan untuk berpisah dengan orang terdekat, ketakutan yang berlebihan, berkurangya kemampuan verbal dan toileting (sering ngompol) serta mengembangkan strategi baru untuk mencari keselamatan diri (seperti misalnya tubuh meringkuk, gerakan cepat melindungi bagian kepalanya ketika melihat situasi yang menurut mereka berbahaya, dll) atau mencari perlindungan dari orang yang sangat dipercaya secara berlebihan. Bagi anak-anak yang melihat atau mengalami tindakan kekerasan dalam rumah tangga akan tidak mudah untuk mempercayai orang lain karena tindakan kekerasan dilakukan oleh orang terdekat (orangtua) yang seharusnya melindungi mereka! Atau dilakukan oleh orang yang dikenalnya (pengasuh, guru, pelatih, sahabat keluarga, anggota keluarga lain atau tetangga). Hilangnya kepercayaan ini, terutama bila tindakan kekerasan terjadi di dalam keluarga inti akan menyulitkan proses intervensi dan terapi trauma mereka.
Intervensi
Trauma akibat tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) akan sulit ditangani jika penderita masih berada di lingkungan keluarga di mana tindakan kekerasan tersebut terjadi, demikian juga trauma akibat perang dan pandemi akan sulit untuk diatasi jika situasi dan kondisi tersebut masih berlangsung. Perasaan bersalah yang ditujukan pada diri sendiri juga akan sulit dihilangkan terutama jika doktrin, budaya dan pandangan tentang “tindakan kekerasan adalah jalan terbaik untuk merubah mental, perilaku dan mendidik manusia ke arah yang lebih baik” masih dianggap normal, diikuti dan diakui! Penderita hanya dapat menangani krisis trauma (apapun itu) dengan efektif jika berada di dalam lingkungan yang aman dan mendapat dukungan yang baik. Setelah peristiwa traumatis terjadi, dengan bantuan konseling penderita diharapkan untuk mencoba menjaga waktu makan, tidur dan olah raga agar kesehatan tubuh tidak terganggu. Perawatan diri ini bertujuan untuk membuat kondisi tubuh penderita stabil dan kembali aktif, dapat mengurangi stres, mengontrol diri dan emosi. Bila sudah stabil maka psikoterapi dapat dilakukan. Jenis intervensi tambahan yang juga diberikan pada penderita gangguan mental (depresi, bipolar, dll) seperti ergotherapy, integrative Art-Musik terapi, Yoga atau Tai-Chi, Fisioterapi atau lainnya bisa membantu. Pada fase terakhir, jika memungkinkan maka penderita bisa menjalankan hobi dan aktivitas lamanya, berkonstribusi pada keluarga dan lingkungannya atau jika tidak memungkinkan, penderita dapat mencari lingkungan baru dan melakukan aktivitas yang lain atau mengembangkan hobi baru.
Psikoterapi
Dengan metode terapi perilaku kognitif (CBT) penderita membuka diri dan membicarakan peristiwa traumatis yang dialami (terapi konfrontasi), mendapat bantuan dalam memahani pola pikiran, perasaan dan perilaku negatif akibat trauma tersebut, mengeksplor pola pikiran yang baru, merubahnya menjadi positif sehingga penderita menerima apa yang telah terjadi, kemudian tidak lagi berfokus pada apa yang telah terjadi di masa lalu tetapi berfokus pada pengembangan diri agar bisa kembali memiliki tujuan hidup, aktif dan berkontribusi menuju masa depan yang lebih cerah. Selain CBT penderita juga diberikan latihan pernafasan untuk meregulasi reaksi psikofisiologis penderita yang secara bertahap mengurangi kepekaan efek ingatan yang traumatis. Dukungan yang lain? Dengan memperlihatkan rasa empati, memberikan kehangatan dan kenyamanan bagi penderita PTSD, maka kondisi ini akan memudahkan mereka untuk tidak merasa malu lagi, menghilangkan waspada yang berlebihan, tidak menghindar dan mengisolasi diri. Terapi dapat diberikan secara individual dan di dalam grup bersama dengan penderita trauma yang lain dengan demikian mereka juga bisa melatih diri untuk berintegrasi, mendapat informasi lebih banyak agar bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan lebih konstruktif dan tahu bahwa penderita tidak berjuang sendiri.
Farmakoterapi
Obat-obatan hanya diperbolehkan pada penderita yang mengalami gangguan mental berat dan pada umumnya yang diberikan kepada penderita PTSD hampir sama dengan penderita >depresi dan gangguan kecemasan. Selain itu ada juga Prazosin yang berguna untuk mengurangi mimpi buruk, demikian juga obat tidur dan antipsychotika.
Upload: 30 April 2025