Zum Hauptinhalt springen

Iknidimi Oases

About Life

"The fear of death follows from the fear of life. A man who lives fully is prepared to die at any time“ [Mark Twain]



Apa arti "Hidup"?

Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

What is Life? Beranjak dari Life Quote yang aku ambil dari Mark Twain, pernahkah kamu berfilosofi dan bertanya tentang „apa arti hidup?“. Kita sering mendengar kalimat, “Hidup ini penuh arti” atau sebaliknya, “Hidup ini tidak ada artinya”. Mungkin dua kalimat ini pernah kita katakan juga, apa sebenarnya maksud dan latar belakang dari dua kalimat ini, serta bagaimana situasi atau kondisi kita saat mengatakannya? Mengeksplore pola pikiran kita dan belajar banyak tentang filsafat hidup, mencari tahu siapa diri kita dan menyadari, bahwa kita memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan apa yang baik dan buruk bagi hidup kita, bahkan ketika kita mengalami tekanan. Life is a choice! Bagaimana kita menjalaninya adalah pilihan dan keputusan kita sendiri. Setiap individu memiliki prioritas dan tujuan hidup yang bisa berubah sewaktu-waktu seiring dengan perjalanan hidupnya. Makna hidup membantu kita untuk berkembang, dan kehidupan yang bermakna menghubungkan tujuan hidup kita dengan realitas kehidupan. Menurutku, jika kita berhasil menciptakan kehidupan yang bermakna maka kita dapat menikmati kepuasan hidup secara positif dan ketika menghadapi situasi kehidupan yang penuh tekanan, kita bisa beradaptasi dan mengatasinya. 

Menurut Frankl, makna hidup adalah konstruksi pribadi, sangat individual dan memiliki kompleksitas berbasis pengalaman yang mencakup komponen kognitif, emosional dan motivasi. Jika tidak ada makna, kita dapat jatuh ke dalam kekosongan, kebosanan, ketidakberdayaan, apatis dan tiada tujuan. Tidak adanya makna hidup akan mempengaruhi pikiran positif yang bisa mengganggu kesehatan mental kita. Stress, life crisis and mental illness seringkali tidak bisa diatasi dengan baik karena kurangnya kemampuan kognitif, emosional dan motivasi kita [Frankl, V:E: (1995). Der Mensch vor der Frage nach Sinn. München: Pipper]. Ada beberapa bentuk intervensi dalam psikologi humanistik yang bisa membantu kita untuk kembali menemukan arti hidup, yang akan aku bahas secara khusus di halaman "terapi"

Hidup tanpa orientasi akan membuat kita bingung saat melangkah. Mengetahui siapa diri kita, bagaimana kita berpikir dan apa yang kita butuhkan agar kita percaya diri dan yakin dengan keputusan yang kita ambil saat bertindak atau ketika mengalami situasi yang tidak mudah dihadapi adalah sangat penting. Aku punya beberapa pertanyaan yang bisa aku sharing di sini karena sangat membantuku untuk mendengarkan isi batin dan mengamati serta mengevaluasi pemikiran dan tindakanku sendiri. Aku menyebutnya “tool of my awareness”, mungkin ini juga bisa membantumu? 

So, this is my tool of awareness! 

Hal apa yang terpenting dalam hidupku? Tujuan atau targetku apa? Apakah aku punya prinsip, dan sangat konsekuen dalam menerapkannya? Apakah aku cukup fleksibel? Hal yang aku tidak inginkan apa? Apa yang membuatku merasa nyaman atau tidak? Menurutku hal apa yang benar dan baik? Apa kelemahanku yang membuatku kesal atau marah? Apa yang aku lakukan untuk mengatasi kelemahan, kecemasan atau ketakutanku? Bagaimana hubunganku dengan orang lain dan apa yang aku lakukan untuk orang lain? Apakah agama atau kepercayaan sangat penting dalam hidupku? Apakah ini mendorong atau menghambat langkahku untuk maju dan berkembang? Bagaimana pandanganku terhadap tema freedom, success, love & friendship, safe & healthy atau tema lain yang biasanya aku ambil dari pengalaman yang baru saja aku dapat. Dan yang terakhir adalah apakah aku bahagia? Apa artinya kebahagiaan untukku dan bagaimana aku menghabiskan waktuku?

Aku tahu bahwa tidak semua orang memiliki waktu untuk berfilosofi, tapi alangkah baiknya jika kita menyediakan sedikit saja waktu untuk menyendiri dan introspeksi... “ being alone and reflect our self”. Bagaimana caranya? Ini akan aku bahas lebih mendalam di tema “self-reflection” ya.

