Zum Hauptinhalt springen

Iknidimi Oases

Konstanz, Germany

Mindset

"Progress is impossible without change, and those who cannot change their minds cannot change anything" [George Bernard Shaw]


Mindfulness

Kualitas mental yang dicapai dengan memfokuskan kesadaran kita dalam suasana tenang untuk mengakui dan menerima keadaan emosi, pikiran dan apa yang sedang dirasakan oleh tubuh pada kodisi saat ini (fully present and aware). 

Mindfulness sering digunakan saat terapi karena dengan cara mengamati pikiran kita sendiri dan meningkatkan konsentrasi, kita mendapatkan wawasan dan kesadaran diri sehingga bisa mengurangi stress dan meningkatkan kinerja. 

Mindset ~ Pola Pikir mana yang mengganggu perkembangan kita? Apakah menjadi toxic sehingga menghambat perjalanan hidup kita? Bisakah kita merubah pola pikir kita?


Pemberdayaan Wanita

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Seorang wanita cantik, berkulit putih, yang datang pada jam konseling dalam keadaan marah mengatakan bahwa, suaminya berniat untuk memulai hidup baru dengan wanita lain. Selama ini beliau yakin bahwa laki-laki yang dicintainya itu tidak akan pernah berpaling. Sejak muda beliau sadar akan kecantikannya dan menginginkan pasangan yang sempurna pula, bersamanya kemudian menikah dan membangun sebuah keluarga. Setelah menikah beliau memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan karena suami memiliki posisi dan pendapatan yang tinggi dan menurutnya memang sudah menjadi kewajiban suami untuk memenuhi segala kebutuhannya.

Seorang wanita muda dari pakistan yang saat itu belum lama tinggal di Berlin datang ke jam pertemuan “Konseling Orang Tua - Anak” dengan wajah sedih mengatakan bahwa, ia ingin sekali melanjutkan pendidikan lalu bekerja. Rupanya beliau datang bukan untuk membicarakan masalah parenting. Mendengar bahasa Jerman yang diucapkannya hampir sempurna walaupun belum lama tinggal di Jerman memperlihatkan bahwa beliau memiliki kemampuan lebih. Ketika aku tanyakan lebih lanjut beliau menceritakan keinginan untuk memiliki pendidikan tinggi harus ia tunda karena menikah dengan laki-laki yang dijodohkan oleh keluarga besar dan kemudian mengurus anak pertama mereka setelah melahirkan. Saat mereka masih dalam masa perkenalan, calon suami berjanji untuk mendukung dan membantu mewujudkan keinginannya menambah pendidikan dan meniti karir. Hingga saat datang ke institut kami, keinginan tersebut hanya menjadi sebuah impian. Beliau merasa bahwa sebagai seorang wanita, ia tidak memiliki kekuatan untuk mewujudkan cita-citanya.

Pemberdayaan wanita... Woman power? Apa yang ada dipikiranmu setelah membaca dua kata ini? Jika seorang wanita mengetahui talentanya, memiliki kemampuan untuk berkarya dan berkonstribusi di bidang tertentu di lingkungan sosialnya, apakah ia langsung disebut Feminis? Jika seorang wanita ingin mandiri dan tidak mau bergantung pada laki-laki, apakah ia melewati kodratnya sebagai wanita? Artikel ini aku tulis sebagai bahan refleksi diri. Penggunaan subyek “kita” di artikel ini aku tujukan khususnya pada kaum wanita ya. Dari dua contoh kasus di atas dan setelah banyak mendengar, melihat sendiri bagaimana banyak wanita yang datang dan mengeluh, menceritakan pengorbanan mereka meninggalkan bangku sekolah, kuliah, pekerjaannya atau impiannya dan menjadi seorang Ibu dan istri, namun pada akhirnya merasakan pengorbanan dan perjuangan mereka selama ini tidak dihargai oleh orang-orang di sekitarnya dan kemudian jatuh ke dalam situasi dan kondisi yang tidak mereka inginkan serta membuat mereka kehilangan tujuan hidup. Demikiran juga mereka yang mengalami KDRT, ditinggal pasangan karena ketidaksetiaan atau karena meninggal dan berakhir dengan tidak memiliki apa-apa untuk melanjutkan hidup, meninggalkan banyak kesan dan pesan dalam diriku. Banyaknya kasus yang tidak saja terjadi pada wanita asia, namun juga pada sebagian wanita eropa membuatku bersyukur bahwa dulu aku memilih untuk menambah pengetahuan, melanjutkan pendidikan S2 dan tetap bekerja setelah melahirkan dua orang putri. Ucapan terimakasihku tidak pernah hilang karena memiliki seorang mama yang kuat, memiliki pola pikir mandiri dan mendorongku untuk menempuh pendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan. Kalimat-kalimat mama yang dulu aku rasakan begitu keras sehingga membekas hingga saat ini, masih aku ingat,

