Prevention
“Prevention is better than cure” [Desiderius Erasmus]
Contents
Parenting
Intervensi atau Preventif?
Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann
Artikel ini sebenarnya merupakan sebuah refleksi yang aku tulis berdasarkan pengalaman bekerja sebagai konselor/educator dan psikomotorik terapist di Jerman. Mungkin ini bisa kamu jadikan sebagai bahan refleksi diri juga? Salah satu dari permasalahan yang terungkap saat proses konseling dan terapi pada clients penderita gangguan kesehatan mental dan perilaku di tempat kerjaku di Jerman adalah tentang parenting. Clients yang aku maksud di sini bukan hanya orang tua atau orang dewasa saja tetapi juga juga anak atau remaja yang dicap atau dikategorikan sebagai anak bermasalah. Clients dewasa merasa kewalahan menghadapi anak. Anak atau clients remaja merasa tidak dimengerti, sehingga memberontak dan memperlihatkan perilaku yang negatif atau sebaliknya menjadi tidak percaya diri, merasa kehilangan identitas diri dan arah tujuan hidup sehingga mengalami gangguan mental atau perilaku. Saat konseling anak-anak atau para remaja yang datang sering bertanya apakah kelahiran/kehadiran mereka sebenarnya diinginkan atau tidak dan mempertanyakan metode parenting orangtuanya. Mengapa bisa sampai sejauh ini? Apa yang membuat mereka (orang tua dan anak) bermasalah? Apakah ada hubungan yang signifikan antara metode parenting yang dipilih dengan tingkat kematangan dan kemampuan kognitif orang tua? Apakah ada hubungannya dengan sejauh mana pengetahuan yang dimiliki orangtua tentang psikologi dan pendidikan serta bagaimana cara berkomunikasi dan kebiasaan dalam menyelesaikan masalah? Dan yang terakhir apakah mereka sebenarnya siap untuk memiliki anak dan menjadi orang tua?
Masyarakat di beberapa negara kadang masih menganggap bahwa memiliki anak adalah sebuah keharusan. Pola pikir yang ada, doktrin, budaya dan lingkungan sosial (orang tua, keluarga besar dan lingkungan sekitar) membuat individu merasakan keharusan untuk memiliki anak sehingga kehadiran anak hanyalah sebagai pelengkap status dan kadang, bahkan dengan harapan atau tujuan agar suatu saat anak tersebut bisa mengurus orang tua.
Jika kehadiran anak sebenarnya tidak diinginkan atau hanya dianggap sebagai pelengkap status, apakah orang tua bisa merawat dan mendidik anak dengan tulus? Jika kehadiran anak diinginkan dengan tujuan untuk menjadi asuransi di masa tua, apakah kita sebagai orang tua tidak merasa malu membebani anak? Lalu bagaimana tanggung jawab orang tua terhadap anak? Apakah anak tidak akan memiliki masalah di perjalanan hidupnya? Tanggung jawab untuk membesarkan, mendidik anak dan menjadi orang tua tidaklah mudah sehingga kadang jika sudah terlanjur memiliki anak (terutama bila sebenarnya kehadiran anak tidak diinginkan) dan kewalahan saat menghadapinya banyak orang tua yang menggunakan tindakan kekerasan atau masa bodoh, melepas tanggung jawab dan bahkan menyerahkannya pada orang lain atau pada negara. Situasi yang dihadapi merupakan aksi dan reaksi suatu tindakan, kondisi yang ada merupakan bagian dari sebab dan akibat suatu keputusan. Pola pikiran, doktrin, budaya dan lingkungan sosial akan kembali mempengaruhi tindakan seseorang, bukan? Permasalahan akan sulit untuk diselesaikan jika individu tidak matang dan tidak siap menghadapi anak.
Apakah kita siap?