Kontemplasi tentang pikiran dan perasaan apa yang memicu situasi tertentu dalam diri kita? Apakah kita selalu meresponnya dengan tepat? Saat refleksi diri, kita akan menghadapi banyak pertanyaan dan menemukan jawaban yang bisa memacu kita untuk melangkah. Antara pikiran, perasaan dan motivasi harus saling interaksi. Tiga faktor tersebut harus saling mendukung, menyatu dan tidak bisa berlawanan arah atau saling bertentangan saat kita ingin mewujudkan sesuatu, melakukan sedikit perubahan dalam hidup atau mempelajari sesuatu hal yang baru. Informasi yang kurang tentang diri kita hanya akan menyabotasi diri kita untuk berkembang.


Upload: 25 maret 2025


zob

"Self-Reflection"

“It is always our own self that we find at the end of the journey. The sooner we face that self, the better”. [Ella Maillart]


Ditulis oleh: Lidia Ika Neumann

Apa itu Refleksi Diri?

Mencari tahu, menganalisa dan mengetahui mengapa kita berpikir, berkata dan berperilaku, kemudian merubah diri menjadi yang lebih baik merupakan proses refleksi diri. Proses ini terjadi secara internal karena komunikasi yang dilakukan adalah dengan diri kita sendiri. Refleksi diri yang mendalam mengacu pada proses pemikiran introspektif dan kontemplasi yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang pikiran, emosi, perilaku dan pengalaman kita. Ini melibatkan penggalian motivasi, keyakinan dan nilai-nilai dasar yang mendorong perilaku kita serta menganalisanya dengan kritis. Refleksi diri yang mendalam juga merupakan bagian penting dari konseling dan psikoterapi, terutama jika ini berhubungan dengan penemuan diri, pertumbuhan pribadi dan pengembangan kesadaran diri. 

Mengapa harus refleksi diri?

Apakah kita sering keluar atau lari dari realitas kehidupan, sedang hidup di dunia fantasi dan dikelilingi oleh dinding kebohongan, tidak hidup di dunia nyata karena terlalu menyakitkan atau tidak enak? Apakah selamanya kita bisa hidup di dunia fantasi? Bagaimana dengan kehidupan nyata yang kita hadapi? Mengapa kita tidak bisa membuka mata dan menata kehidupan nyata kita?

Di jaman modern ini yang ditandai dengan stimulasi konstan, proses yang instan, kemajuan teknologi yang cepat dan perlombaan pencapaian, kita membutuhkan “alat” yang ampuh agar kesejahteraan psikologis kita terjaga sehingga kita tetap bisa berkontribusi pada kehidupan yang lebih seimbang dan memuaskan. Sejauh mana kita menilai kata memuaskan sangatlah subjektif karena setiap individu memiliki prioritas dan tujuan hidup yang berbeda. Tidak seperti “merenung” yang sering kali berfokus pada aspek negatif dan dapat menyebabkan kecemasan dan ketakutan sehingga lari dari kenyataan atau berfantasi, refleksi diri adalah praktek konstruktif yang mendorong pertumbuhan pribadi dan kesadaran diri, berfokus pada hal-hal yang positif dan membangun pola pikir positif sehingga kekecewaan hanyalah bersifat sementara. Refleksi diri mendorong pertumbuhan pribadi, mendorong kita untuk menetapkan tujuan hidup dan mengevaluasi kemajuan kita. Dengan menilai kekuatan dan kelemahan kita, kita dapat mengidentifikasi area perbaikan dan mengambil langkah proaktif untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan kita. Proses peningkatan diri yang berkelanjutan ini mengembangkan pola pikir pertumbuhan yang penting untuk mencapai kesuksesan yang diinginkan, tidak hanya dalam jangka pendek tetapi juga dalam jangka panjang. Daniel Siegel mengatakan, “ketika dari waktu ke waktu kita terus berubah sebagai individu, narasi kita juga akan berkembang seperti cerminan sifat dinamis kehidupan dan hubungan antara manusia” [Daniel J. Siegel; The Developing Mind, Second Edition: How Relationships and the Brain Interact to Shape Who We Are, Published by The Guilford Press, 2012]. 