„belajar yang benar supaya bisa masuk SMA, kuliah dan punya pekerjaan serta hidup yang layak“

Sejak masa kecil hingga aku memasuki pubertas dan memiliki banyak masalah, mama tetap selalu memberikan dorongan untuk rajin belajar sehingga aku bisa melewati masa-masa sekolah dengan baik. Rupanya pola pikir mama sudah mempengaruhi pola pikiranku karena setelah lulus SMP aku memilih untuk melanjutkan sekolah di SMA dengan tujuan jika lulus aku ingin masuk ke perguruan tinggi. "Aih! ngapain anak perempuan disuruh sekolah tinggi, nanti juga paling masuk dapur", begitulah kalimat yang pernah aku dengar dari beberapa orang. Mamaku tentu saja tidak perduli dengan pendapat orang lain dan tetap mendukungku untuk kuliah karena beliau sendiri juga pekerja, pendidik dan memiliki dedikasi tinggi di lingkungan pekerjaannya. 

Bersama alm. bapak yang selalu melindungi dan membela mamaku jika ada kritik tentang cara mamaku mendidik anak, mereka berdua bekerja keras, menyiapkan dan memberikan uang deposit khusus untuk membiayai kuliahku. Dengan hanya menggunakan bunga deposit, saat itu aku bisa membayar ongkos angkot, bis atau kereta, membayar uang semester, foto copy bahan-bahan kuliah, membeli buku kuliah, jajan kalau aku kelaparan, ikut acara kampus, dll. Selama masa kuliah mama juga mengajak aku untuk mencari uang agar tahu bahwa hidup itu perlu perjuangan dan tidak gratis. Aku diminta untuk mengajar (memberikan kursus) suling dan b. Inggris di sekolah tempat mama bekerja berhubung kepala sekolah mengetahui kemampuanku dalam bicara bahasa inggris dan memainkan musik instrumen suling. Mungkin kamu juga pernah mempunyai kesempatan untuk berkembang (di bidang apapun)? Jika ada yang kemudian mengatakan, “iya, kamu beruntung punya privileg”. Cobalah menjawabnya dalam sebuah pertanyaan, “Apapun itu, entah privileg, warisan, talenta, keterampilan, kemampuan atau kesempatan, jika kamu memilikinya namun tidak digunakan dengan baik, benar dan positif, apakah akan menghasilkan hal yang positif?”. Lumayan, honor yang aku dapat saat itu, bisa digunakan untuk menambah keperluanku yang lain. 

„Ayo selesaikan skripsinya supaya bisa dapat pekerjaan dan nggak bergantung sama laki-laki. Kamu kan nggak tahu apa nanti akan punya suami yang bisa memenuhi semua kebutuhanmu atau nggak“ demikian kalimat yang diucapkan Mama saat aku merasa kesal dengan koreksi-koreksi yang diminta dari dosen pembimbing skripsiku.