Bagi banyak orang tua, menunggu kehadiran anak pertama adalah sesuatu yang luar biasa. Semua yang terbaik akan dipersiapkan agar anak tumbuh dan berkembang dengan baik. Tetapi apa sebenarnya yang terbaik untuk anak? Apa yang seharusnya diberikan orang tua untuk perjalanan hidup anak? Selama anak belum memiliki pola pikir sendiri, orang terdekat adalah role model (contoh dan panutan) oleh karena itu apa yang dikatakan dan dilakukan akan diingat dan mungkin diikuti. Apa yang bisa membuat kepribadian (karakter dan mental) anak terganggu sejak dini? Bagaimana kita bisa memahami perilaku anak dan peka terhadap tanda-tanda yang diperlihatkan?
Kebutuhan fisiologi
Sama sepeti kita, anak memerlukan makanan yang sehat, minuman, istirahat dan tidur yang cukup, demikian juga udara yang bersih serta tempat tinggal yang bersih dan aman. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi apakah anak bisa tumbuh dengan baik, sehat dan tanpa stres?
Kebutuhan ikatan emosional
Menurut John Bowlby dalam jangka lama jika dua orang berada dalam satu ruang dan waktu maka akan terjadi ikatan emosional. Perasaan rindu adalah reaksi yang normal, demikian juga rasa sedih dan sakit (somatis) tidak bisa diganti dengan zat simultan (alkohol atau obat-obatan) jika harus berpisah. Bagaimana dengan bayi? Ketika lahir bayi membawa genetik orang tua dan siap untuk bersosialisasi, mencari ikatan hubungan dan perlindungan pada orang yang terdekat. Di tahun pertama inilah seharusnya terjadi perkembangan hubungan emosional yang istimewa dan akan tetap dirasakan walaupun suatu saat tidak sedang berada di dekatnya. Rindu jika jauh, senang dan bahagia jika dekat. Marah, menangis atau menolak jika ada orang asing yang tidak memiliki ikatan apapun berada di dekatnya (walaupun orang asing tersebut ahli di bidang psikologi dan pendidikan). Namun ikatan emosional tidak hanya dengan orang tua saja, hubungan bisa juga dibangun oleh orang tua angkat, guru atau orang lain (juga konselor dan psikolog). Sudah siapkah untuk memiliki ikatan emosional dengan anak?
Kebutuhan eksplorasi
Pada dasarnya anak adalah eksplorer junior. Ketertarikan akan banyak hal dan keingintahuan yang besar membuat mereka banyak bertanya, mencari jawaban, mengamati dan bereksperimen. Apakah kita selalu memberikan jawaban-jawaban yang dibutuhkan, logis dan sesuai dengan pertanyaan yang diajukan? Apakah kita memberikan kepercayaan agar mereka tidak takut untuk mengeksplor? Apakah kita memberikan kesempatan mereka untuk berkembang atau justru menghambat?
Kebutuhan untuk memahami
Anak ingin menyentuh, menghirup, mendengar, melihat, merasakan dan memahami apa yang ada dan terjadi didunianya. Dengan menggunakan panca indra yang dimiliki, anak dapat mempelajari segala hal yang dibutuhkannya. Apakah kita mempelajari tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikis anak? Untuk keterampilan tertentu diperlukan panca indra yang berfungsi dengan baik. Apakah kita mengetahui kelebihan dan kekurangan anak? Lalu bagaimana menghadapinya?
Kebutuhan untuk mandiri
Semua anak ingin mandiri. Ini berarti melakukan aktivitasnya sendiri, mengerjakan dan menghasilkan sesuatu. Apakah kita yang membuat mereka tidak mandiri? Apa yang bisa kita berikan kepada mereka supaya percaya diri? Apa yang bisa kita bantu tanpa harus membuang “batu-batu sandungan” yang terletak di sepanjang perjalanan hidupnya?