Cara berlatih refleksi diri

Menyediakan waktu untuk beristirahat dari rutinitas harian kita, meditasi, kontemplasi, introspeksi, menyendiri dengan tujuan untuk menganalisa peristiwa atau kejadian yang baru saja kita hadapi dan reaksi kita terhadap situasi dan kondisi tersebut. Mencari tempat yang tenang dan nyaman agar lebih fokus saat merefleksi diri adalah sebuah pilihan karena setiap individu memiliki kesukaan masing-masing. Aku lebih suka di tempat yang sunyi, dengan suasana alam, tanpa gangguan siapapun atau suara apapun, hanya suara alam yang terdengar, bagaimana dengan kamu? Durasi yang digunakan untuk merefleksi diri bisa dimulai dengan waktu singkat (contoh 10 menit/minggu) lalu ditingkatkan secara bertahap hingga setiap hari (jika waktu dan tempat memungkinkan). Membuat dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri sebagai panduan untuk mencari dan menemukan jawaban yang dibutuhkan, untuk mengetahui siapa diriku? Mengapa aku merasa seperti itu? Bagaimana perasaan atau pikiranku berubah? Apa yang berjalan dengan baik, dan apa yang bisa aku lakukan secara berbeda?

Ada beberapa bantuan pertanyaan yang sudah aku tulis dan dirangkum dalam “my tool of awareness”. Silahkan baca di artikel “Apa arti Hidup” (upload: 25 Maret 2025) ya. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan kita untuk mengenali di mana kemampuan kita bisa ditingkatkan dan dikembangkan. Merenungkan secara positif apa yang benar-benar penting bagi kita untuk menyelaraskan tindakan dengan keinginan terdalam kita dapat dilakukan dengan berbagai cara. Meditasi/Mindfulness, dapat dipilih bagi yang ingin berfokus pada pernafasan dan membiarkan pikiran mengalir untuk meningkatkan kesadaran diri. Journaling, menulis jurnal atau diary adalah salah satu cara untuk merefleksi diri, di mana kita menuliskan pikiran dan perasaan kita secara teratur untuk memproses pengalaman dan mengidentifikasi pola pikiran, emosi dan perilaku kita. Seni dapat digunakan sebagai medium kreatif untuk mengekspresikan diri misalnya dengan melukis, menggambar, memahat, Art-photography, menulis puisi atau lagu, menciptakan karya musik dengan alat instrumen. Demikian juga diskusi dengan orang terpercaya, untuk mendapatkan perspektif lain dari teman, mentor atau konselor. 

Tanpa refleksi diri, kita akan berjalan tanpa arah dan kehilangan motivasi, menciptakan hal-hal dengan konsekuensi yang tidak diinginkan dan gagal mencapai sesuatu yang bermanfaat. Berdasarkan refleksi kita mengevaluasi secara objektif, melihat diri tanpa bias, mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya, memahami dan mencari pola dalam perilaku, pikiran dan emosi kita, membuat rencana tindakan, membuat langkah-langkah spesifik untuk perbaikan diri di masa depan, membuat perubahan kecil yang signifikan dalam hidup kita. Ini akan menjadi awal dari pertumbuhan karena refleksi diri mendorong pembelajaran dan pengembangan diri, mengajak kita untuk berhenti berfokus pada situasi eksternal tetapi berfokus pada situasi internal yang dapat kita ubah.

Dalam refleksi diri, kita juga menerapkan rasa syukur dan optimis, meluangkan waktu untuk menghargai hal-hal baik dalam hidup kita. Jika dilakukan secara teratur dapat membantu mengurangi tingkat stres dan kecemasan karena dengan memahami sumber stres dan mengembangkan strategi koping (cara mengatasi) yang positif dan efektif, seseorang dapat mengelola tekanan hidup dengan lebih baik. Melalui refleksi diri, kita dapat mengamati reaksi emosional kita terhadap berbagai situasi, mengembangkan kontrol diri dan merespon dengan cara yang lebih konstruktif, mengevaluasi perilaku dalam hubungan dengan orang lain, mengidentifikasi apa yang perlu diperbaiki seperti misalnya empati dan cara berkomunikasi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hubungan interpersonal. Jadikan refleksi diri sebagai alat untuk mengembangkan fleksibilitas dan keterbukaan terhadap perubahan pola pikir, tentang asumsi dan keyakinan yang sudah tidak relevan dan menghambat perjalanan hidup kita. Keterampilan refleksi diri dapat dikembangkan seiring waktu dan pada akhirnya satu hal yang perlu diingat adalah refleksi tanpa tindakan yang konkret tidak akan menghasilkan perubahan.

Happy New Year 2026...

Sudahkah kita merefleksi diri dan membuat resolusi baru?

 

Upload: 1 Januari 2026