Setelah selesai kuliah dan mendapat pekerjaanpun, mamaku tetap mengeluarkan kata-kata ajaibnya, "yang aku perjuangkan sudah tercapai, kamu sudah punya sesuatu, gunakan itu sebaik-baiknya karena jalanmu masih panjang. Sekarang tunjukkan kemampuanmu, tunjukkan kalau kamu bisa mandiri, kuat dan pintar, jangan lemah supaya nanti nggak disepelekan laki-laki atau pasanganmu kelak“, kalimat yang dilontarkan inipun belum selesai dan masih dilanjutkan,

„Dan nanti kalau sudah menemukan pasangan dan menikah jangan lupa kodratmu sebagi wanita, tetap melayani suami, mengurus anak, tapi jangan pernah bergantung pada suami, tetap kerja ya karena kamu kan nggak tahu apa di masa depan nanti suami tetap akan baik atau setia. Kalau kamu nggak bisa apa-apa dan nggak punya apa-apa, nanti kamu gimana?" 

Ya! semua yang pernah mama katakan adalah benar termasuk kalimat berikut, “tidak semua wanita beruntung memiliki pasangan yang kaya, baik atau setia sampai mati apalagi kalau tidak punya wajah cantik”. Oh! kadang kalimat-kalimat seperti ini yang membuat aku mempertanyakan eksistensi, kualitas dan pola pikir pria macam apa yang meminta kesempurnaan seorang wanita. 

Dogma, budaya dan lingkungan sosial (orang tua, keluarga besar dan lingkungan sekitar) kadang membuat individu sulit untuk memiliki pola pikir yang mandiri. Kepribadian dan karakter individu berpengaruh juga dalam membentuk pola pikir yang mandiri. Pola pikir mempengaruhi cara kita berperilaku dan bereaksi terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi, mempengaruhi cara kita memahami, mengambil keputusan, menata dan mengatasi kehidupan. 

Pola pikir apa yang kamu miliki? Pola pikirpun bermacam-macam, bisa radikal, primitif, tradisional, liberal, modern, negatif atau positif. Ada tambahan lain? Seperti apa pola pikir kita, maka model kehidupan seperti itu pula lah yang kita wujudkan dan jalankan. Jika tidak berjalan dan berkembang seperti yang kita inginkan? Maka yang harus dianalisa dan dirubah lebih dulu adalah pola pikir kita sebagai wanita. Bisakah kita merubah situasi dan kondisi jika pola pikir kita masih sama?

Bagaimana dengan kata “kodrat wanita”? Kodrat wanita mengacu pada karakteristik dan peran biologis yang secara tradisional terkait dengan wanita, seperti kehamilan, persalinan dan menyusui. Hal ini sering dipahami sebagai “takdir alami” atau “karakteristik bawaan” dari seorang wanita. Lalu, bagaimana dengan takdir alami wanita yang tidak bisa memiliki anak? Apakah ini berarti tidak sesuai dengan kodrat wanita? Perdebatan tentang sejauh mana ide-ide “kodrat” ini sebenarnya dibangun secara sosial (oleh masyarakat). Apakah mereka cukup mencerminkan keragaman realitas kehidupan wanita? Jangan lupa bahwa wanita juga memiliki latar belakang, kemampuan dan lifestyle yang berbeda, sama seperti pria. Diskusi tentang kontribusi peran wanita atau “kodrat wanita” sering dikaitkan dengan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya pembagian tugas dan tanggungjawab antara pria dan wanita. Apakah pola pikir tradisional masih bisa digunakan di dunia yang sudah modern ini? Situasi dan kondisi dunia serta kehidupan di jaman yang modern ini selalu berubah, tidak tetap, semakin sulit! dan tidak semua laki-laki memiliki kemampuan untuk bisa menata dan mengatasi masalah kehidupan, bukan? Siapkah kita jika kecewa atau dikecewakan? Disinilah jawaban mengapa wanita tetap harus mandiri dan tidak menyerahkan kebahagiaan dan kehidupan seluruhnya kepada pasangan. Setiap wanita berhak memilih dan memutuskan untuk memiliki keluarga dan anak atau tidak, sambil meniti karir atau hanya menjadi ibu rumah tangga untuk mengurus suami dan anak-anaknya. Jika memutuskan untuk memiliki anak, maka persiapkanlah dengan sebaik-baiknya. Apa yang harus dipersiapkan silahkan baca artikel > Parenting ~ Intervensi atau Preventif? Apapun itu keputusan yang diambil, kita harus bertanggung jawab untuk menjalaninya dan mengatasinya bila tidak berjalan dengan baik. 