Kebutuhan untuk menghindari rangsangan yang berlebihan
Sejak di dalam rahim bayi terlindungi dari rangsangan yang tidak menyenangkan seperti suara yang terlalu keras atau zat makanan yang tidak enak yang bisa dirasakan lewat tali pusar. Sayangnya, rangsangan yang berlebihan tidak berhenti setelah anak lahir. Contohnya suara yang keras, makanan atau minuman yang tidak enak, hawa yang dingin atau panas, visual atau tontonan, mobbing, demikian juga keinginan orang tua atau lingkungan sekitar yang tidak bisa dipenuhi, rasa sakit baik fisik maupun psikis yang akhirnya membuat anak menghindar dengan segala macam cara seperti menangis, protes, teriak, memperlihatkan rasa takut, menutup kuping, melukai diri sendiri atau orang lain, dan lain-lain. Rangsangan yang tidak menyenangkan atau berlebihan bisa menyebabkan stres dan jika dalam jangka waktu lama dan parah bisa menjadi trauma. Apakah kita hanya tahu anak berperilaku negatif? Apakah kita tahu saat anak tidak merasa nyaman? Apakah kita tahu anak sedang mengalami gangguan kesehatan mental? Apa yang kita lakukan?
Kesimpulan
Kebutuhan dasar di atas sangat penting agar individu dapat bertahan hidup. Kebutuhan fisiologi, ikatan emosional dan eksplorasi yang tidak terpenuhi sejak dini dapat memicu stres dan penyakit. Tidak adanya kemampuan untuk mandiri, terbatasnya fungsi panca indra dan adanya rangsangan yang berlebihan dalam jangka pendek mungkin tidak menjadi masalah, namun dalam jangka panjang akan mengurangi kemampuan anak untuk bersosialisasi dan mengalami kesulitan saat harus berkontribusi di segala aspek kehidupan.
Sebagai konselor/educator, aku dan team di Jerman tidak pernah menyalahkan atau membenarkan metode parenting yang digunakan oleh clients karena di dalam proses konseling, clients mencari konselor untuk mengungkapkan masalah yang dihadapi, mendapatkan informasi dan rekomendasi bantuan dalam pendampingan proses penyelesaian masalah. Informasi tentang apa yang dibutuhkan anak agar mampu bertahan hidup, informasi tentang tahap-tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologi (mental) anak agar orang tua bisa mengerti situasi dan kondisi anak, informasi tentang latihan atau kursus cara berkomunikasi dan menyelesaikan masalah tanpa harus menggunakan kata-kata kasar atau tindakan kekerasan, informasi tentang terapi psikomotorik atau informasi lainnya. Informasi yang kami berikan ini bisa diambil sebagai tindakan intervensi atau preventif dan terapi Psikomotorik atau terapi lainnya hanya akan diberikan bila clients membutuhkannya.
Upload: 1 Juni 2025
Menghadapi Krisis
Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann
Setiap orang pasti pernah mengalami situasi hidup yang tidak baik sehingga memicu stres. Saat mengalami tekanan, kita tidak tahu apakah bisa mengatasinya. Apakah lebih baik kita menghindari permasalahan yang muncul atau berpura-pura seakan tidak ada masalah? Lalu, apakah dengan menghindari permasalahan akan membuat situasi menjadi baik atau malah membuat kondisi menjadi lebih buruk? Jika semakin parah apakah kita siap untuk menghadapinya? Kemampuan kita untuk mengelola stres adalah ketahanan kita untuk menghadapi stres, yang dalam konteks psikologi disebut “Resilience”.
“Ketahanan” yang mengacu pada ketahanan psikologis atau elastisitas individu untuk pulih dari krisis dan situasi stres, untuk mendapatkan kembali keseimbangan tanpa gangguan permanen, beradaptasi dengan keadaan yang sulit dan mengatasinya, muncul dari individu yang kuat. Apakah kita kuat secara mental, mampu beradaptasi dengan perubahan dan tantangan, mampu meresponnya dengan tepat, terlebih jika berhubungan dengan aspek sosial dan budaya di mana kita tinggal? Jika ketahanan lemah maka kita akan rentan terhadap kesehatan mental. Hidup memang tidak lepas dari masalah, tetapi kemampuan menghadapinya dengan cara sehat (resilience) sangat menentukan tingkat kebahagiaan seseorang. Resilience adalah sebuah proses dan proses hanya bisa berjalan jika kita mempertahankan pola pikir dan sikap yang positif. Resilience tidak hanya bawaan, tetapi juga dapat dipelajari dan dilatih dalam perjalanan hidup sehingga memberikan kesempatan bagi kita untuk memperkuat ketahanan.
