EQ
“Our emotions happen to us; affect occurs at the point at which our adaptation is weakest and at the same time exposes the reason for its weakness” [Carl Gustav Jung]
Contents
Kita pasti pernah mengenal situasi di mana kita melepas senyum karena tujuan sudah tercapai, tertawa karena mendengar cerita teman yang lucu, sedih karena melihat peran utama dalam sebuah film pada akhir cerita terbunuh, atau nervous (gugup) karena presentasi, test atau ujian sebentar lagi dimulai.
Bagaimana kita menafsirkan (interpretasi) dan menanggapi dunia di sekitar kita membentuk siapa kita dan berperanserta pada kualitas hidup kita. Mempelajari emosi secara psikologi, menyelami apa yang kita lakukan terhadap rangsangan tertentu dan bagaimana reaksi tersebut membentuk emosi dan mempengaruhi fisik maupun mental kita.
Apa itu Emosi?
Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann
Menurut ilmu psikologi, emosi adalah reaksi psikofisiologis yang kompleks terhadap stimulus atau situasi yang mencakup pengalaman subjektif (perasaan gembira, marah, sedih, takut), perubahan fisik (detak jantung, tekanan darah, otot), perilaku (perubahan mimik seperti tertawa, menangis, dst.) dan membantu kita untuk bereaksi terhadap lingkungan kita serta membuat keputusan. Emosi adalah bahan baku untuk “perasaan” yang seringkali melibatkan situasi dan memotivasi tindakan kita. Sebagai contoh: saat kita melihat seseorang yang menyebabkan trauma, secara otomatis situasi itu dapat menimbulkan perubahan perilaku yang terlihat pada mimik (takut atau marah), meningkatkan detak jantung, meningkatkan suplai darah di otot di mana hormon energi dilepas untuk mengarahkan konsentrasi pada potensi ancaman dan tidak berpikir tentang hal lain lagi, kecuali dua pilihan tindakan: melawan atau melarikan diri.
Mungkin kita pernah mengatakan, “ah kamu emosian”, “perasaanku lagi tidak enak”, “mood dia lagi jelek”. Apakah kita mengerti apa yang dimaksud saat mengatakannya? Kadang kita rancu membedakan apa itu emosi, mood dan perasaan bukan? Jika memadukan pendapat American Psychological Association dan Deutsche Gesellschaft für Psychologie (Persatuan Psikologi Jerman) maka perbedaan tiga kata tersebut adalah sebagai berikut, Emosi adalah bagaimana individu menghadapi masalah atau situasi yang kita anggap penting secara pribadi. Emosi memiliki tiga komponen: pengalaman subjektif, respons fisiologis dan respons perilaku atau ekspresif. Mood (suasana hati) adalah keadaan emosional dalam jangka pendek dan biasanya dengan intensitas yang rendah. Suasana hati tidak memiliki rangsangan dan tidak memiliki titik awal yang jelas, contohnya teriakan dapat memicu emosi kesedihan sementara suasana hati yang sedih dapat muncul tanpa alasan yang jelas. Perasaan (Feeling) muncul dari pengalaman emosional, hasil dari emosi dan dapat dipengaruhi oleh ingatan, keyakinan dan faktor lainnya.
Bagi Carl Jung, emosi adalah pesan yang kuat dari alam bawah sadar, bukan hanya reaksi random tetapi bertindak sebagai sistem panduan vital yang mengungkapkan dunia batin kita, sangat kompleks dan memiliki aspek yang tersembunyi jika ditekan (bayangan/shadow). Jung menekankan bahwa emosi yang tidak diproses dapat menjadi simptom, kompleks, bahkan penyakit fisik (somatis). Penguasaan emosional sejati melibatkan kesadaran diri yang seringkali tercermin di lingkungan eksternal kita. Emosi adalah informasi. Menguasai emosi berarti menjadi sadar dan memahami akarnya daripada menekannya (seringkali yang ditekan adalah “perasaan”), karena emosi menandakan adanya ketidakseimbangan dan mendorong pertumbuhan pribadi melalui individuasi. Individuasi adalah proses psikologis seumur hidup untuk menjadi diri yang berbeda dan unik, mengembangkan keyakinan pribadi serta mengintegrasikan aspek sadar dan tidak sadar dari kepribadian kita, demi keutuhan dan keaslian yang lebih baik, menjadi diri kita yang lebih otentik. [C.G. Jung: Über Gefühle und den Schatten, Winterthurer Fragestunden, Walter/Patmos Verlag, 1999]
Emosi dan kualitasnya (EQ) adalah sesuatu yang luas, komprehensif, memfokuskan perhatian kita, mempengaruhi kemampuan berpikir kita, proses kognitif kita.
Upload: 5 Februari 2026