Wanita Mandiri?

Setiap wanita memiliki tujuan hidup yang berbeda-beda. Beragamnya latar belakang, kemampuan dan lifestyle yang dimiliki wanitapun bisa menjadi kekuatan untuk mengatasi kehidupan jika kita memiliki pola pikir mandiri. Wanita mandiri mempunyai pola pikir yang positif dan mengabaikan pikiran-pikiran negatif, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, sangat percaya diri dan memegang prinsip hidup untuk tidak bergantung pada orang lain (baik emosional maupun keuangan), berkontribusi di bidang yang ditekuni, menjadi dirinya sendiri dan tidak mengikuti arus, bisa meninggalkan lingkungan yang toxic dan tidak perduli dengan komentar negatif serta mampu mengambil keputusan, menata dan mengatasi kehidupan. Wanita yang memiliki pola pikir mandiri akan mencari pasangan yang memiliki chemistry dan frekuensi yang sama, yang juga memiliki pola pikir mandiri agar bisa mendapatkan dukungan yang positif dalam segala hal, termasuk jika ingin menambah pendidikan, meniti karir atau memiliki bisnis.

Wanita tidak Mandiri?

Wanita tidak mandiri mengacu pada wanita yang kurang memiliki kemandirian secara keuangan sehingga bergantung pada orang lain (keluarga, pasangan). Secara emosional? Sulit mengelola emosi sendiri sehingga cenderung bergantung pada orang lain untuk mendapatkan validasi atau dukungan emosional. Mereka juga tidak mandiri dalam pengambilan keputusan sehingga sulit membuat keputusan sendiri dan seringkali membutuhkan persetujuan atau arahan dari orang lain. Selain itu juga cenderung mencari perlindungan (sosok) yang kuat untuk melindungi dan mengambil alih tanggung jawab dalam hidupnya. Ketidakmandirian ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mungkin stereotip gender (pola pikir, budaya dan lingkungan masyarakat) yang seringkali menempatkan wanita pada peran yang lebih bergantung, sehingga wanita didorong untuk tidak mandiri (tidak perlu mandiri). Adanya trauma atau hubungan yang tidak sehat di masa lalu dapat membuat wanita takut untuk menjadi mandiri. Kurangnya kepercayaan diri dan rendahnya latar belakang pendidikan juga menyebabkan wanita cenderung menghindari tanggung jawab dan lebih memilih untuk bergantung pada orang lain. Terkadang ada yang memilih untuk tidak mandiri karena merasa nyaman dengan situasi yang ada, meskipun itu tidak ideal. Mungkin juga karena mereka memiliki lebih sedikit pilihan dalam hidup sehingga mengakibatkan keterbatasan dalam banyak hal dan ketergantungan emosional. 

Wanita yang memiliki pola pikir mandiri mampu mengambil kendali atas hidup mereka dan membuka pintu kebebasan juga kesuksesan. Kebebasan, kesuksesan dan daya tarik wanita mandiri kadang menimbulkan rasa cemburu bagi sebagian wanita yang tidak mandiri. Insecurity sebenarnya adalah penyebab utama kecemburuan. 


Segi negatif lain jika tidak mandiri?

Tekanan sosial dan status! Media sosial yang ramai memperlihatkan pentingnya standar pencapaian tertentu, bisa menjadi toxic bagi wanita tidak mandiri. Membandingkan diri dengan pencapaian orang lain sebenarnya juga berarti menilai diri sendiri. Jika merasa kurang dalam berbagai aspek, penilaian tersebut bisa memicu rasa iri dan cemburu sehingga komentar yang dikeluarkan menjadi sangat negatif dan tidak membangun. Kita semua tahu komentar yang negatif adalah salah satu hasil dari wujud pola pikir yang negatif. 