Apa yang kita butuhkan untuk mendapatkan “resilience”?
Mengetahui siapa diri kita, menyelami kelemahan, kekuatan, kemampuan dan keahlian kita. Kesadaran diri akan membantu kita mengenali emosi dan kebutuhan kita. Mengatur diri memungkinkan kita untuk mengendalikan emosi agar dapat mengatasi situasi stres. Lalu menerima? Kata “Menerima” mengajarkan kita untuk menerima kenyataan. Namun menerima bukan berarti berhenti di titik itu dan menyerah, karena proses refleksi diri akan membangun pola pikir positif dan membangkitkan optimisme. Optimisme berorientasi pada masa depan, menetapkan tujuan hidup baru yang dapat dicapai, sederhana dan realistis, dimulai dengan langkah-langkah kecil dan berorientasi pada lingkungan sosial yang mendukung kita.
Beberapa langkah di bawah ini perlu diperhatikan jika ingin melewati situasi stres, memahami penyebab stres sehingga kita nantinya dapat mencari dan menemukan alternatif solusi permasalahan. Ada beberapa hal yang bisa membantu saat kita sedang mengelola dan mengatasi stres, saat kita berada di bawah tekanan, namun ada juga beberapa hal yang dapat mempersulit ketahanan kita, termasuk jika diantaranya ada pengalaman diskriminasi atau kurangnya dukungan dari pihak manapun. Oleh sebab itu perlu diketahui bahwa tidak semua langkah bisa berfungsi pada setiap orang karena kemampuan, karakter, latar belakang masalah dan kehidupan masing-masing individu berbeda-beda dan tidak semua stres dalam hidup akan lenyap! Pilihlah tema masalah dan langkah apa yang cocok bagi diri kita.
Hambatan untuk memiliki ketahanan (resilience)
Seperti yang telah aku sebutkan di atas, istilah ketahanan dan mengelola stres dapat memiliki arti yang berbeda bagi masing-masing orang karena pengalaman, perasaan dan cara menangggapinya berbeda. Ada beberapa penyebab stres yang mudah dikendalikan dan ada yang di luar kendali kita, seperti kondisi kesehatan fisik jangka panjang, masalah kesehatan mental, pengalaman diskriminasi dan kebencian termasuk rasisme, homo-/bi-/transfobia, tinggal jauh dari keluarga/kerabat/teman/sahabat karena memiliki hubungan yang sulit, mengalami kesepian, tinggal di daerah dengan akses (perawatan, kesehatan, transportasi umum dan penghijauan) yang buruk, kuatir tentang keuangan (hutang, kredit atau tunjangan), menjadi orang tua tunggal atau pengasuh, memiliki kualitas tempat tinggal yang buruk dan rawan (keamanan dan perlindungan). Penelitian menunjukkan bahwa resilience lebih mudah dikembangkan jika tidak memiliki hambatan-hambatan di atas dan sayangnya, kadang tidak semua bisa dirubah. Jika kita menghadapi hambatan maka langkah pertama yang kita ambil adalah mengenali masalah satu persatu, mencari informasi dan bantuan berdasarkan tema masalah yang dihadapi.
Mengenal Penyebab Stres
Mengetahui hal apa yang memicu stres dapat membantu kita untuk mengantisipasi masalah dan memikirkan cara untuk menyelesaikannya. Walaupun pada akhirnya kita tidak bisa menghindari situasi tersebut, tapi paling tidak kita sudah siap menghadapinya.