Keuangan! Kecemburuan sosial, dalam hal ini mengikuti arus dan gaya hidup orang lain tanpa melihat kemampuan yang dimiliki akan membuat kondisi keuangan pribadi atau keuangan keluarga tidak baik. Cara mengelola keuangan adalah keterampilan yang harus dimiliki setiap wanita agar stabilitas finansial masa depan bisa dicapai. Pengelolaan keuangan dengan bijak sejak dini seperti menghindari kebiasaan tidak baik (misalnya menghamburkan uang, hutang atau kredit), mencatat pendapatan dan pengeluaran agar pengeluaran tidak lebih besar dari pada pemasukan, hingga membuat skala prioritas kebutuhan serta berinvestasi dapat membangun fondasi keuangan yang kuat dan terhindar dari pemborosan yang tidak perlu.

Relationship! Cemburu pada wanita lain yang berlebihan hingga munculnya kekuatiran atau ketakutan ditinggal oleh pasangan akan membuat hubungan menjadi tidak sehat. Tidak pernah berani dan jujur mengungkapkan isi pikiran dan perasaan karena adanya ketergantungan finansial dan emosional sehingga sangat patuh pada orang yang dianggap telah menjaga dirinya atau membiayai hidupnya. Ketergantungan wanita tidak mandiri dapat membuat orang lain kesal dan bisa juga disalahgunakan (KDRT, selingkuh atau dimadu) oleh pasangan yang memiliki ego tinggi dan karakter tidak baik. 

Kesehatan Mental! Kondisi saat seorang wanita takut untuk menjadi indipenden, tidak mau keluar dari zona nyaman dan selalu mengharapkan seseorang akan menyelamatkannya saat dalam kesulitan atau selalu bersikap lemah seolah sangat membutuhkan bantuan dapat mengganggu kehidupan wanita itu sendiri. Tidak adanya validasi yang didapat dari keluarga atau lingkungan sekitar akan mengurangi rasa percaya diri. Kurangnya kemandirian dan tidak adanya pilihan atau kendali atas hidup dapat menyebabkan kekuatiran, kecemasan, ketakutan, stres hingga depresi dan isolasi sosial. Kondisi ini juga diperparah oleh stigma sosial yang menghambat wanita untuk mencari bantuan atau mengembangkan kemandirian.


Cara mengatasi?

Mencari dukungan profesional, dalam hal ini konseling atau terapi dapat membantu wanita yang mengalami masalah kesehatan mental untuk mengembangkan kemandirian dan mengatasi ketergantungan. Membangun jaringan dukungan sosial, dalam hal ini berinteraksi dengan teman, keluarga atau kelompok pendukung (grup terapi atau yang lainnya) dapat memberikan rasa aman dan mengurangi isolasi. Melakukan Self-care dengan memprioritaskan kesehatan fisik dan mental, seperti tidur yang cukup, olah raga dan makan makanan yang bergizi dapat meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan. Mengembangkan keterampilan dan minat baru lewat pembelajaran, pelatihan, kursus atau terlibat dalam kegiatan yang disukai dapat meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri. Jika sudah berani keluar dari lingkungan yang toxic, maka kesempatan untuk menambah pengetahuan dan pendidikan atau bekerja akan terbuka. Mengingat nilai tradisional atau patriarki masih sangat kuat di beberapa lingkungan masyarakat tentu akan ada penolakan atau pertentangan saat wanita ingin atau sudah lepas dari kondisi ini. Memutus rantai “tidak mengijinkan wanita untuk berkembang dan membuat putri kita menjadi mahluk lemah dan bergantung pada orang lain” adalah sangat penting. 

Setiap wanita memiliki pengalaman yang berbeda dan mencari bantuan profesional adalah langkah penting jika mengalami tekanan atau gangguan kesehatan mental.


Upload: 26 Juni 2025