Cobalah meluangkan waktu untuk merenungkan peristiwa dan emosi yang dapat memicu stres. Ini bisa dilakukan sendiri atau dengan orang yang kita percayai. Apakah ada situasi yang muncul secara teratur sehingga menyebabkan rasa kuatir, misalnya tagihan kredit, hutang atau jadwal dokter sehubungan dengan hasil pemeriksaan? Apakah ada keadaan yang membutuhkan banyak pikiran, seperti pindah rumah, ulangan, ujian atau perceraian? Apakah ada perkara stres yang sedang berlangsung, seperti masalah di tempat kerja atau di rumah? Apakah ada peristiwa yang dikuatirkan akan terjadi lagi (trauma), seperti misalnya kembali ke tempat di mana pengalaman buruk terjadi? Kita mungkin terkejut ketika mengetahui berapa banyak hal yang harus dihadapi sekaligus. Satu yang perlu diingat adalah, bahwa kehidupan yang monoton dan tidak adanya perubahan dalam hidup juga dapat menyebabkan situasi stres yang sama dengan saat kita memiliki terlalu banyak hal untuk ditangani.
Mengatur waktu
Tahukah kamu bahwa dengan mengatur waktu, kita dapat mengendalikan aktivitas atau tugas apapun yang kita hadapi dan dengan demikian kita akan lebih mampu menangani tekanan dan burnout? Mengidentifikasi waktu terbaik dalam melakukan tugas-tugas penting yang membutuhkan energi dan konsentrasi paling banyak. Membuat daftar hal-hal yang harus dilakukan berdasarkan urutan kepentingan dan berfokus pada yang paling mendesak terlebih dahulu. Membuat jadwal untuk merencanakan berapa lama waktu pengerjaan setiap tugas. Memprioritaskan dan menunda beberapa tugas sampai kita merasa tidak dalam kondisi di bawah tekanan. Kondisi stres memudahkan kita mengenal target besar dan tidak realistis. Ini dapat membuat kita menjadi lebih tertekan dan frustasi karena tujuan yang diinginkan tidak tercapai. Menetapkan target yang lebih kecil dan lebih mudah untuk dicapai dapat membantu kita mengendalikan proses pencapaian sehingga membuat kita merasa lebih puas. Melakukan aktivitas yang bervariasi dan menyeimbangkan tugas-tugas yang membuat stres dengan hal yang menurut kita lebih mudah hingga pada akhirnya semua tugas dapat dilakukan dengan lebih tenang. Mencoba untuk tidak melakukan banyak hal sekaligus karena jika mengambil terlalu banyak hal maka kita akan merasa lebih sulit dalam melakukan setiap tugasnya dengan baik dan ini akan membuat kita stres. Beristirahat dan melakukan hal-hal secara perlahan terutama jika kita sedang dalam kondisi stres akan membantu kita menghadapai hal-hal dengan lebih baik dan melewati situasi yang penuh tekanan. Meminta bantuan atau dukungan dari orang lain seperti teman, anggota keluarga atau orang terpercaya akan memberi lebih banyak waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang membuat kita stres.
Jika sudah mengenali apa yang memicu stres kita, mungkin kita menyadari ada banyak hal yang tidak bisa kita selesaikan. Cobalah untuk menerima hal yang tidak bisa kita lakukan atau rubah karena diantara itu, pasti ada juga beberapa hal atau masalah yang bisa kita selesaikan dan ini akan membuat kita memfokuskan waktu dan energi kita dengan lebih produktif.
Menjaga kesehatan tubuh
Saat tubuh sehat, kita dapat lebih mampu untuk mengelola stres. Memperhatikan kesehatan fisik dan mental kita, berolahraga, menghargai bagaimana kondisi tubuh dan mental dalam menghadapi setiap situasi, memberikan waktu untuk santai, istirahat atau healing (latihan relaksasi) saat kita merasakan ada tekanan (walaupun hanya stres kecil). Mengembangkan minat dan hobi, memelihara binatang piaraan, berkebun atau menghabiskan waktu di alam, melakukan aktivitas-aktivitas positif untuk mengalihkan perhatian dari situasi yang menekan, yang bisa dilakukan sendiri atau bersama dengan teman, sahabat dan kerabat agar tidak merasa kesepian dan terisolasi. Demikian juga tidur yang teratur dan menjaga pola makan sehat dapat membuat stres lebih mudah dikelola. Stres kadang membuat kita mengabaikan hal-hal tersebut di atas dan perubahan sekecil apapun yang kita lakukan dapat membantu kita (sedikit demi sedikit) menuju ke arah perkembangan yang positif.
Upload: 29 September 2025